ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ
الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
Sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman ketika seseorang tidak lagi
peduli dari mana ia memperoleh harta; apakah dari yang halal atau dari yang
haram.
[HR Bukhari]
Catatan Alvers
Tidak semua yang bisa
kita makan, boleh kita makan. Tidak semua yang bisa kita dapatkan, halal untuk
kita nikmati. Orang sibuk memikirkan apa yang akan masuk ke perut. Mereka memilih
makanan yang enak, sehat, bergizi, bahkan mahal. Tetapi ada satu pertanyaan
yang terkadang terlupakan: Dari mana semua itu didapatkan? Maka jangan berhenti
pada “Apa yang saya makan?” Tetapi tanyakan pula : “Dari mana saya
mendapatkannya?” “Halalkah?” Sebab, yang masuk ke perut hari ini, bisa menjadi
bagian dari diri kita esok hari. Rasul SAW bersabda :
مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ، فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ.
“Barang siapa dagingnya
tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” [HR Al-Hakim]
Aisyah RA berkata
:
Abu
Bakar memiliki seorang budak yang biasa menyerahkan hasil usahanya kepada
beliau. Abu Bakar pun biasa memakan dari hasil yang dibawanya. Pada suatu hari budak
itu datang membawa sesuatu, lalu Abu Bakar memakannya. Budak itu berkata,
“Tahukah engkau apa yang baru saja engkau makan?” Abu Bakar bertanya, “Memang
apakah itu?” Ia menjawab, “Dahulu pada masa jahiliah aku pernah menjadi tukang
ramal (kahin) bagi seseorang. Sebenarnya aku tidak pandai meramal; aku hanya
menipunya. Lalu orang itu bertemu denganku dan memberiku upah karena hal
tersebut. Inilah yang tadi engkau makan.”
فَأَدْخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَدَهُ فَقَاءَ كُلَّ شَيْءٍ فِي بَطْنِهِ
Maka Abu Bakar
memasukkan tangannya ke dalam mulutnya, lalu memuntahkan seluruh isi perutnya.
[Shahih Bukhari]
Tidak hanya berefek
di akhirat kelak, makanan akan berpengaruh kepada seseorang sejak di dunia.
Makanan haram akan menarik orangnya kepada perbuatan yang haram pula. Ibnu
Ajibah (Seorang Mufassir Sufi W. 1224H) menukil perkataan
ulama :
مَنْ أَكَلَ الْحَلَالَ أَطَاعَ اللَّهَ،
أَحَبَّ أَمْ كَرِهَ، وَمَنْ أَكَلَ الْحَرَامَ عَصَى اللَّهَ، أَحَبَّ أَمْ
كَرِهَ.
“Barang siapa
memakan yang halal, niscaya ia akan menaati Allah, baik ia suka maupun tidak.
Dan barang siapa memakan yang haram, niscaya ia akan bermaksiat kepada Allah,
baik ia suka maupun tidak.” [Tafsir Al-Bahr Al-Madid]
Makanan yang haram
juga akan merubah watak manusia menjadi jelek. Dikisahkan bahwa Syekh Abu
Muhammad pada awal kehidupannya bekerja menyalin kitab dengan upah. Dari hasil
jerih payahnya itu, terkumpullah sejumlah uang yang kemudian ia gunakan untuk
membeli seorang budak perempuan (untuk dijadikan istri) yang dikenal baik dan shalihah.
Ia senantiasa memberinya makanan dari hasil kerja tangannya yang halal, hingga sang
istri hamil. Ia tetap membesarkannya dengan penghasilan yang halal. Ketika
melahirkan, ia berpesan kepadanya agar tidak membiarkan seorang pun menyusui
bayi tersebut.
Suatu hari, terdapat
seorang perempuan dari tetangganya masuk ke dalam rumah Syekh Abu Muhammad
karena mendengar suara bayi menangis sementara sang ibu sedang sakit. Perempuan
tadi lalu mengambil bayi dan menyusuinya. Bayi itu sempat menyusu sedikit.
Ketika Syekh Abu Muhammad melihat hal itu, ia langsung mengambil bayintya,
membalikkan kepalanya, mengusap perutnya, lalu memasukkan jarinya ke dalam
mulut bayi itu. Ia terus melakukan hal tersebut sampai bayi itu memuntahkan
seluruh susu yang telah diminumnya. Sambil berkata:
يَسْهُلُ عَلَيَّ مَوْتُهُ، وَلَا تَفْسُدُ طِبَاعُهُ بِشُرْبِ
لَبَنِ غَيْرِ أُمِّهِ.
