إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain." [HR Muslim]

أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]

الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص

"Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas)." [Ihya’ Ulumuddin]

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [HR Muslim]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.”[HR Ahmad]

Monday, January 19, 2026

BERKAH DARI NABI

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasul SAW Bersabda :

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Ya Allah, perbanyaklah harta (Anas) dan keturunannya dan berkahilah untuknya apa-apa yang engkau anugerahkan kepadanya.” [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Kita sering kali menemukan kata “Barokah”, “Barakah” atau “Berkah”. Barokah di dalam doa yang dipanjatkan, bahkan terdapat pada nama-nama usaha. Misalnya toko Barokah, CV Berkah Utama, Warung Barokah bahkan ada gerobak kaki lima bertuliskan “Cilok Barokah”. Apa sih arti barokah itu sendiri?. Syeikh Al-Bujairimi berkata : secara bahasa, Barokah itu artinya “Az-Ziayadah” (bertambah) dan An-Nama’ (berkembang). Dan secara istilah, Barokah itu adalah :

ثُبُوتُ الْخَيْرِ الْإِلَهِيِّ فِي الشَّيْءِ

Tetapnya kebaikan dari Tuhan pada sesuatu. [Hasyiyah Al-Bujairimi]

 

Untuk mendapatkan barokah, ada beberapa cara yang dilakukan. Pertama, dengan berdoa. Hal ini dicontohkan oleh Nabi SAW. Anas berkata: "Rasul SAW masuk ke dalam rumah Ummu Sulaim, maka Ummu Sulaim pun menghidangkan kurma dan keju.  Beliau bersabda : "Masukkanlah kembali kurma dan keju kalian ke tempatnya karena aku sedang berpuasa!" Kemudian beliau berdiri di salah satu sudut rumah dan shalat sunnah, kemudian beliau berdoa untuk kebaikan Ummu Sulaim dan keluarganya. Lalu Ummu Sulaim berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي خُوَيْصَّةً

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki permintaan “khuwayshah” (doa khusus)."

 

Beliau bersabda : "Apakah itu?" Ummu Sulaim menjawab: "(untuk) Pembantumu Anas." Maka Rasul SAW berdoa dan tidak ada suatu kebaikan dunia maupun akhirat kecuali beliau mintakan untukku. Dan Beliau berdoa : “ya Allah, berilah ia rizki berupa harta dan anak, dan berkahilah padanya." Maka aku termasuk orang yang paling banyak hartanya dari kalangan sahabat anshar.[HR Bukhari]

Dan Anas berkata :

فَوَاللَّهِ إِنَّ مَالِي لَكَثِيرٌ وَإِنَّ وَلَدِي وَوَلَدَ وَلَدِي لَيَتَعَادُّونَ عَلَى نَحْوِ الْمِائَةِ الْيَوْمَ

"Demi Allah, hartaku sungguh banyak, dan anak-anakku serta cucu-cucuku jumlahnya pada hari ini sekitar seratus orang." [HR Muslim]

 

Imam an-Nawawi berkata : Anas bin Malik adalah sahabat yang paling banyak memiliki anak... Abul Aliyah berkata tentang Anas : Ia memiliki sebuah kebun yang setiap tahun berbuah dua kali (di saat kebun lainnya setahun sekali), dan di dalamnya ada tanaman raihān (sejenis harum-haruman) yang baunya seperti bau misk (kasturi)... Adapun tentang panjang umur Anas : Telah tetap dalam riwayat sahih bahwa ketika hijrah ia berusia sembilan tahun... dan disebutkan oleh Khalifah (bin Khayyath) bahwa ia berusia 103 tahun. [Fathul Bari]

 

Tidak hanya lewat doa, dahulu para sahabat juga mencari barokah dari Nabi SAW dengan sarana air. Dalam hadits shahih, Anas RA menceritakan :

 

“Rasul SAW apabila selesai shalat Subuh, para pelayan Madinah datang membawa bejana-bejana mereka yang berisi air”.

فَمَا يُؤْتَى بِإِنَاءٍ إِلَّا غَمَسَ يَدَهُ فِيهَا

“Tidaklah didatangkan sebuah bejana pun melainkan beliau mencelupkan tangannya ke dalamnya”. [HR Muslim]

 

Dan Anas melanjutkan : “Kadang mereka datang kepadanya pada pagi yang dingin, lalu beliau tetap mencelupkan tangannya ke dalamnya.” [HR Muslim]

Imam Nawawi berkata : “Di dalam hadits itu terdapat bukti kesabaran Nabi SAW menanggung kesulitan demi kemaslahatan kaum muslimin.  Beliau memenuhi permintaan orang yang meminta kebutuhan atau keberkahan, dengan cara menyentuhkan tangannya atau mencelupkannya ke dalam air, sebagaimana disebutkan dalam riwayat.

