إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain." [HR Muslim]

أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]

الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص

"Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas)." [Ihya’ Ulumuddin]

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [HR Muslim]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.”[HR Ahmad]

Sunday, January 18, 2026

MELIHAT LAUT

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

”Laut itu suci airnya dan halal bangkainya." [HR Tirmidzi]

 

Catatan Alvers

 

Seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka asal Prancis. Bernama Mr. Jacques Yves Costeau. Yang dikenal dengan acara TV ‘Discovery Chanel’ menghabiskan hidupnya dengan menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia.

 

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur dengan air laut yang asin di sekelilingnya. Seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya. Ia berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinasi saja.  Jawaban tak kunjung ia dapatkan sehingga ia bertemu dengan seorang profesor muslim yang mengatakan fenomena tersebut telah disinggung dalam Quran yaitu :

وَهُوَ ٱلَّذِى مَرَجَ ٱلْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. [QS Al-Furqan : 53]

 

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Alquran itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Ia pun berpikir, Alquran ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Dengan seketika dia pun memeluk Islam. [baitulmaqdis com] Namun dikabarkan ia masuk Islam secara diam-diam, sehingga ketika ia meninggal pada tahun 1997, banyak orang terdekatnya yang tidak tahu. Dan Iapun dikabarkan dimakamkan di Katedral Notre Dame di Paris. [Republika]

 

Dahulu para mufassir menafsirkan dengan sederhana. Ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya itu diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Hal ini sebagaimana Al-Baidlawi (W. 1319 M) berkata : “Dan dikatakan bahwa yang dimaksud dengan laut tawar adalah sungai besar seperti Sungai Nil, sedangkan laut asin adalah laut besar. Adapun barzakh ialah daratan yang memisahkan keduanya.” [Tafsir Anwarut Tanzil] Namun Mufasir terlihat rancu ketika menafsirkan ayat berikutnya :

يَخْرُجُ مِنْهُمَا ٱللُّؤْلُؤُ وَٱلْمَرْجَانُ

Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. [QS Ar-Rahman : 22]

 

Kata “Minhuma” pada ayat ini menegaskan bahwa kedua-duanya (Laut dan sungai) mengeluarkan mutiara dan marjan namun kenyataannya air sungai tidak mengeluarkan mutiara dan marjan, hanya laut saja mengeluarkannya. Al-Baidlawi berkata : Ketika keduanya (air laut dan sungai) bertemu maka keduanya menjadi satu sehingga sekan-akan mutiara yang dikeluarkan dari salah satunya itu dianggap seperti keluar dari keduanya. [Tafsir Anwarut Tanzil] Adapun pada penemuan Costeau tadi yang menyatakan bahwa di bawah laut ada beberapa kumpulan mata air tawar segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur dengan air laut yang asin di sekelilingnya seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

 

Dengan demikian sekali lagi dapat dinyatakan bahwa Al-quran itu mustahil disusun oleh Nabi Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, dimana saat itu belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai kedalaman samudera. Dan beliaupun bukan seorang Ahli kelautan bahkan tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau pergi ke laut atau naik perahu. Meskipun ada hadits (dla’if) yang sering kita dengar yaitu :

عَلِّمُوا أَبْنَاءَكُمُ السِّبَاحَةَ

Ajarilah anak kalian berenang. [HR Baihaqi]

 

Seandainya nabi pernah ke lautpun maka itu tidaklah cukup untuk memaparakan deskripsi tentang fenomena laut seperti itu padahal Quran juga membicarakan keadaan laut ketika ombak mengepung kapal, serta keadaan dasar laut yang berupa kegelapan bertingkat-tingkat.

