• WhatsApp Channel : One Day One Hadith

    Bergabunglah bersama Saluran WhatsApp One Day One Hadith

  • Penerimaan Santri Baru 2026/2027

    Monggo nderek-nderek Nyethak Sholihin Sholihat dengan mendaftarkan putra putri jenengan ke PPW An-Nur 2 Al Murtadlo

  • Tadarus Akbar

    Tadarus Akbar oleh ribuan santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

  • Sholat Tarawih Akbar

    Sekitar 3.000 santri putra melaksanakan Tarawih Akbar di Lapangan Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Sabtu malam, 21 Februari 2026, lapangan center An-Nur II penuh dengan 24 saf santri berbaju putih

  • Bersama KAPOLRI

    Bersama Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo - KAPOLRI dan Majelis Keluarga An-Nur 2

MAKAN BERSAMA SETAN

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Dari Hudzaifah RA, Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لَا يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ

"Sesungguhnya setan dapat memakan makanan yang tidak disebut nama Allah atasnya." [HR Muslim] 

 

Catatan Alvers

 

Setiap hari kita makan, bahkan bisa beberapa kali dalam sehari. Namun, pernahkah kita bertanya mengapa Rasulullah SAW begitu menekankan membaca doa sebelum dan sesuah makan? Ternyata adab yang tampak sederhana ini bukan sekadar doa pembuka atau penutup, melainkan perlindungan yang menghalangi setan mengambil bagian dari rezeki yang Allah anugerahkan dan upaya menjadikan rutinitas harian membawa kebaikan tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak.

 

Sahabat Hudzaifah RA berkata : Kami apabila menghadiri jamuan makan bersama Nabi SAW, tidaklah kami mengulurkan tangan hingga Rasulullah SAW memulai dan meletakkan tangan beliau pada makanan. Suatu ketika kami menghadiri jamuan bersama beliau. Tiba-tiba datang seorang anak perempuan, seakan-akan ada yang mendorongnya, lalu ia hendak mengulurkan tangannya ke makanan. Rasulullah SAW segera memegang tangannya. Kemudian datang pula seorang Arab Badui, seolah-olah ada yang mendorongnya, lalu beliau juga memegang tangannya. Lalu Rasul SAW bersabda (dengan hadits utama, yaitu): "Sesungguhnya setan akan memakan makanan yang tidak disebut nama Allah atasnya”.  Ia datang membawa anak perempuan ini agar dengan perantaranya ia dapat memperoleh bagian dari makanan itu, maka aku memegang tangannya. Kemudian ia datang membawa Arab Badui ini agar dengan perantaranya ia memperoleh bagian dari makanan itu, maka aku pun memegang tangannya. “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh tangan setan berada dalam genggamanku bersama tangan kedua orang itu." [HR Muslim]

 

Imam Nawawi menjelaskan hadits di atas dan berkata : Makna “yastaḥillu” adalah  setan dapat memperoleh kesempatan untuk memakannya. Maksudnya, setan dapat ikut memakan makanan apabila seseorang mulai menyantapnya tanpa menyebut nama Allah Ta'ala. Adapun jika belum ada seorang pun yang memulai makan, maka setan tidak dapat ikut memakannya. Bila yang makan berjamaah, lalu sebagian membaca nama Allah (basmalah) sedangkan sebagian lainnya tidak, maka setan tidak dapat memperoleh bagian dari makanan tersebut. Kemudian pendapat yang benar, yang dipegang oleh jumhur ulama dari kalangan salaf maupun khalaf—baik ahli hadis, ahli fikih, maupun ahli kalam—adalah bahwa hadits ini dan hadis-hadits lain tentang setan makan dipahami sesuai makna lahiriahnya. Artinya, setan benar-benar makan secara hakiki, karena akal tidak menganggapnya mustahil, dan syariat pun tidak menolaknya; bahkan menetapkannya. Maka wajib menerimanya dan meyakininya. [Al-Minhaj Syarah Muslim]

 

Jika lupa membaca basmalah di awal maka bisa basmalah bisa dibaca ketika tengah-tengah makan. Umayyah bin Makhsyi RA berkata : Rasul SAW sedang duduk, sementara ada seorang laki-laki makan. Ia tidak membaca basmalah hingga makanannya tinggal satu suapan. Ketika mengangkat suapan itu ke mulutnya, ia membaca : “Bismillahi awwalahu wa akhirahu” (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya). Maka Nabi SAW tertawa, kemudian bersabda:

مَا زَالَ الشَّيْطَانُ يَأْكُلُ مَعَهُ حَتَّى سَمَّى فَلَمْ يَبْقَ فِي بَطْنِهِ شَيْءٌ إِلَّا قَاءَهُ

“Setan terus makan bersamanya. Namun ketika ia menyebut nama Allah, maka setan memuntahkan seluruh makanan yang ada dalam perutnya.” [HR Abu Dawud]

 

Demikianlah Rasul SAW mengajarkannya tidak hanya kepada orang tua namun juga kepada anak kecil. Umar bin Abi Salamah RA berkata : “Ketika aku masih kecil dan berada dalam asuhan Rasul SAW, tanganku sering bergerak ke sana kemari di dalam nampan makanan. Maka beliau bersabda kepadaku :

يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

‘Wahai anak kecil, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang berada di dekatmu.’