وَفِيهِ التَّبَرُّك بِآثَارِ الصَّالِحِينَ

“Hadits ini juga menunjukkan bolehnya bertabarruk dengan bekas orang‑orang shaleh”.

“Dan menjelaskan bagaimana para sahabat bertabarruk dengan bekas Nabi SAW, termasuk dengan mencelupkan tangan beliau yang mulia ke dalam bejana air”. [Syarah Muslim]

 

Barokah juga didapat dengan mengusap kepala sambil berdoa. Al-Walid bin Uqbah berkata :  “Ketika Nabi Allah SAW menaklukkan Makkah, penduduk Makkah membawa anak anak mereka kepada beliau”.

فَيَدْعُو لَهُمْ بِالْبَرَكَةِ وَيَمْسَحُ رُءُوسَهُمْ

Beliau mendoakan mereka dengan keberkahan dan mengusap kepala mereka”. [HR Abu Dawud]

Dan Al Walid melanjutkan : Lalu aku pun dibawa kepadanya, sedangkan aku memakai khaluq (Parfum wanita). Maka beliau tidak menyentuhku karena khaluq itu.” [HR Abu Dawud]

 

Abu Musa RA berkata: "Aku bersama Rasul SAW ketika singgah bersama Bilal di Ji'ranah, yaitu suatu wilayah antara Makkah dan Madinah. Tak lama kemudian, seorang Arab badui datang dan berkata: “Tidak kau melaksanakan apa yang telah kamu janjikan kepadaku?” Maka Rasulullah pun bersabda kepadanya : “Ada berita gembira untukmu”. Namun orang itu malah berkata : “Kamu sudah banyak mengatakan kepadaku : Ada kabar kabar gembira untukmu”.

 

Kemudian Rasul berpaling darinya dan menghadap kepada Abu Musa dan Bilal seperti sikap orang yang sedang marah seraya bersabda : “Dia menolak berita gembira dariku. Sebaiknya kalian saja yang menerima kabar gembira itu”. Kedua sahabat itu menjawab : “Kami bersedia menerimanya ya Rasulullah!”.

 

Lalu Rasul meminta bejana berisi air. Lalu beliau basuh kedua tangan dan wajah dengan air tersebut. Kemudian beliau meludah ke dalam air itu seraya bersabda :

اشْرَبَا مِنْهُ وَأَفْرِغَا عَلَى وُجُوهِكُمَا وَنُحُورِكُمَا وَأَبْشِرَا

“Minumlah dari air ini dan tuangkanlah ke wajah dan leher kalian. Kemudian sampaikanlah kabar gembira!.”

Keduanya mengambil bejana tersebut dan melaksanakannya. Kemudian Ummu Salamah berkata dari balik tabir : Sisakanlah air tersebut untuk ibu kalian! (Ummu Salamah, Ummul Mu’minin). [HR Bukhari]

 

Dalam program “Bisikan Pagi Ini” kami tulis : “Barokah itu tidak selalu berupa materi tetapi bertambahnya kebaikan dalam segala kondisi. Ketika rizki banyak, jadi banyak pula syukurnya. Ketika rizki sedikit, sedikit pula mengeluhnya. Pun ketika diuji dengan sakit maka iapun lulus karena sabarnya. Wabarikli Fima A'thoiyt (Ya Allah, berkahilah pada semua pemberian-Mu)”.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk semakin mendalami ajaran Islam dengan tidak melulu mengandalkan akal pikiran namun dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Semoga berkah!

 

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Sunday, January 18, 2026

MELIHAT LAUT

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

”Laut itu suci airnya dan halal bangkainya." [HR Tirmidzi]

 

Catatan Alvers

 

Seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka asal Prancis. Bernama Mr. Jacques Yves Costeau. Yang dikenal dengan acara TV ‘Discovery Chanel’ menghabiskan hidupnya dengan menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia.

