ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barang siapa
berpuasa di bulan Ramadhan dengan Iman dan mengharap pahala dari Allah maka
akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu [HR Bukhari dan Muslim].
Catatan Alvers
Idul fitri,
Kata ‘ied lazim diartikan dengan kembali. Syeikh Abu Bakar Syatha berkata :
وَالْعِيْدُ مَأْخُوْذٌ مِنَ الْعَوْدِ لِتَكَرُّرِهِ
وَعَوْدِهِ كُلَّ عَامٍ، أَوْ لِأَنَّ اللهَ تَعَالى يَعُوْدُ عَلَى عِبَادِهِ
فِيْهِ بِالسُّرُوْرِ
Kata Id atau
Idul tercetak dari kata Awdah yang artinya kembali. Hari raya dinamakan “‘ied” yang artinya kembali dikarenakan hari
raya akan kembali terulang setiap tahun, atau karena Allah Ta’ala mengembalikan
kebahagiaan kepada hamba-hamba-Nya pada hari itu. [I’anatut Thalibin]
Kata “‘ied”
yang diartikan kembali, juga disampaikan oleh Syeikh Sulaiman Al-Bujairimi
dalam Hasyiyah Al-Bujairimi, Syeikh Ahmad Khatib As-Syirbini dalam Mughil
Muhtaj, dan Syeikh Zakariya Al-Anshari dalam Fathul Wahhab. Saya sampaikan
beberapa rujukan karena ada artikel yang menyatakan : “Kadang masih saja ada
orang yang salah duga, mengira makna harfiyah idul fitri adalah kembali suci.
Padahal kalau mau diartikan sebagai kembali, bahasa arabnya adalah “Awdah”. Di artikel Rumahfiqih
com juga disebutkan : “Banyak
orang kurang mengerti bahasa Arab, sehingga bentuk sharf dari suatu kata sering
terpelintir dan terbolak-balik tidak karuan. Dalam bahasa Arab, kata kembali
adalah 'aada - ya'uudu -'audatan. Memang sekilas hurufnya rada mirip, tetapi
tentu saja berbeda jauh maknanya dari 'ied. Jadi kalau maksudnya mau bilang
kembali, jangan sebut 'ied tetapi sebutlah 'audah”.
Pertanyannya,
kalau kata ‘ied artinya kembali, memang kembali kemana? Syeikh Al-Bujairami
berkata : Allah mengembalikan kebahagiaan kepada hamba-Nya pada hari raya
karena hari raya itu jatuh setelah puasa ramadan (pada Idul fitri) dan Ibadah Haji
(pada Idul Adha) dimana keduanya menjadi sebab terampuninya dosa sedangkan
pengampunan itu adalah salah satu faktor kebahagiaan terbesar. [Hasyiyah
Al-Bujairami]
Syeikh
Badruddin Al-Ayni berkata : ‘ied (hari raya) adalah
“As-Surur al-A’id” (kegembiraan yang kembali), makanya dikatakan “Yaumul ied”
seakan-akan maknanya adalah hari ied menjadi kegembiraan dan kebahagiaan buat
kita. Shigat jamak (plural)nya adalah “A’yad” hal ini supaya berbeda dengan kata
“A’wad” yang merupakan jamak dari kata “ud” (yang berarti kayu). [Umdatul Qari]
padahal secara qiyas semestinya kata ‘ied dijamakkan dengan kata “A’wad” karena
merupakan “(ajwaf) wawi” [Tafsir Al-Alusy]
Syeikh Syatha
berkata : “Hari selepas ramadhan menjadi hari raya (idul fitri) untuk semua
ummat ini dikarenakan banyaknya pembebasan (dari api neraka) sebelumnya. Hal
ini sebagaimana hari raya idul Adha yang dinamakan juga sebagai “Al-Idul Akbar”
(hari raya besar) karena saking banyaknya pembebasan (dari api neraka) di hari
arafah sebelumnya dan tidak ada pembebasan yang lebih banyak darinya, Maka
barang siapa diberikan pembebasan sebelumnya maka dialah yang merayakan hari
raya. Adapun orang yang tidak mendapatkan pembebasan maka dia sangat dijauhkan
(dari rahmat-Nya) dan mendapatkan ancaman”. [I’anatut Thalibin]
Lantas
bagaimana dengan hari jumat yang juga dinamakan sebagai ‘ied? Sisi kebahagiaan dalam
idul fitri dan hari jumat itu berbeda. Kalau idul fitri itu kembalinya
kebahagiaan secara “Hissy” (kongkrit) sementara kebahagiaan pada hari jumat itu
bersifat Syar’iy (syariat), yaitu berupa banyaknya aktifitas ritual, waktu mustajabah, dan lain
lain. [Tuhfatul Muhtaj] Implikasinya adalah dianjurkannya mandi di hari raya,
baik bagi orang yang hendak mendatangi shalat ied atau tidak, sementara kalau
mandi hari jumat hanya dianjurkan kepada orang yang mau mendatangi shalat
jum’at. Mengapa berbeda? Karena mandi pada hari ‘ied bertujuan untuk berhias dan menampakkan
kebahagiaan sementara mandi pada hari jumat bertujuan untuk membersihkan diri dan tidak mengganggu orang lain (dengan
bau badan). [Mughnil Muhtaj]
Di momen hari
raya, tidak hanya bahagia tapi juga kita dianjurkan untuk menampakkan
kebahagiaan semisal dengan berpakaian yang bagus. Al-Baihaqi meriwayatkan :
كَانَ (اِبْن عُمَر) يَلْبَسُ أَحْسَنَ ثِيَابِهِ فِي اَلْعِيدَيْنِ
Ibnu Umar
memakai pakaian terbaiknya pada dua hari raya [Fathul Bari]
Mengapa
bahagia harus ditampakkan di hari ‘ied? Karena menampakkan bahagia saat itu
merupakan syiar. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata :
انَّ إِظْهَارَ السُّرُورِ فِي الْأَعْيَادِ مِنْ شِعَارِ
الدِّيْنِ
Sesungguhnya
menampakkan kegembiraan di hari-hari raya merupakan bagian dari syiar agama
Islam. [Fathul Bari]
Pertanyannya
lagi, kalau kata ‘ied artinya kembali, memang kembali kemana? Kembali suci. Kok
bisa? Iya, karena orang yang berpuasa akan diampuni dosa-dosanya. Sebagaimana
pada hadits utama, Rasul SAW bersabda: “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan
dengan iman dan
mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
[HR Bukhari Muslim].