 

Adapun pada hadits utama di atas, Rasul SAW konteksnya menjawab pertanyaan. Abu Hurairah RA mendengar ada seorang lelaki bertanya : Wahai Rasulullah, Kami naik perahu di atas laut sedangkan kami membawa sedikit air tawar. Jika kami gunakan berwudlu maka kami akan kehausan (karena kehabisan air tawar). Lalu apakah boleh berwudlu dengan air laut?. Menjawab pertanyaan tersebut maka Rasul Saw bersabda : “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya." [HR Tirmidzi]

 

Maha benar Allah SWT yang berfirman : Allahlah yang telah menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. [12] Dia telah menundukkan (pula) untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. [QS Al-Jatsiyah : 13]

 

Dan memang ada hadits yang menyatakan memandang laut itu adalah ibadah, namun haditsnya dla’if (lemah) bahkan dalam situs dorar dinyatakan sebagai Fake hadith (Hadits maudlu’, palsu). Yaitu :

النَّظَرُ فِي ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ عِبَادَةٌ: النَّظَرُ فِي وَجْهِ الْأَبَوَيْنِ، وَفِي الْمُصْحَفِ، وَفِي الْبَحْرِ

Melihat kepada tiga hal adalah ibadah : Melihat wajah kedua orang tua, melihat mushaf (Al-Qur’an) dan melihat laut. [HR Ad-Daylami]

 

Al-Hakim (At-Tirmidzi) berkata : Telah datang dalam sebuah riwayat bahwa melihat laut adalah ibadah ... Hal ini dikarenakan dengan pandangan tersebut seseorang beribadah kepada Allah: ia melihat laut dengan pandangan kekuasaan Allah, melihat keluasan, lebar, dan ombaknya lalu mengambil pelajaran. [Faidlul Qadir]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk semakin meyakini kebenaran Al-Qur’an dengan tersingkapnya satu persatu fenomena alam yang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Friday, January 16, 2026

DURASI PERJALANAN ISRA’

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rasul SAW bersabda :

لَمَّا كَانَ لَيْلَةُ أُسْرِيَ بِي وَأَصْبَحْتُ بِمَكَّةَ فَظِعْتُ بِأَمْرِي وَعَرَفْتُ أَنَّ النَّاسَ مُكَذِّبِيَّ

"Ketika malam aku diperjalankan (Isra’), lalu aku kembali dan pagi harinya berada di Mekah, aku merasa khawatir dengan urusanku dan aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakanku”. [HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Ketika Anda bersama dengan seseorang di satu rumah di daerah malang lalu orang itu keluar sebentar sekira satu jam dan begitu ia datang, ia berkata : “Aku barusan keluar, pergi ke Jakarta dan sekarang sudah kembali lagi ke rumah ini.” Percayakah Anda dengan ucapannya? Semua orang pasti sepakat dan berkata : “Tentu tidak”. Di zaman sekarang dengan kemajuan teknologi dan kecanggihan transportasi, pesawat saja yang merupakan kendaraan tercepat saat ini masih membutuhkan ber jam-jam untuk rute pulang pergi malang – Jakarta (1000 KM).  Lantas bagaimana kisah Isra’ yang jaraknya lebih jauh dari itu yaitu sekitar 1,200 KM dan terjadi di zaman belum adanya pesawat dan sarana transportasi modern seperti saat ini.

 

Hal ini disadari oleh Rasul SAW sehingga beliau khawatir ketika akan menceritakan perjalanan Isra’ dan Mi’raj yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat itu, beliau khawatir orang-orang saat itu tidak percaya dan mendustakannya. Mengingat perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha normalnya membutuhkan waktu selama 40 hari. Ar-Razi berkata : “Nabi SAW pernah melakukan perjalanan malam dari Mekkah menuju Syam (Daerah yang meliputi beberapa negara termasuk palestina, negara di mana masjidil Aqsha berada) dalam waktu 40 Malam”. [Tafsir Mafatihul Gaib] Beliau bersabda dalam hadist utama : "Ketika malam aku diperjalankan (Isra’), lalu aku kembali dan pagi harinya berada di Mekah, aku merasa khawatir dengan urusanku dan aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakanku”. [HR Ahmad]

 

Dan ternyata benar, banyak orang mendustakan beliau bahkan orang yang beriman sebelumnyapun menjadi murtad karenanya. Ibnu Abbas RA berkata :