 

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur dengan air laut yang asin di sekelilingnya. Seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya. Ia berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinasi saja.  Jawaban tak kunjung ia dapatkan sehingga ia bertemu dengan seorang profesor muslim yang mengatakan fenomena tersebut telah disinggung dalam Quran yaitu :

وَهُوَ ٱلَّذِى مَرَجَ ٱلْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. [QS Al-Furqan : 53]

 

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Alquran itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Ia pun berpikir, Alquran ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Dengan seketika dia pun memeluk Islam. [baitulmaqdis com] Namun dikabarkan ia masuk Islam secara diam-diam, sehingga ketika ia meninggal pada tahun 1997, banyak orang terdekatnya yang tidak tahu. Dan Iapun dikabarkan dimakamkan di Katedral Notre Dame di Paris. [Republika]

 

Dahulu para mufassir menafsirkan dengan sederhana. Ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya itu diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Hal ini sebagaimana Al-Baidlawi (W. 1319 M) berkata : “Dan dikatakan bahwa yang dimaksud dengan laut tawar adalah sungai besar seperti Sungai Nil, sedangkan laut asin adalah laut besar. Adapun barzakh ialah daratan yang memisahkan keduanya.” [Tafsir Anwarut Tanzil] Namun Mufasir terlihat rancu ketika menafsirkan ayat berikutnya :

يَخْرُجُ مِنْهُمَا ٱللُّؤْلُؤُ وَٱلْمَرْجَانُ

Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. [QS Ar-Rahman : 22]

 

Kata “Minhuma” pada ayat ini menegaskan bahwa kedua-duanya (Laut dan sungai) mengeluarkan mutiara dan marjan namun kenyataannya air sungai tidak mengeluarkan mutiara dan marjan, hanya laut saja mengeluarkannya. Al-Baidlawi berkata : Ketika keduanya (air laut dan sungai) bertemu maka keduanya menjadi satu sehingga sekan-akan mutiara yang dikeluarkan dari salah satunya itu dianggap seperti keluar dari keduanya. [Tafsir Anwarut Tanzil] Adapun pada penemuan Costeau tadi yang menyatakan bahwa di bawah laut ada beberapa kumpulan mata air tawar segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur dengan air laut yang asin di sekelilingnya seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

 

Dengan demikian sekali lagi dapat dinyatakan bahwa Al-quran itu mustahil disusun oleh Nabi Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, dimana saat itu belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai kedalaman samudera. Dan beliaupun bukan seorang Ahli kelautan bahkan tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau pergi ke laut atau naik perahu. Meskipun ada hadits (dla’if) yang sering kita dengar yaitu :

عَلِّمُوا أَبْنَاءَكُمُ السِّبَاحَةَ

Ajarilah anak kalian berenang. [HR Baihaqi]

 

Seandainya nabi pernah ke lautpun maka itu tidaklah cukup untuk memaparakan deskripsi tentang fenomena laut seperti itu padahal Quran juga membicarakan keadaan laut ketika ombak mengepung kapal, serta keadaan dasar laut yang berupa kegelapan bertingkat-tingkat.

 

Adapun pada hadits utama di atas, Rasul SAW konteksnya menjawab pertanyaan. Abu Hurairah RA mendengar ada seorang lelaki bertanya : Wahai Rasulullah, Kami naik perahu di atas laut sedangkan kami membawa sedikit air tawar. Jika kami gunakan berwudlu maka kami akan kehausan (karena kehabisan air tawar). Lalu apakah boleh berwudlu dengan air laut?. Menjawab pertanyaan tersebut maka Rasul Saw bersabda : “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya." [HR Tirmidzi]

 

Maha benar Allah SWT yang berfirman : Allahlah yang telah menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. [12] Dia telah menundukkan (pula) untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. [QS Al-Jatsiyah : 13]

 

Dan memang ada hadits yang menyatakan memandang laut itu adalah ibadah, namun haditsnya dla’if (lemah) bahkan dalam situs dorar dinyatakan sebagai Fake hadith (Hadits maudlu’, palsu). Yaitu :

النَّظَرُ فِي ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ عِبَادَةٌ: النَّظَرُ فِي وَجْهِ الْأَبَوَيْنِ، وَفِي الْمُصْحَفِ، وَفِي الْبَحْرِ

Melihat kepada tiga hal adalah ibadah : Melihat wajah kedua orang tua, melihat mushaf (Al-Qur’an) dan melihat laut. [HR Ad-Daylami]

 

Al-Hakim (At-Tirmidzi) berkata : Telah datang dalam sebuah riwayat bahwa melihat laut adalah ibadah ... Hal ini dikarenakan dengan pandangan tersebut seseorang beribadah kepada Allah: ia melihat laut dengan pandangan kekuasaan Allah, melihat keluasan, lebar, dan ombaknya lalu mengambil pelajaran. [Faidlul Qadir]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk semakin meyakini kebenaran Al-Qur’an dengan tersingkapnya satu persatu fenomena alam yang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Friday, January 16, 2026