Hadits tersebut
sebenarnya sudah cukup untuk menunjukkan pasca berpuasa di
bulan ramadhan orang yang berpuasa itu disucikan dari dosa. Ada juga hadits
yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA dimana Rasul SAW bersabda: Orang yang berpuasa akan diampuni pada akhir malam (dari
bulan ramadhan). Ada yang bertanya : “Apakah malam itu adalah malam lailatul
Qadar?”, Rasul Menjawab :
لَا وَلَكِنَّ الْعَامِلَ إِنَّمَا يُوَفَّى أَجْرُهُ إِذَا قَضَى عَمَلَهُ
“Tidak, akan tetapi orang yang bekerja itu
akan diberikan upahnya ketika ia telah selesai dari pekerjaannya”. [HR Ahmad]
Dan ada lagi riwayat
dari Sahabat ‘Aus
Al-Anshari, Rasul bersabda : Ketika pagi
hari pada hari raya telah tiba maka Malaikat berdiri di mulut-mulut
gang, lalu mereka mengumumkan
: “wahai kaum muslimin segeralah
kalian berangkat pagi menuju tuhan yang maha pengasih yang memberikan anugerah
kebaikan kepada kalian, lalu akan memberikan pahala yang besar, sungguh kalian
telah diperintahkan puasa di siang hari, lalu kalian berpuasa dan kalian
mentaati tuhan kalian, oleh karena itu terimalah anugerah hadiah untuk
kalian!”, kemudian setelah mereka selesai melaksanakan Shalat ‘Ied, maka ada seruan dari
langit :
ارْجِعُوا إِلَى مَنَازِلِكُمْ رَاشِدِينَ ، قَدْ غُفِرَتْ ذُنُوبُكُمْ كُلُّهَا
“Kembalilah
kalian ke tempat-tempat tinggal kalian dalam keadaan mendapat petunjuk
kebenaran, sungguh telah diampuni
dosa-dosa kalian semua”.
maka hari itu di langit disebut dengan
“Yaumul Ja’izah” (hari anugerah). [HR Thabrani]
Kata ‘ied
artinya kembali, memang kembali kemana? Kembali ke fitri yang artinya tidak
puasa atau berbuka. Ya karena makna fitri adalah demikian. Hal ini sebagaimana
Rasul SAW bersabda :
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ
“Puasa
(dilaksanakan pada) hari di mana kalian semua berpuasa. Dan berbuka
(dilaksanakan pada) hari di mana kalian semua berbuka.” [HR Tirmidzi]
Itulah makanya
sisi perbedaan hari raya idul fitri dan idul adha terletak pada wajibnya fitri
(tidak berpuasa) atau larangan berpuasa pada hari tersebut. Sehingga ada yang
menyatakan bahwa hari raya idul fitri menjadi hari raya kecil sementara idul
adha menjadi hari raya besar ini merujuk kepada hari dilarang puasa. Kalau
larangan puasa pada idul fitri berlaku hanya satu hari saja yaitu 1 syawwal
sementara larangan puasa pada idul adha berlaku selama empat hari yaitu idul
adha sendiri tanggal 10 Dzulhijjah, dan hari-hari tasyriq yang jatuh setelahnya
yaitu tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah.
Wallahu A’lam.
Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk memperluas wawasan
keagamaan sehingga tidak mudah untuk menyalahkan pemahaman orang lain bahkan
khalayak ramai, selagi masih ada celah kemungkinan menuju kebenaran.
Salam Satu
Hadits
Dr.H.Fathul
Bari.,SS.,M.Ag
Pondok
Pesantren Wisata
AN-NUR 2
Malang Jatim
Ngaji dan
Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok!
Mondok Itu Keren!
NB.
“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]
0 komentar:
Post a Comment