Thursday, April 3, 2025

‘IED, KEMBALI KEMANA?

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu [HR Bukhari dan Muslim].

 

Catatan Alvers

 

Idul fitri, Kata ‘ied lazim diartikan dengan kembali. Syeikh Abu Bakar Syatha berkata :

وَالْعِيْدُ مَأْخُوْذٌ مِنَ الْعَوْدِ لِتَكَرُّرِهِ وَعَوْدِهِ كُلَّ عَامٍ، أَوْ لِأَنَّ اللهَ تَعَالى يَعُوْدُ عَلَى عِبَادِهِ فِيْهِ بِالسُّرُوْرِ

Kata Id atau Idul tercetak dari kata Awdah yang artinya kembali. Hari raya dinamakan  “‘ied” yang artinya kembali dikarenakan hari raya akan kembali terulang setiap tahun, atau karena Allah Ta’ala mengembalikan kebahagiaan kepada hamba-hamba-Nya pada hari itu. [I’anatut Thalibin]

 

Kata “‘ied” yang diartikan kembali, juga disampaikan oleh Syeikh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyah Al-Bujairimi, Syeikh Ahmad Khatib As-Syirbini dalam Mughil Muhtaj, dan Syeikh Zakariya Al-Anshari dalam Fathul Wahhab. Saya sampaikan beberapa rujukan karena ada artikel yang menyatakan : “Kadang masih saja ada orang yang salah duga, mengira makna harfiyah idul fitri adalah kembali suci. Padahal kalau mau diartikan sebagai kembali, bahasa arabnya adalah “Awdah”. Di artikel Rumahfiqih com juga disebutkan : “Banyak orang kurang mengerti bahasa Arab, sehingga bentuk sharf dari suatu kata sering terpelintir dan terbolak-balik tidak karuan. Dalam bahasa Arab, kata kembali adalah 'aada - ya'uudu -'audatan. Memang sekilas hurufnya rada mirip, tetapi tentu saja berbeda jauh maknanya dari 'ied. Jadi kalau maksudnya mau bilang kembali, jangan sebut 'ied tetapi sebutlah 'audah”.

 

Pertanyannya, kalau kata ‘ied artinya kembali, memang kembali kemana? Syeikh Al-Bujairami berkata : Allah mengembalikan kebahagiaan kepada hamba-Nya pada hari raya karena hari raya itu jatuh setelah puasa ramadan (pada Idul fitri) dan Ibadah Haji (pada Idul Adha) dimana keduanya menjadi sebab terampuninya dosa sedangkan pengampunan itu adalah salah satu faktor kebahagiaan terbesar. [Hasyiyah Al-Bujairami]

 

Syeikh Badruddin Al-Ayni berkata : ‘ied (hari raya) adalah “As-Surur al-A’id” (kegembiraan yang kembali), makanya dikatakan “Yaumul ied” seakan-akan maknanya adalah hari ied menjadi kegembiraan dan kebahagiaan buat kita. Shigat jamak (plural)nya adalah “A’yad” hal ini supaya berbeda dengan kata “A’wad” yang merupakan jamak dari kata “ud” (yang berarti kayu). [Umdatul Qari] padahal secara qiyas semestinya kata ied dijamakkan dengan kata “A’wad” karena merupakan “(ajwaf) wawi” [Tafsir Al-Alusy]

 

Syeikh Syatha berkata : “Hari selepas ramadhan menjadi hari raya (idul fitri) untuk semua ummat ini dikarenakan banyaknya pembebasan (dari api neraka) sebelumnya. Hal ini sebagaimana hari raya idul Adha yang dinamakan juga sebagai “Al-Idul Akbar” (hari raya besar) karena saking banyaknya pembebasan (dari api neraka) di hari arafah sebelumnya dan tidak ada pembebasan yang lebih banyak darinya, Maka barang siapa diberikan pembebasan sebelumnya maka dialah yang merayakan hari raya. Adapun orang yang tidak mendapatkan pembebasan maka dia sangat dijauhkan (dari rahmat-Nya) dan mendapatkan ancaman”. [I’anatut Thalibin]

 

Lantas bagaimana dengan hari jumat yang juga dinamakan sebagai ied? Sisi kebahagiaan dalam idul fitri dan hari jumat itu berbeda. Kalau idul fitri itu kembalinya kebahagiaan secara “Hissy” (kongkrit) sementara kebahagiaan pada hari jumat itu bersifat Syar’iy (syariat), yaitu berupa banyaknya aktifitas ritual, waktu mustajabah, dan lain lain. [Tuhfatul Muhtaj] Implikasinya adalah dianjurkannya mandi di hari raya, baik bagi orang yang hendak mendatangi shalat ied atau tidak, sementara kalau mandi hari jumat hanya dianjurkan kepada orang yang mau mendatangi shalat jum’at. Mengapa berbeda? Karena mandi pada hari ied bertujuan untuk berhias dan menampakkan kebahagiaan sementara mandi pada hari jumat bertujuan untuk membersihkan diri dan tidak mengganggu orang lain (dengan bau badan). [Mughnil Muhtaj]