DURASI PERJALANAN ISRA’

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rasul SAW bersabda :

لَمَّا كَانَ لَيْلَةُ أُسْرِيَ بِي وَأَصْبَحْتُ بِمَكَّةَ فَظِعْتُ بِأَمْرِي وَعَرَفْتُ أَنَّ النَّاسَ مُكَذِّبِيَّ

"Ketika malam aku diperjalankan (Isra’), lalu aku kembali dan pagi harinya berada di Mekah, aku merasa khawatir dengan urusanku dan aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakanku”. [HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Ketika Anda bersama dengan seseorang di satu rumah di daerah malang lalu orang itu keluar sebentar sekira satu jam dan begitu ia datang, ia berkata : “Aku barusan keluar, pergi ke Jakarta dan sekarang sudah kembali lagi ke rumah ini.” Percayakah Anda dengan ucapannya? Semua orang pasti sepakat dan berkata : “Tentu tidak”. Di zaman sekarang dengan kemajuan teknologi dan kecanggihan transportasi, pesawat saja yang merupakan kendaraan tercepat saat ini masih membutuhkan ber jam-jam untuk rute pulang pergi malang – Jakarta (1000 KM).  Lantas bagaimana kisah Isra’ yang jaraknya lebih jauh dari itu yaitu sekitar 1,200 KM dan terjadi di zaman belum adanya pesawat dan sarana transportasi modern seperti saat ini.

 

Hal ini disadari oleh Rasul SAW sehingga beliau khawatir ketika akan menceritakan perjalanan Isra’ dan Mi’raj yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat itu, beliau khawatir orang-orang saat itu tidak percaya dan mendustakannya. Mengingat perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha normalnya membutuhkan waktu selama 40 hari. Ar-Razi berkata : “Nabi SAW pernah melakukan perjalanan malam dari Mekkah menuju Syam (Daerah yang meliputi beberapa negara termasuk palestina, negara di mana masjidil Aqsha berada) dalam waktu 40 Malam”. [Tafsir Mafatihul Gaib] Beliau bersabda dalam hadist utama : "Ketika malam aku diperjalankan (Isra’), lalu aku kembali dan pagi harinya berada di Mekah, aku merasa khawatir dengan urusanku dan aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakanku”. [HR Ahmad]

 

Dan ternyata benar, banyak orang mendustakan beliau bahkan orang yang beriman sebelumnyapun menjadi murtad karenanya. Ibnu Abbas RA berkata :

وَارْتَدَّ نَاسٌ مِمَّنْ كَانَ قَدْ آمَنَ بِهِ

Dan orang-orang yang sebelumnya telah beriman keluar dari Islam . {Tafsir Al-Kassyaf]

Durasi perjalanan Isra’ Mi’raj itu sangatlah sebentar. Disimpulkan dari kata “Lailan” pada Firman Allah :

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa... [QS Al-Isra’ : 1]

 

Kata “Lailan” (Malam) disebutkan dengan bentuk nakirah, itu memiliki faidah. Al-Baidlawi berkata :

وَفَائِدَتُهُ الدّلَالَةُ بِتَنْكِيْرِهِ عَلَى تَقْلِيْلِ مُدَّةِ الْإِسْرَاءِ

Faidahnya adalah menunjukkan kepada sebentarnya waktu perjalanan Isra’ tersebut. [Tafsir Anwarut Tanzil]

 

Al-Khufaji menguraikan : Kata (sebelumnya yaitu) “Asra” itu sendiri berarti perjalanan yang di lakukan pada malam hari saja (tidak siang hari). Dengan demikian ia tidak butuh pada kata “lailan” (malam) setelahnya. Tidak ada manfaatnya juga kata “Lailan” dibuat sebagai taukid (penegasan), atau melepaskan makna waktu malam dari kata “Isra” (perjalanan malam) sehingga dapat ditambahkan kata “Lailan” (malam) setelahnya. [Hasyiyatus Syihab]

 

Jika demikian maka kata “Lailan” sudah semestinya dimaknai sebagai “sebagian yang sedikit dari waktu malam”. Lantas sebarapa durasi waktu Isra’ itu? Ulama berbeda beda dalam mengungkapkan kata yang menyiratkan betapa sebentarnya durasi Isra’. Al-Kannauji berkata : “Pengarang kitab al-Kasysyaf (yaitu al-Zamakhsyari) berdalil bahwa kata laylan (malam) menunjukkan makna sebagian (bukan seluruh malam), berdasarkan bacaan (qirā’ah) Abdullah (Ibnu Mas‘ud) dan Hudzaifah yang membaca minal-layl (dari malam),