“Lebih ringan
bagiku jika ia meninggal daripada tabiatnya rusak karena meminum susu selain
dari ibunya.”
Dan dikisahkan
pula bahwa sang bayi yang tak lain adalah Imam al-Haramain (Guru besar dua tanah Haram, W. 478 H) terkadang
mengalami suatu keadaan “fathrah” (nge-lag) ketika sedang berada dalam majelis
perdebatan. Ia lalu berkata:
هَذَا مِنْ بَقَايَا تِلْكَ الرَّضْعَةِ
“Ini adalah sisa dari susuan itu.”
[Wafayatul A’yan]
Makan makanan yang
haram juga berpotensi menjadikan ibadah tertolak dari sisi Allah SWT. Ibnu
Abbas RA berkata :
لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ امْرِئٍ فِي جَوْفِهِ حَرَامٌ
“Allah tidak menerima shalat seseorang yang di dalam perutnya terdapat
sesuatu yang haram.” [Nuzhatul Majalis]
Dan semakin mempertegas hal itu, Wuhaib ibn al-Ward
(Seorang Zahid dari kalangan Tabi’in, W. 153
H) berkata:
وَاللَّهِ لَوْ قُمْتَ مَقَامَ هَذِهِ السَّارِيَةِ، مَا نَفَعَكَ
حَتَّى تَعْلَمَ مَا يَدْخُلُ بَطْنَكَ مِنْ حَلَالٍ أَوْ حَرَامٍ.
“Demi Allah,
seandainya engkau berdiri menggantikan tempat tiang ini, hal itu tidak akan
bermanfaat bagimu sampai engkau mengetahui apa yang masuk ke dalam perutmu,
apakah berasal dari yang halal atau yang haram.” [Hilyatul Awliya’]
Makan makanan yang
haram juga menjadikan doa-doa kita tertolak. Rasul SAW bersabda : Ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia
menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Yaa Rabb, Yaa Rabb, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya
dipenuhi dari sesuatu yang haram,
فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ
maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan. [HR
Muslim].
Karena itu, bahaya memakan yang haram merupakan bahaya yang sangat besar.
Seorang Muslim wajib bersungguh-sungguh memastikan makanan dan minumannya
halal. Sehingga Maimun Bin Mihran (Pembesar
tabi'in , W 117 H) berkata :
لَا يَكُونُ الرَّجُلُ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ
أَشَدَّ مِنْ مُحَاسَبَةِ الشَّرِيكِ شَرِيكَهُ، حَتَّى يَعْلَمَ مِنْ أَيْنَ
مَطْعَمُهُ، وَمِنْ أَيْنَ مَشْرَبُهُ، أَمِنْ حَلَالٍ ذَلِكَ أَمْ مِنْ حَرَامٍ.
“Tidaklah
seseorang termasuk golongan orang-orang yang bertakwa hingga ia menghisab
dirinya lebih ketat daripada seorang mitra menghisab mitranya, sampai ia
mengetahui dari mana makanan dan minumannya diperoleh; apakah itu dari yang
halal atau dari yang haram.” [Al-Bidayah Wan Nihayah]
Maka dari itulah pembahasan ini sangat penting, mengingat banyak manusia pada zaman ini yang
meremehkan perkara memakan harta haram. Nabi SAW telah mengabarkan hal tersebut hadits utama, yaitu : “Akan datang kepada manusia suatu zaman ketika seseorang tidak lagi peduli
dari mana ia memperoleh harta; apakah dari yang halal atau dari yang haram.” .
[HR Bukhari]
Wallahu A’lam.
Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk agar senantiasa membaca doa dan melaksanakan adab ketika makan
sehingga kita dijauhkan dari setan dan makanan setiap hari yang kita makan
menjadi berkah dan sarana mendapatkan maghfirah.
berbaik sangka kepada Allah baik dalam urusan dunia maupun akhirat sehingga kita mendapat rahmat
dan kasih sayang-Nya.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul
Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren
Wisata
AN-NUR 2 Malang
Jatim
Ngaji dan Belajar
Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok
Itu Keren!
NB.
“Ballighu Anni
Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada.
Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus
setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]