وَارْتَدَّ نَاسٌ مِمَّنْ كَانَ قَدْ آمَنَ بِهِ

Dan orang-orang yang sebelumnya telah beriman keluar dari Islam . {Tafsir Al-Kassyaf]

Durasi perjalanan Isra’ Mi’raj itu sangatlah sebentar. Disimpulkan dari kata “Lailan” pada Firman Allah :

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa... [QS Al-Isra’ : 1]

 

Kata “Lailan” (Malam) disebutkan dengan bentuk nakirah, itu memiliki faidah. Al-Baidlawi berkata :

وَفَائِدَتُهُ الدّلَالَةُ بِتَنْكِيْرِهِ عَلَى تَقْلِيْلِ مُدَّةِ الْإِسْرَاءِ

Faidahnya adalah menunjukkan kepada sebentarnya waktu perjalanan Isra’ tersebut. [Tafsir Anwarut Tanzil]

 

Al-Khufaji menguraikan : Kata (sebelumnya yaitu) “Asra” itu sendiri berarti perjalanan yang di lakukan pada malam hari saja (tidak siang hari). Dengan demikian ia tidak butuh pada kata “lailan” (malam) setelahnya. Tidak ada manfaatnya juga kata “Lailan” dibuat sebagai taukid (penegasan), atau melepaskan makna waktu malam dari kata “Isra” (perjalanan malam) sehingga dapat ditambahkan kata “Lailan” (malam) setelahnya. [Hasyiyatus Syihab]

 

Jika demikian maka kata “Lailan” sudah semestinya dimaknai sebagai “sebagian yang sedikit dari waktu malam”. Lantas sebarapa durasi waktu Isra’ itu? Ulama berbeda beda dalam mengungkapkan kata yang menyiratkan betapa sebentarnya durasi Isra’. Al-Kannauji berkata : “Pengarang kitab al-Kasysyaf (yaitu al-Zamakhsyari) berdalil bahwa kata laylan (malam) menunjukkan makna sebagian (bukan seluruh malam), berdasarkan bacaan (qirā’ah) Abdullah (Ibnu Mas‘ud) dan Hudzaifah yang membaca minal-layl (dari malam),

أَيْ فِي جُزْءٍ مِنَ اللَّيْلِ، قِيلَ قَدْرَ أَرْبَعِ سَاعَاتٍ، وَقِيلَ ثَلَاثٍ، وَقِيلَ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ.

yakni pada sebagian dari waktu malam. Ada yang mengatakan lamanya sekitar empat jam, ada yang mengatakan tiga jam, dan ada pula yang mengatakan kurang dari itu.” [Tafsir Fathul Bayan]

 

Bahkan lebih cepat dari itu, Syeikh Abduurahman Ad-Diba’iy berkata :

ثُمَّ أَرُدُّه مِنَ الْعَرْشِ. قَبْلَ أَنْ يَّبْرُدَ الْفَرْشُ. وَقَدْ نَالَ جَمِيْعَ الْمَاٰرِبِ.

Kemudian Aku kembalikan dia dari ‘Arsy (ke bumi), sebelum dingin alas tidurnya. Benar-benar dia telah memperoleh semua tujuannya. [Maulid Ad-Diba’iy]

 

Dalam lanjutan hadits utama, Rasul SAW bersabda : Lalu Aku duduk menyendiri dengan perasaan sedih. Lalu lewatlah musuh Allah, Abu Jahl, ia datang dan duduk di sampingku. Ia berkata dengan nada mengejek: ‘Apakah ada sesuatu yang terjadi?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Ia bertanya: ‘Apa itu?’ Aku menjawab: ‘Aku telah diperjalankan malam tadi.’ Ia bertanya: ‘Ke mana?’ Aku menjawab: ‘Ke Baitul Maqdis.’ Ia berkata: ‘Lalu engkau pagi ini berada di tengah-tengah kami?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Abu Jahl tidak menampakkan keberadaan dirinya yang mendustakan kisah tersebut, karena Abu Jahl khawatir nabi mengingkari kisah tersebut di hadapan kaumnya. Ia berkata: ‘Bagaimana kalau aku panggil kaummu, apakah engkau akan menceritakan kepada mereka apa yang engkau ceritakan kepadaku?’ Rasul SAW menjawab: ‘Ya.’ Maka Abu Jahl berseru: ‘Wahai sekalian Bani Ka‘b bin Lu’ayy!’ Maka orang-orang pun berkumpul dan duduk bersama kami. Abu Jahl berkata: ‘Ceritakan kepada kaummu apa yang engkau ceritakan kepadaku.’

