Monday, July 15, 2024

BUBUR ASYURA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ فِي سَائِرِ سَنَتِهِ

Barang siapa meluaskan belanjanya kepada keluarganya pada hari Asyura maka Allah akan meluaskan rizki kepadanya sepanjang tahun. [HR Baihaqi]

 

Catatan Alvers

 

Hadits di atas dikomentari oleh Imam Baihaqi sendiri bahwa sanad-sanad hadits ini meskipun lemah namun jika dikumpulkan satu sama lain maka menjadikan sanadnya kuat. [Syu’abul Iman] senada dengannya, As-Suyuthi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa karena begitu banyaknya jalur periwayatan hadits ini, maka derajat hadits ini menjadi hasan bahkan Syeikh Zainuddin Al-Iraqi dan Ibnu Nashiruddin menshahihkannya. Dan demikianlah sehingga masalah meluaskan belanja kepada keluarganya pada hari Asyura, secara ittifaq disunnahkan oleh ulama empat madzhab. Sebagaimana pernyataan As-Shawi al-Maliki dalam Hasyiyah Syarah Shagir, Sulaiman Jamal As-Sayfi’i dalam Hasyiyah Fathil Wahhab, Al-Bahuti al-Hambali dalam Syarah Muntahal Iradat, Ibnu Abidin Al-Hanafi dalam Raddul Muhtar.

 

Berbicara mengenai “Bubur Asyura” atau dalam bahasa jawa dikenal dengan sebutan “Jenang Suro” maka hal itu merupakan tradisi yang disebut muncul sejak era Sultan Agung di Kerajaan Mataram dan hingga kini masih bisa dijumpai di beberapa wilayah Jawa Timur, juga Madura, dan sebagian wilayah Jawa Tengah seperti Yogyakarta, Solo, hingga Semarang. Bubur tersebut disantap bersama keluarga dan kerabat terdekat dan juga dijadikan “ater-ater” (hadiah) yang dibagikan kepada tetangga atau juga dibagikan secara masal di masjid-masjid sebagai wujud sedekah dan berbagi rezeki kepada orang-orang yang membutuhkan. Jenang ini terbuat dari beras yang dimasak menjadi bubur ditambah dengan tujuh jenis kacang yang terdiri dari kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, kacang mede, dan beberapa kacang lainnya lalu disajikan dengan kuah santan kuning, tahu, orek tempe atau teri. Adapun lauknya bisa berbeda-beda tergantung daerahnya. [ngopibareng id]

 

Ternyata jenang suro tidak hanya sebatas tradisi, namun ia merupakan wujud mengamalkan anjuran untuk meluaskan belanja pada hari Asyura yang berdasar kepada hadits utama di atas “Barang siapa meluaskan belanjanya kepada keluarganya pada hari Asyura maka Allah akan meluaskan rizki kepadanya sepanjang tahun”. [HR Baihaqi]

 

Adapun wujud makanan jenang suro merupakan napak tilas dari kisah Nabi Nuh tatkala memasak makanan pada hari Asyuro. Dikisahkan dalam Ar-Raudl Al-Fa’iq bahwa Ketika Nabi Nuh dan orang-orang yang menyertainya turun dari kapal, mereka semua merasa lapar sedangkan perbekalan mereka sudah habis. Lalu Nabi Nuh memerintahkan mereka untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan mereka. Maka, diantara mereka ada yang membawa segenggam biji gandum, ada yang membawa segenggam biji adas, ada yang membawa segenggam biji kacang ful,ada yang membawa segenggam biji himmash (kacang putih), sehingga terkumpul tujuh macam biji-bijian. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Asyura. Selanjutnya Nabi Nuh membaca basmalah pada biji-bijian yang sudah terkumpul itu, lalu beliau memasaknya, setelah matang mereka menyantapnya bersama-sama sehingga semuanya merasa kenyang dengan lantaran berkah Nabi Nuh. Itulah seperti firman Allah SWT :

قِيلَ يَانُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ

 

Difirmankan, “Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. [QS. Hud : 48]

 

Makanan tersebut adalah makanan pertama yang dimasak di muka bumi pasca banjir bah, laku orang-orang menjadikannya sebagai sunnah pada hari Asyura dan di dalamnya terdapat pahala yang besar bagi yang melakukannya dan memberikannya kepada fakir miskin. [Hamisy I’anatut Thalibin]

 