 

Di momen hari raya, tidak hanya bahagia tapi juga kita dianjurkan untuk menampakkan kebahagiaan semisal dengan berpakaian yang bagus. Al-Baihaqi meriwayatkan :

كَانَ (اِبْن عُمَر) يَلْبَسُ أَحْسَنَ ثِيَابِهِ فِي اَلْعِيدَيْنِ

Ibnu Umar memakai pakaian terbaiknya pada dua hari raya [Fathul Bari]

Mengapa bahagia harus ditampakkan di hari ied? Karena menampakkan bahagia saat itu merupakan syiar. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata :

انَّ إِظْهَارَ السُّرُورِ فِي الْأَعْيَادِ مِنْ شِعَارِ الدِّيْنِ

Sesungguhnya menampakkan kegembiraan di hari-hari raya merupakan bagian dari syiar agama Islam. [Fathul Bari]

 

Pertanyannya lagi, kalau kata ‘ied artinya kembali, memang kembali kemana? Kembali suci. Kok bisa? Iya, karena orang yang berpuasa akan diampuni dosa-dosanya. Sebagaimana pada hadits utama, Rasul SAW bersabda: “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. [HR Bukhari Muslim].

 

Hadits tersebut sebenarnya sudah cukup untuk menunjukkan pasca berpuasa di bulan ramadhan orang yang berpuasa itu disucikan dari dosa. Ada juga hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA dimana Rasul SAW bersabda: Orang yang  berpuasa akan diampuni pada akhir malam (dari bulan ramadhan). Ada yang bertanya : “Apakah malam itu adalah malam lailatul Qadar?”, Rasul Menjawab :

لَا وَلَكِنَّ الْعَامِلَ إِنَّمَا يُوَفَّى أَجْرُهُ إِذَا قَضَى عَمَلَهُ

 “Tidak, akan tetapi orang yang bekerja itu akan diberikan upahnya ketika ia telah selesai dari pekerjaannya”. [HR Ahmad]

 

Dan ada lagi riwayat dari Sahabat Aus Al-Anshari, Rasul bersabda : Ketika pagi hari pada hari raya telah tiba maka Malaikat berdiri di mulut-mulut gang, lalu mereka mengumumkan : “wahai kaum muslimin segeralah kalian berangkat pagi menuju tuhan yang maha pengasih yang memberikan anugerah kebaikan kepada kalian, lalu akan memberikan pahala yang besar, sungguh kalian telah diperintahkan puasa di siang hari, lalu kalian berpuasa dan kalian mentaati tuhan kalian, oleh karena itu terimalah anugerah hadiah untuk kalian!”, kemudian setelah mereka selesai melaksanakan Shalat Ied, maka ada seruan dari langit :

ارْجِعُوا إِلَى مَنَازِلِكُمْ رَاشِدِينَ ، قَدْ غُفِرَتْ ذُنُوبُكُمْ كُلُّهَا

“Kembalilah kalian ke tempat-tempat tinggal kalian dalam keadaan mendapat petunjuk kebenaran, sungguh telah diampuni dosa-dosa kalian semua”.

maka hari itu di langit disebut dengan “Yaumul Ja’izah” (hari anugerah).  [HR Thabrani]

 

Kata ‘ied artinya kembali, memang kembali kemana? Kembali ke fitri yang artinya tidak puasa atau berbuka. Ya karena makna fitri adalah demikian. Hal ini sebagaimana Rasul SAW bersabda :

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ

“Puasa (dilaksanakan pada) hari di mana kalian semua berpuasa. Dan berbuka (dilaksanakan pada) hari di mana kalian semua berbuka.” [HR Tirmidzi]

 

Itulah makanya sisi perbedaan hari raya idul fitri dan idul adha terletak pada wajibnya fitri (tidak berpuasa) atau larangan berpuasa pada hari tersebut. Sehingga ada yang menyatakan bahwa hari raya idul fitri menjadi hari raya kecil sementara idul adha menjadi hari raya besar ini merujuk kepada hari dilarang puasa. Kalau larangan puasa pada idul fitri berlaku hanya satu hari saja yaitu 1 syawwal sementara larangan puasa pada idul adha berlaku selama empat hari yaitu idul adha sendiri tanggal 10 Dzulhijjah, dan hari-hari tasyriq yang jatuh setelahnya yaitu tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk memperluas wawasan keagamaan sehingga tidak mudah untuk menyalahkan pemahaman orang lain bahkan khalayak ramai, selagi masih ada celah kemungkinan menuju kebenaran.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh] 

0 komentar:

Post a Comment