أَيْ فِي جُزْءٍ مِنَ اللَّيْلِ، قِيلَ قَدْرَ أَرْبَعِ سَاعَاتٍ، وَقِيلَ ثَلَاثٍ، وَقِيلَ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ.

yakni pada sebagian dari waktu malam. Ada yang mengatakan lamanya sekitar empat jam, ada yang mengatakan tiga jam, dan ada pula yang mengatakan kurang dari itu.” [Tafsir Fathul Bayan]

 

Bahkan lebih cepat dari itu, Syeikh Abduurahman Ad-Diba’iy berkata :

ثُمَّ أَرُدُّه مِنَ الْعَرْشِ. قَبْلَ أَنْ يَّبْرُدَ الْفَرْشُ. وَقَدْ نَالَ جَمِيْعَ الْمَاٰرِبِ.

Kemudian Aku kembalikan dia dari ‘Arsy (ke bumi), sebelum dingin alas tidurnya. Benar-benar dia telah memperoleh semua tujuannya. [Maulid Ad-Diba’iy]

 

Dalam lanjutan hadits utama, Rasul SAW bersabda : Lalu Aku duduk menyendiri dengan perasaan sedih. Lalu lewatlah musuh Allah, Abu Jahl, ia datang dan duduk di sampingku. Ia berkata dengan nada mengejek: ‘Apakah ada sesuatu yang terjadi?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Ia bertanya: ‘Apa itu?’ Aku menjawab: ‘Aku telah diperjalankan malam tadi.’ Ia bertanya: ‘Ke mana?’ Aku menjawab: ‘Ke Baitul Maqdis.’ Ia berkata: ‘Lalu engkau pagi ini berada di tengah-tengah kami?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Abu Jahl tidak menampakkan keberadaan dirinya yang mendustakan kisah tersebut, karena Abu Jahl khawatir nabi mengingkari kisah tersebut di hadapan kaumnya. Ia berkata: ‘Bagaimana kalau aku panggil kaummu, apakah engkau akan menceritakan kepada mereka apa yang engkau ceritakan kepadaku?’ Rasul SAW menjawab: ‘Ya.’ Maka Abu Jahl berseru: ‘Wahai sekalian Bani Ka‘b bin Lu’ayy!’ Maka orang-orang pun berkumpul dan duduk bersama kami. Abu Jahl berkata: ‘Ceritakan kepada kaummu apa yang engkau ceritakan kepadaku.’

 

Rasul SAW bersabda: ‘Aku telah diperjalankan malam tadi.’ Mereka bertanya: ‘Ke mana?’ Aku menjawab: ‘Ke Baitul Maqdis.’ Mereka berkata: ‘Lalu engkau pagi ini berada di tengah-tengah kami?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Maka ada yang bertepuk tangan, ada yang meletakkan tangan di kepala karena heran terhadap apa yang mereka anggap dusta.

Mereka berkata: ‘Apakah engkau bisa menggambarkan kepada kami masjid itu? Di antara kami ada yang pernah bepergian ke negeri itu dan melihat masjidnya.’ Rasul SAW bersabda: ‘Aku pun mulai menggambarkan, terus-menerus aku menggambarkan hingga sebagian gambaran menjadi samar bagiku. Maka dibawakanlah masjid itu (ditampakkan oleh Allah) sehingga aku melihatnya, lalu diletakkan dekat rumah ‘Iqal atau ‘Uqail. Maka aku pun menggambarkannya sementara aku melihat kepadanya. Ada pula beberapa detail yang tidak aku ingat. Maka orang-orang (yang pernah sampai ke baitul maqdis) berkata:

أَمَّا النَّعْتُ فَوَاللَّهِ لَقَدْ أَصَابَ

‘Adapun gambaran itu, demi Allah, sungguh engkau benar adanya.’” [HR Ahmad]

 

Maka membicarakan peristiwa Isra Mi’raj tidak bisa dengan logika ansich namun dengan dogma dimana Allah berfirman  :

وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ

Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. [QS Al Qamar : 50]

 

Dan firman Allah :

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. [Yasin: 82]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk meyakini kebenaran kisah Isra Mi’raj sebagai bukti atas kemaha kuasaan Allah SWT sehingga kita bertambah imannya dan dapat mengambil hikmahnya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]