 

Rasul SAW bersabda: ‘Aku telah diperjalankan malam tadi.’ Mereka bertanya: ‘Ke mana?’ Aku menjawab: ‘Ke Baitul Maqdis.’ Mereka berkata: ‘Lalu engkau pagi ini berada di tengah-tengah kami?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Maka ada yang bertepuk tangan, ada yang meletakkan tangan di kepala karena heran terhadap apa yang mereka anggap dusta.

Mereka berkata: ‘Apakah engkau bisa menggambarkan kepada kami masjid itu? Di antara kami ada yang pernah bepergian ke negeri itu dan melihat masjidnya.’ Rasul SAW bersabda: ‘Aku pun mulai menggambarkan, terus-menerus aku menggambarkan hingga sebagian gambaran menjadi samar bagiku. Maka dibawakanlah masjid itu (ditampakkan oleh Allah) sehingga aku melihatnya, lalu diletakkan dekat rumah ‘Iqal atau ‘Uqail. Maka aku pun menggambarkannya sementara aku melihat kepadanya. Ada pula beberapa detail yang tidak aku ingat. Maka orang-orang (yang pernah sampai ke baitul maqdis) berkata:

أَمَّا النَّعْتُ فَوَاللَّهِ لَقَدْ أَصَابَ

‘Adapun gambaran itu, demi Allah, sungguh engkau benar adanya.’” [HR Ahmad]

 

Maka membicarakan peristiwa Isra Mi’raj tidak bisa dengan logika ansich namun dengan dogma dimana Allah berfirman  :

وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ

Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. [QS Al Qamar : 50]

 

Dan firman Allah :

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. [Yasin: 82]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk meyakini kebenaran kisah Isra Mi’raj sebagai bukti atas kemaha kuasaan Allah SWT sehingga kita bertambah imannya dan dapat mengambil hikmahnya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Thursday, January 15, 2026

NABI JUGA SEDIH

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Anas Bin Malik RA, bahwasannya Rasul SAW bersabda :

إنَ عِظَمَ الجَزَاءِ مِنْ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ.

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sebanding dengan besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.” [HR Turmudzi]

 

Catatan Alvers

 

Anda punya masalah? Tenang, semua orang punya masalah tak terkecuali sang panutan, Rasul SAW. Di masa awal dakwah, beliau bahkan keluarga besarnya pernah diboikot. Al-Mawardi dalam Al-Hawi Al-Kabir berkata : “Quraisy sepakat dan berjanji untuk memboikot Bani Hasyim : tidak menikahi mereka, tidak berdagang dengan mereka, dan tidak menolong mereka dalam urusan apapun.. Mereka menuliskan perjanjian itu dalam sebuah lembaran dan menggantungnya di atap Ka‘bah. Lalu Abu Thalib mengumpulkan seluruh Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib, baik yang Muslim maupun yang kafir, dan mengajak mereka untuk bersatu dan masuk ke dalam Syi‘b (sebuah lembah yang terdapat di antara dua gunung). Mereka pun menyetujui kecuali Abu Lahab dan anak-anaknya, karena mereka berpihak kepada Quraisy. Rasul SAW tinggal di Syi‘b bersama Abu Thalib dan seluruh Bani Hasyim serta Bani al-Muththalib selama tiga tahun, tidak ada makanan yang sampai kepada mereka kecuali secara sembunyi-sembunyi, dan tidak ada seorang pun yang masuk menemui mereka kecuali dengan bersembunyi.”