Kejadian Nabi Nuh turun dari perahu bertepatan pada hari Asyura dilandaskan pada riwayat dari Abu Hurairah Ra, ia berkata : Suatu ketika Nabi SAW bertemu dengan sekelompok orang Yahudi yang mana mereka berpuasa di hari Asyura. Beliau bertanya : Puasa apakah yang kalian lakukan? Maka mereka menjawab :

هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي نَجَّى اللَّهُ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ الْغَرَقِ وَغَرَّقَ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِيِّ فَصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ

Hari ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari tenggelam dan Allah menenggelamkan Fir’aun. Hari ini juga merupakan hari dimana perahu Nabi Nuh bersandar di bukit Judiy (dengan selamat pasca banjir bah) maka Nabi Nuh dan Nabi Musa berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. [HR Ahmad]

 

Dan dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda :

وَفِي رَجَبٍ حَمَلَ اللَّهُ نُوحًا فِي السَّفِينَةِ فَصَامَ رَجَبًا ، وَأَمَرَ مَنْ مَعَهُ أَنْ يَصُومُوا ، فَجَرَتْ بِهِمُ السَّفِينَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، آخِرُ ذَلِكَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ أُهْبِطَ عَلَى الْجُودِيِّ فَصَامَ نُوحٌ وَمَنْ مَعَهُ وَالْوَحْشُ شُكْرًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Di bulan Rajab, Allah menaikkan Nabi Nuh ke atas perahu lalu ia berpuasa rajab dan memerintahkan pengikutnya untuk juga berpuasa. Perahu tersebut berjalan selama enam bulan dan berakhir pada hari Asyura dimana mereka turun di bukit Judiy. Lalau pada hari asyura tersebut Nabi Nuh dan pengikutnya beserta binatang-binatang yang bersama mereka semuanya berpuasa sebagai wujud syukur kepada Allah Azza Wa Jalla. [HR Thabrani]

 

Fath bin Syukhruf (Seorang Zahid yang wafat di baghdad pada tahun 273 H) berkata : " Setiap hari aku meremukkan roti untuk aku berikan kepada semut namun ketika tiba hari Asyura semut-semut itu tidak memakannya. Khalifah Abbasiah, Al-Qadir Billah juga menemukan hal yang sama sehingga ia bertanya kepada Abul Hasan Al-Qazwini Az-Zahid, dan ia menjawab

أنَّ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ تَصُومُهُ النَّمْلُ

bahwa hari Asyura adalah hari dimana semut itu berpuasa. [Latha’iful Ma’arif]

 

Ada kisah menarik yang diceritakan Jalaluddin As-suyuti bersumber dari Sahabat Umar bin Khattab RA. Ketika perahu bersandar di bukit Judiy dan beliau tinggal beberapa lama di bukit tersebut maka Nabi Nuh ingin turun dari bukit dan untuk memastikan keadaan maka beliau memanggil burung gagak untuk melihat dan melaporkan keadaan di muka bumi pasca banjir. Burung gagak pun langsung turun untuk melihat-lihat apa yang terjadi dimana ditemukan banyak mayat-mayat dari kaum Nabi Nuh yang menjadi korban banjir. Namun burung gagak terbilang lemot, lama sekali kembalinya sehingga Nabi Nuh melaknatnya. Lalu Nabi Nuh memanggil burung dara lalu ia datang dan bertengger di atas telapak tangan Nabi Nuh. Iapun mendapatkan perintah yang sama dan burung dara dengan cepat terbang dan cepat pula ia kembali sambil mengusap-ngusapkan bulu-bulunya ke paruhnya dan ia berkata : Silahkan turun ke bawah bukit karena tanah tenah menumbuhkan pepohonan. Mendengar laporan ini, Nabi Nuh berkata :

بَارَكَ اللهُ فِيْكَ وَفِي بَيْتٍ يُؤْوِيْكَ وَحَبَّبَكَ إِلَى النَّاسِ لَوْلَا أَنْ يَغْلِبَكَ النَّاسُ عَلَى نَفْسِكَ لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَ رَأْسَكَ مِنْ ذَهَبٍ

Semoga Allah melimpahkan keberkahan padamu dan kepada sarang tempat tinggalmu dan semoga Allah menjadikanmu disenangi oleh manusia. Jika saja manusia tidak menguasai dirimu niscaya aku akan memohon kepada Allah agar mengubah kepalamu menjadi emas. [Ad-Durrul Mantsur]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk semakin giat melakukan amalan-amalan sunnah Nabi SAW.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi SAW  menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariyah kita semua.

0 komentar:

Post a Comment