Sejak saat itu, begitulah cara makanku.” [HR Bukhari]

 

Setan juga bisa makan dari makanan kita yang tercecer sehingga beliau juga memerintahkan agar mengambilnya. Rasul SAW bersabda :

إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila suapan makanan salah seorang di antara kalian jatuh, ambillah kembali lalu buanglah kotoran dari makanan tersebut dan makanlah. Jangan dibiarkan suapan tersebut dimakan oleh setan.” [HR Muslim]

 

Beliau juga mengajarkan agar tidak menyisakan makanan sedikitpun. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasannya Rasul SAW bersabda :

إِنَّكَ لَا تَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِكَ تَكُونُ الْبَرَكَةُ

Engkau tidak tahu di bagian mana dari makananmu yang mengandung barokah. [HR Ahmad]

 

Setelah makan, jangan lupa bersukur kepada Allah. Jika kita kenyang sehabis makan maka ketahuilah di lain tempat masih banyak orang yang susah mencari makan bahkan kelaparan. Rasul SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ يَأْكُلُ الْأَكْلَةَ أَوْ يَشْرَبُ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah ridla (sangat suka) kepada hamba-Nya yang makan atau minum lalu ia memuji-Nya. [HR Muslim]

 

Lebih dari itu, orang yang makan lalu ia memuji Allah maka ia akan mendapat ampunan. Rasul SAW bersabda :

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa yang makan lalu ia mengucapkan “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makanan ini kepadaku dengan tanpa daya dan kekuatan dariku” maka diampunilah dosanya yang telah lalu. [HR Tirmidzi, Hadits hasan]

 

Tidak hanya basmalah dan hamdalah, doa juga sangat penting ketika makan. Imam Nawawi meriwayatkan dari dari Ibnu A‘bud, ia berkata : Ali bin Abi Thalib RA berkata kepadaku, “Wahai Ibnu A‘bud, tahukah engkau apa hak makanan?” Aku menjawab, “Apakah hak makanan itu, wahai Abu al-Hasan?” Beliau berkata: “Engkau mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا

Dengan nama Allah. Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepada kami.”

 

Kemudian beliau bertanya lagi, “Tahukah engkau apa syukur terhadap makanan setelah selesai?” Aku menjawab, “Apakah syukurnya?” Beliau menjawab:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا

Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan memberi kami minum. [HR Ahmad]

 

Adapun doa makan yang biasa diajarkan adalah hadits yang dinukil oleh Imam Nawawi yang bersumber dari Amr bin Ash bahwasannya ketika makanan sudah didekatkan kepada Nabi SAW maka beliau membaca :

اللَّهُمَّ، بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ بِسْمِ اللهِ

Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepada kami, lindungilah kami dari siksa neraka, dengan menyebut nama Allah. [Al-Adzkar]

 

Ada hal unik di mana doa makan diatas yang versi singkatnya mirip dengan redaksi doa hubungan suami istri, hanya saja berbeda posisi basmalahnya saja.  Doa tersebut merupakan atsar dari Al-Hasan al-Bashri, ia berkata: "Disebutkan apabila seorang lelaki mendatangi istrinya, hendaklah ia mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ، بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَلَا تَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ نَصِيبًا فِيمَا رَزَقْتَنَا

Bismillah. Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami, dan janganlah Engkau jadikan setan memiliki bagian dalam rezeki yang Engkau karuniakan kepada kami."

Al-Hasan berkata : "Maka diharapkan, apabila istrinya hamil dan menerima benih itu, maka anak yang lahir akan menjadi anak yang shalih." [al-Mushannaf Lis Shan’any]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk agar senantiasa membaca doa dan melaksanakan adab ketika makan sehingga kita dijauhkan dari setan dan makanan setiap hari yang kita makan menjadi berkah dan sarana mendapatkan maghfirah.

 

berbaik sangka kepada Allah baik dalam urusan dunia maupun akhirat sehingga kita mendapat rahmat dan kasih sayang-Nya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Share:

BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Dari Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah SAW bersabda :

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” [HR Muslim] 

 

Catatan Alvers

 

Perempuan 34 tahun di Bandung, Jawa Barat, ditemukan tewas gantung diri di kusen pintu kamarnya. Dua anaknya yang berusia 9 tahun dan 11 bulan ditemukan tak bernyawa tak jauh dari sang ibu. Ditemukan surat wasiat yang ditulis oleh sang ibu 'Mamah tidak rela hidup terus-terusan susah'. Surat itu mengungkapkan masalah keluarga, tepatnya kesulitan ekonomi, dan berisi pula permintaan maaf untuk seluruh keluarganya, termasuk kepada kedua anaknya yang telah meninggal. [bbc.com]

 

Himpitan ekonomi seperti itu juga dirasakan banyak orang dan beberapa diantara mereka menjadi putus asa lalu mengambil jalan pintas yang sama untuk mengakhiri hidupnya. Putus asa adalah perbuatan yang dilarang oleh agama sebagaimana dalam hadits utama disebutkan : “Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” [HR Muslim] Hadits ini didengarkan oleh Jabir disabdakan oleh Nabi SAW tiga hari sebelum wafat.