 

“Hingga akhirnya dari kalangan Quraisy, yaitu Hisham bin ‘Amr mulai berbicara ... untuk mencela perbuatan buruk mereka berupa pemutusan silaturahmi terhadap Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib. Mereka pun setuju ... untuk membatalkan lembaran itu... Lalu lembaran itu dibawa dari atap Ka‘bah, ternyata telah dimakan rayap kecuali tulisan mereka: “Bismikallahumma” (Dengan nama-Mu ya Allah). Tangan penulisnya, yaitu Manshur bin ‘Ikrimah, menjadi lumpuh. Maka keluarlah Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib bersama Rasul SAW ke Makkah, kembali seperti keadaan semula”. ).” [Al-Hawi Al-Kabir]

 

Pernahkah Anda susah?, sedih?, galau? Jangankan Anda, Rasul SAW juga pernah sedih. Al-Mawardi melanjutkan : Kemudian Rasul SAW setelah keluar dari Syi‘b tetap dalam keadaan seperti sebelumnya, tidak ada gangguan yang sampai kepadanya, hingga wafat pamannya Abu Thalib dan wafat Khadijah dalam satu tahun yang sama, yaitu “Amul Huzni” (Tahun Kesedihan), tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Setelah itu beliau mendapat gangguan hingga sebagian orang bodoh Quraisy menaburkan tanah di atas kepalanya. Beliau pun masuk ke rumahnya, lalu salah satu putrinya melihat tanah di atas kepala beliau dan menangis. Maka beliau bersabda:

لَا تَبْكِي فَإِنَّ اللهَ يَمْنَعُ أَبَاكَ

“Janganlah engkau menangis, sesungguhnya Allah akan menjaga ayahmu”.

Setelah itu beliau keluar menuju (kota) Thaif.  (90 kilometer dari Masjidil Haram).” [Al-Hawi Al-Kabir] Rasul SAW sendiri menceritakan kepada putrinya :

مَا نَالَتْ مِنِّي قُرَيْشٌ شَيْئًا أَكْرَهُهُ حَتَّى مَاتَ أَبُو طَالِبٍ

“Quraisy tidak pernah menyakiti aku dengan sesuatu yang aku benci hingga Abu Thalib wafat.”  [Dalailun Nubuwwah Lil Baihaqi]

 

Al-Qurtuby dalam Tafsirnya meriwayatkan : Ketika Abu Thalib wafat, Nabi keluar menuju Thaif untuk mencari pertolongan dari (pemuka Kabilah) Tsaqif. Beliau mencari AbduYalil, Mas’ud dan Habib. Mereka adalah saudara-saudara dari Banu Amr bin Umar di mana diantara mereka ada yang menikah dengan wanita Quraisy dari bani Jumah. Rasul mengajak mereka masuk Islam dan meminta pertolongan untuk menghadapi kaum kuffar Mekkah. [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an] Namun apa yang terjadi jauh dari harapan, bukannya diterima beliau malah ditolak mentah mentah bahkan diusir. Al-Qurtuby melanjutkan : “Lalu mereka memerintahkan orang rendahan dan para budak untuk mengumpat dan menertawakan beliau sehingga orang-orang berkumpul dan mengusir beliau.... [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an]

 

Mulla Al-Qari berkata : Diriwayatkan bahwa peristiwa yang tersebut terjadi pada bulan syawal tahun 10 kenabian tepatnya tiga bulan setelah wafatnya Siti Khadijah. [Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih] Peristiwa penolakan Nabi dari kota thaif itu sungguh hari yang sangat berat. Siti Aisyah pernah bertanya : Wahai Rasulullah, adakah hari yang lebih berat (ujiannya) daripada hari (kekalahan dalam perang) Uhud? Beliau Menjawab dengan menyebutkan peristiwa di kota Thaif tersebut. Hari itu merupakan ujian terberat dalam dakwah beliau bahkan lebih berat daripada kekalahan pada perang Uhud. Hal itu membuat Nabi sedih dan gundah gulana hingga beliau berkata :

فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ

Akupun pergi (meninggalkan thaif) dengan penuh kesedihan diwajahku, dan aku baru tersadar ketika aku sampai di daerah Qarnits Tsa'alib (Daerah Miqat Qarnul Manazil, 80 KM dari Masjidil Haram). [HR Bukhari]

 

Di tengah-tengah kesedihan beliau, Allah menurunkan QS Yusuf untuk meneguhkan hati beliau. As-Shabuni berkata : “Surah (yusuf) yang mulia ini diturunkan kepada Rasul SAW ... pada masa yang sangat kritis dan penuh kesulitan dalam kehidupan beliau ... Terutama setelah beliau kehilangan dua penolongnya: istri beliau yang suci dan penuh kasih sayang, Khadijah, serta pamannya Abu Thalib yang merupakan sebaik-baik penolong dan pendukung. Dengan wafatnya keduanya, semakin beratlah gangguan dan penderitaan yang menimpa beliau dan kaum Mukminin, hingga tahun itu dikenal dengan sebutan ‘Ām al-Ḥuzn (Tahun Kesedihan).” [Shafwatut Tafasir]

 

Surat Yusuf mengisahkan berbagai macam ujian yang menimpa Nabi Yusuf AS. ujian  berupa kedengkian saudara-saudaranya dan tipu daya mereka terhadapnya, ujian ketika ia dilemparkan ke dalam sumur, ujian ketika istri al-‘Aziz terpikat kepadanya dan jatuh cinta kepadanya, kemudian berusaha merayunya dengan berbagai cara fitnah dan godaan, lalu ujian penjara, kemudian setelah itu datanglah kemuliaan dan kehidupan yang penuh kelapangan. Kisah tersebut menjadi pelajaran bagi Nabi SAW dan kita selaku umatnya, agar bersabar dalam mengahadapi ujian berat kehidupan. Atha’ berkata :

لَا يَسْمَعُ سُورَةَ يُوسُفَ مَحْزُونٌ إِلَّا اسْتَرَاحَ إِلَيْهَا

“Tidaklah seorang yang sedang bersedih mendengar Surah Yusuf, melainkan ia akan merasa tenang (lega) karenanya.” [Shafwatut Tafasir]

 

Dan juga peristiwa Isra’ dan Mi’raj sebagai hiburan bagi Nabi SAW di tengah-tengah kesedihan atas ujian yang bertubi-tubi. Syaikh Safar al-Hawali berkata : Isra’ dan Mi‘raj terjadi sebelum hijrah, dan inilah pendapat yang paling kuat. Yang masyhur dan tersebar luas adalah bahwa Isra’ dan Mi‘raj terjadi setelah wafat Abu Thalib, paman Nabi SAW, dan setelah wafat Khadijah, serta setelah Nabi pergi ke Thaif lalu penduduknya menolak beliau. Tahun itu disebut sebagai ‘Ām al-Ḥuzn (tahun kesedihan), karena Nabi mengalami gangguan yang sangat berat, penuh rasa sakit dan keletihan. Maka Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi menganugerahkan kepada beliau tanda-tanda (ayat) yang agung ini, pemandangan-pemandangan luar biasa, dan kedudukan yang tinggi yang tidak pernah dicapai oleh seorang manusia pun,

تَسْلِيَّةً لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(Itu semua) sebagai hiburan bagi Nabi. [Syarah al-‘Aqidah al-Tahawiyyah]

 

Wallahu A’lam Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk senantiasa menyadari bahwa setiap orang akan diuji dengan masalah berat yang akan menjadikannya susah dan sedih.  Dan saat itu kita tetap tabah karena dalam hadits utama dinyatakan bahwa sebesar ujian sebesar itu pula balasan. Semoga kita bisa meneladani beliau dalam mencari solusi setiap problematika kehidupan  dan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]