 

Membunuh anak-anak karena himpitan ekonomi sebagaimana dilakukan oleh perempuan di atas adalah wujud keputus asaan atas rahmat Allah. Allah SWT berfirman :

لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ

janganlah berputus asa dari rahmat Allah. [QS Az-Zumar : 53]

 

Dan Allah SWT berfirman :

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. [QS Al-Isra' : 31]

 

Di lain tempat, banyak orang yang memiliki masalah yang sama, namun mereka memilih bertahan karena mereka masih memiliki iman dan husnudzan (berbaik sangka) kepada Allah yang berfirman :

نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ

Kami-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan (juga) kepada kalian. [QS Al-Isra' : 31]

 

Maka yakinlah dengan janji Allah karena Allah itu “La Yukhliful Mi’ad” (tak pernah ingkar janji) dan teruslah berbaik sangka dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Umar bin Khattab RA berkata : “Suatu hari datanglah sejumlah tawanan kepada Nabi SAW. Tiba-tiba ada seorang perempuan dari kalangan tawanan itu yang sedang memerah air susunya untuk diberikan minum. Setiap kali ia menemukan seorang anak di antara para tawanan, ia mengambilnya, mendekapkannya ke perutnya, lalu menyusuinya. Nabi SAW kemudian bersabda kepada kami: ‘Menurut kalian, apakah perempuan ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?’ Kami menjawab, ‘Tidak, selama ia mampu untuk tidak melemparkannya.’ Beliau SAW bersabda :

لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

‘Sungguh, Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya melebihi daripada perempuan ini kepada anaknya.’ [HR Bukhari]

 

Berprasangka baiklah kepada Allah niscaya kita akan mendapatkan kebaikan dari prasangka baik kita kepada-Nya. Allah SWT dalam hadits qudsy berfirman :

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. [HR Bukhari]

Dalam riwayat lain, terdapat lanjutan hadits :

إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

Jika ia berprasangka baik kepada-Ku, maka kebaikan itu untuknya. Dan jika ia berprasangka buruk kepada-Ku, maka keburukan itu untuknya.” [HR Ahmad]

 

Senada dengan hadits qudsy ini, Rasul SAW bersabda : “Suatu ketika Allah memerintahkan agar seorang hamba dibawa ke neraka. Ketika hamba itu telah berdiri di tepi neraka, ia menoleh lalu berkata :

 أَمَا وَاللهِ يَا رَبِّ إِنْ كَانَ ظَنِّي بِكَ لَحَسَنٌ

“Demi Allah, wahai Tuhanku, sungguh prasangka-ku kepada-Mu benar-benar baik.”

Maka Allah berfirman, ‘Kembalikan dia! Karena sesungguhnya Aku sesuai dengan prasangka baik hamba-Ku kepada-Ku.’” [HR Baihaqi]

 

Maka prasangka baik kepada Allah tidak hanya bermanfaat di dunia tapi juga di akhirat. Sahl, saudaranya Hazm bercerita bahwa ia pernah bertemu Abu Yahya Malik bin Dinar dalam mimpi setelah ia wafat.  Sahl bertanya : “Wahai Abu Yahya, betapa baiknya kondisimu, amal apa yang engkau bawa ?” Abu Yahya menjawab :

 قَدِمْتُ بِذُنُوْبٍ كَثِيْرَةٍ مَحَاهَا عَنِّي حُسْنُ الظَّنِّ بِاللهِ

“Aku datang dengan membawa dosa yang banyak. Namun, itu semua terhapuskan oleh baik sangkaku kepada Allah.” [Al-Mujalasah wajawahirul Ilm]

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda : “Satu ketika Allah memerintahkan agar seorang hamba dibawa ke neraka. Ketika ia telah berdiri di tepi neraka, ia menoleh dan berkata:

أَمَا وَاللهِ يَا رَبِّ إِنْ كَانَ ظَنِّي بِكَ لَحَسَنٌ

“Demi Allah, wahai Tuhanku, sungguh prasangkaku kepada-Mu sangatlah baik."

 

Maka Allah Azza Wa Jalla berfirman:”Kembalikanlah dia, karena Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” [HR Baihaqi]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk agar senantiasa berbaik sangka kepada Allah baik dalam urusan dunia maupun akhirat sehingga kita mendapat rahmat dan kasih sayang-Nya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

 NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Share:

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts