• WhatsApp Channel : One Day One Hadith

    Bergabunglah bersama Saluran WhatsApp One Day One Hadith

  • Penerimaan Santri Baru 2026/2027

    Monggo nderek-nderek Nyethak Sholihin Sholihat dengan mendaftarkan putra putri jenengan ke PPW An-Nur 2 Al Murtadlo

  • Tadarus Akbar

    Tadarus Akbar oleh ribuan santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

  • Sholat Tarawih Akbar

    Sekitar 3.000 santri putra melaksanakan Tarawih Akbar di Lapangan Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Sabtu malam, 21 Februari 2026, lapangan center An-Nur II penuh dengan 24 saf santri berbaju putih

  • Bersama KAPOLRI

    Bersama Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo - KAPOLRI dan Majelis Keluarga An-Nur 2

TIPUAN WALI PALSU

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Imran Bin Hushain RA, Rasul SAW bersabda :

لا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta. [HR Thabrani]

 

Catatan Alvers

 

Medsos dihebohkan dengan berita mengenai Oknum kyai bahkan wali, yang diduga melakukan pelecehan seksual. tribunnews merilis berita berjudul “Tampang Kiai Cabul Pati Lecehkan 50 Santriwati, Dianggap Wali gegara Jago Ramal Masa Depan”. Salah satu warga bernama Shofi yang pernah bekerja kepada Ashari selama 11 tahun,  mengaku berulang kali diperas dan dipaksa berbohong ke orang tua kalau mondok di Jepara, supaya uang kiriman dari orang tua itu bisa masuk ke sini. Istrinya juga gitu kalau salaman, dicium pipi kanan kiri, jidat, bibir juga. Banyak, hampir semua." Namun akhirnya memberanikan diri lepas dari jeratan Ashari karena ajarannya dianggap menyimpang. [tribunnews com] Para santri tertipu oleh ucapan oknum kyai yang mengaku Khariqul ‘Adah atau menjadi wali yang memiliki kemampuan di luar akal manusia. [bap-jbb com] "Karena saya anggap dia itu walinya gusti Allah. Dia tahu semuanya, mbah saya akan meninggal dia tahu. Adik saya mau melahirkan jam 11 malam itu disuruh ngebel adek saya 'nanti adekmu lahir jam 12, cowok, nanti kasih nama ini" aku Shofi. [tribunnews com]

 

Orang yang tidak tahu, akan mudah tertipu dengan kemampuan diluar nalar manusia seperti bisa mengetahui waktu lahir dan mati misalnya atau bisa kebal, bisa makan beling bahkan bisa terbang dan berjalan di atas air, mereka secara spontan akan menganggap dia itu wali Allah. Padahal tidaklah demikian. Yang disebut waliyullah itu bukanlah yang memiliki kemampuan yang luar biasa seperti itu (khariqul Adah).

 

Lantas siapakah wali (waliyullah) itu? Ibnu Hajar Al-Asqalany berkata :

الْمُرَادُ بِوَلِيِّ اللَّهِ الْعَالِمُ بِاللَّهِ، الْمُوَاظِبُ عَلَى طَاعَتِهِ، الْمُخْلِصُ فِي عِبَادَتِهِ.

“Yang dimaksud dengan wali Allah ialah orang yang mengenal Allah, senantiasa tekun dalam menaati-Nya, dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.” [Fathul Bari]

 

Ibnu Katsir berkata : “Allah Ta‘ala sendiri mengabarkan bahwa para wali-Nya adalah
“Alladzina Amanu wakanu Yattaqun” (orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa), sebagaimana Allah sendiri menjelaskan sifat mereka.

فَكُلُّ مَنْ كَانَ تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا

Maka setiap orang yang bertakwa adalah wali Allah.” [Tafsir Ibni Katsir]

 

Dan untuk menjadi orang yang bertaqwa, yang mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya maka seseorang haruslah menguasai ilmu untuk mengetahui mana yang wajib dikerjakan dan mana yang haram untuk dilakukan. Ilmu itulah yang disebut dengan ilmu fikih. Orang yang tidak mengetahui ilmu fikih maka ia tidak bisa melakukan perintah Allah seperti shalat, puasa, haji dan perintah lainnya dengan benar. Begitu pula ia tidak menjauhi larangan Allah seperti syirik, riba dan larangan dalam jual beli lainnya, meminum khamer atau berzina karena ketidak tahuannya. Oleh karena pentingnya memahami ilmu fikih dalam menjalankan ketaqwaan maka Imam Syafii dan Imam Abu Hanifah berkata :

 

 

إِنْ لَمْ يَكُنِ الْفُقَهَاءُ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ وَلِيٌّ

“Jika para ahli fikih (yang mengamalkan ilmuya) itu bukan wali Allah, maka tidak ada yang menjadi wali Allah.” [Al-Majmu’ Syarah Al-Muhaddzab]

 

Dengan demikian wali itu tidak harus diketahui memiliki karamah yang berupa kemampuan yang di luar nalar dan orang yang tampak memiliki karamah tidak otomatis ia menjadi wali Allah. As-Syinqithi menukil perkataan Ulama’:

إِذَا رَأَيْتَ رَجُلًا يَطِيرُ وَفَوْقَ مَاءِ الْبَحْرِ قَدْ يَسِيرُ. وَلَمْ يَقِفْ عِنْدَ حُدُودِ الشَّرْعِ فَإِنَّهُ مُسْتَدْرَجٌ أَوْ بِدْعِيٌّ.

Jika engkau melihat seseorang mampu Terbang ataupun Mampu berjalan di atas air. Sedang dia tidak berdiri di batas-batas hukum Syariat maka sesungguhnya dia adalah seorang yang di istidrajkan (sesat) atau seorang Pelaku Bid’ah. [Adlwa’ul Bayan]

 

Jika ada orang yang mengaku menjadi wali dengan menunjukkan keramatnya namun ia memerintahkan maksiat maka janganlah diikuti karena dia sesungguhnya adalah wali palsu, bukan walinya Allah tapi walinya setan. Seorang waliyullah yang asli dia tidak akan berbuat maksiat, apalagi memerintahkan orang lain untuk berbuat maksiat. Sekalipun anda yakin misalnya bahwa orang itu adalah waliyullah, maka tetap jangan menuruti perintahnya untuk berbuat maksiat karena Nabi SAW melarang hal itu. Rasul SAW bersabda pada hadits utama : Tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta. [HR Thabrani]

 

Maka ciri utama wali Allah bukan karamah yang berupa kemampuan yang di luar nalar, namun ciri utamanya adalah ketaqwaan kepada Allah SWT dengan mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Status kewalian itu sangatlah samar. Ja'far al-Sadiq berkata : Sesungguhnya Allah menyembunyikan tiga perkara dalam tiga perkara, diantaranya

خَبَّأَ وِلَايَتَهُ فِي عِبَادِهِ، فَلَا تَحْقِرُوا مِنْهُمْ أَحَدًا فَلَعَلَّهُ وَلِيُّ اللَّهِ تَعَالَى.

Allah menyembunyikan kewalian-Nya di antara hamba-hamba-Nya, maka jangan meremehkan seorang pun dari mereka, karena boleh jadi ia adalah wali Allah.” [Ihya Ulumiddin]

Dan menguatkan hal ini, Imam Ghazali berkata :

فَلَعَلَّ الَّذِي تَزْدَرِيهِ عَيْنُكَ هُوَ وَلِيُّ اللَّهِ.

Boleh jadi orang yang kau pandang hina justru dia adalah waliyullah.” [Ihya Ulumiddin]

 

Dan ada ciri-ciri lainnya. Ahmad ibnu Abil Ward berkata :

إِنَّ وَلِيَّ اللَّهِ إِذَا زَادَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ زَادَ مِنْهَا ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ

“Sesungguhnya wali Allah, apabila bertambah padanya tiga perkara, maka bertambah pula tiga perkara

Yaitu, apabila kedudukannya bertambah, maka kerendahan hatinya bertambah; apabila hartanya bertambah, maka kemurahan dirinya bertambah; dan apabila umurnya bertambah, maka kesungguhannya dalam ibadah juga bertambah. [Hilyatul Awliya]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk tidak mudah tertipu dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai waliyullah yang suka berbuat maksiat dan memerintahkan pengikutnya untuk melakukan maksiat kepada Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

JANGAN LIHAT NOMINALNYA

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ

Satu dirham dapat mengalahkan seratus ribu dirham. [HR An-Nasai]

 

Catatan Alvers

 

Seringkali kita menilai pemberian, bantuan ataupun hadiah dari harga atau nominalnya, padahal barang yang sama dari orang yang berbeda kondisinya tentu itu effortnya tidaklah sama. Orang yang kaya ia memberikannya dengan mudah sementara orang miskin memberi dengan effort dan susah payah. Kata Effort yang sering kita temui dalam bahasa gaul ataupun di media sosial, berasal dari bahasa Inggris yang berarti usaha, upaya, atau kerja keras yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan tertentu.   

 

Dalam Islam, effort sangatlah berharga sehingga dalam kaidah dikatakan “ Al-Ajru biqadrit Ta’ab” (pahala itu sesuai dengan kadar effortnya). Contohnya adalah berjalan kaki menuju masjid untuk melaksanan sholat jumat itu pahalanya lebih besar daripada yang naik kendaraan. Ubay bIn Ka'b berkata: ‘Ada seorang lelaki yang menurut pengetahuanku tidak ada seorang pun yang rumahnya lebih jauh dari masjid daripada dirinya, namun ia tidak pernah tertinggal shalat berjamaah. Lalu dikatakan kepadanya:
Kenapa engkau tidak membeli seekor keledai untuk kendaraan ketika malam gelap dan saat panas terik.” Ia menjawab: “Aku tidak ingin rumahku berada di samping masjid karena aku ingin agar langkahku menuju masjid dan kepulanganku kepada keluargaku dicatat sebagai pahala.” Maka Rasul SAW bersabda:

قَدْ جَمَعَ اللَّهُ لَكَ ذَلِكَ كُلَّهُ

“Allah telah mengumpulkan untukmu semua pahala itu.”[HR Muslim]

 

Effort itu lebih berharga daripada nominal. Dalam hadits utama, Rasul SAW bersabda : “Satu dirham dapat mengalahkan seratus ribu dirham”. [HR An-Nasai] Pada lanjutan hadits, Para sahabat bertanya : “Kok bisa?” Beliau menjawab: “Ada seseorang yang hanya memiliki dua dirham, lalu ia menyedekahkan salah satunya. Sedangkan orang yang lainnya mengambil secuil dari hartanya banyak, ia mengambil seratus ribu dirham untuk sedekahnya.”

 

As-Sindy menjelaskan : “Lahiriah hadits tersebut menunjukkan bahwa :

أَنَّ الْأَجْرَ عَلَى قَدْرِ حَالِ الْمُعْطِي، لَا عَلَى قَدْرِ الْمَالِ الْمُعْطَى

“Pahala itu tergantung pada keadaan orang yang memberi, bukan pada banyaknya harta yang diberikan”.

Beliau melanjtkan : “Maka pemilik dua dirham itu, ketika ia memberikan setengah hartanya dalam keadaan yang biasanya orang tidak mau memberi kecuali orang-orang yang sangat kuat jiwanya, pahala yang ia peroleh sesuai dengan besarnya semangat dan pengorbanannya. Berbeda dengan orang yang kaya, ia tidak memberikan setengah hartanya, dan juga tidak memberi dalam keadaan yang pada umumnya orang enggan memberi padanya.” [Hasyiyah As-Sindy]

 

Bukan hanya effort, pemberian juga dinilai dari ketulusan niat. Bukankah “Innamal A’malu Bin Niyat” (Amal itu tergantung pada niat)? Hal ini tercermin dalam kisah hadiah semut kepada Nabi Sulaiman. Dalam Kita Tafsir As-Shawi dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman berkata kepada semut : ‘Mengapa engkau memperingatkan para semut? Apakah engkau takut terhadap kedzalimanku? Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah nabi yang adil? Mengapa engkau berkata: “Jangan sampai Sulaiman dan bala tentaranya menghancurkan kalian.” Maka semut itu menjawab : ‘Tidakkah engkau mendengar ucapanku: “Wahum La Yasy’urun” (Sedangkan mereka tidak menyadarinya). Dan aku tidak bermaksud kehancuran jasad, tetapi kehancuran hati ; karena khawatir para semut akan berangan-angan seperti apa yang telah diberikan kepadamu, lalu mereka tergoda oleh dunia dan sibuk memandang kerajaanmu hingga lalai dari tasbih dan zikir.’

 

Ketika semut itu selesai berbicara dengan Nabi Sulaiman, ia segera kembali kepada kaumnya lalu berkata : ‘Apakah kalian memiliki sesuatu untuk kita hadiahkan kepada Nabi Allah?’ Mereka menjawab : ‘Apa yang pantas kita hadiahkan kepadanya? Demi Allah, kami tidak punya apapun selain satu biji buah nabq (bidara kecil).’ Semut itu berkata: ‘Baik, bawakan kepadaku.’ Mereka pun membawakannya. Lalu semut itu membawanya dengan mulutnya sambil menyeretnya. Maka Allah memerintahkan angin untuk mengangkatnya. Semut itu pun datang membelah barisan jin, manusia, ulama, dan para nabi di atas hamparan karpet kerajaan, hingga berhenti di hadapan Sulaiman. Kemudian ia meletakkan buah nabq itu dari mulutnya ke mulut Sulaiman sambil melantunkan syair: “Tidakkah engkau lihat, kami menghadiahkan kepada Allah milik-Nya sendiri, meskipun Dia Maha kaya, tetapi Dia tetap menerimanya. Seandainya hadiah diberikan kepada Yang Maha mulia sesuai kadar keagungan-Nya, niscaya lautan dan tepinya pun tak akan cukup baginya. Akan tetapi kami memberi kepada yang kami cintai, lalu ia ridha kepada kami dan mensyukuri pemberinya. Semua itu hanyalah karena kemuliaan akhlaknya, sebab di kerajaan kami tiada seorang pun yang menyerupainya”. Maka Nabi Sulaiman berkata: “Semoga Allah memberkahi kalian.” [Hasyiyah As-Shawy ala Tafsir Jalalain]

 

Kisah tersebut bersumber dari bani Isra’il (Israiliyyat) dan menceritakannya boleh saja asal bukan yang nyata-nyata dusta ataupun bertentangan dengan syariat. Rasul SAW bersabda :

حَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ

“Ceritakanlah dari Bani Israil dan tidaklah mengapa” [HR Abu Dawud]

 

Lihat pula apa yang dilakukan olek katak. Ia memadamkan api yang mengelilingi Nabi Ibrahim dengan setetes air yang dibawa pada lidahnya. Bukankah itu sangatlah kecil bantuannya akan tetapi di sisi lain sangatlah besar niat baiknya yaitu membantu menyelamatkan kekasih Allah sesuai kemampuannya. Nabi SAW bersabda :

كاَنَتْ الضِّفْدَعُ تُطْفِئُ النَّارَ 

Dahulu katak memadamkan api dari nabi Ibrahim (ketika dibakar)

Dalam lanjutan hadits : Sedangkan cicak meniup-niupnya (menghidupkan bara apinya), maka dilarang membunuh ini (katak) dan diperintahkan membunuh ini (cicak)” [Mushannaf Abdur razzaq]

 

Jangan hanya lihat nominalnya saja. Bantuan walaupun hanya berupa doa itu sangatlah berharga. Abdullah bin ‘Amr berkata :

لَا تَقْتُلُوا الْخُفَّاشَ فَإِنَّهُ لَمَّا خَرِبَ بَيْتُ الْمَقْدِسِ قَالَ: يَا رَبِّ سَلِّطْنِي عَلَى الْبَحْرِ حَتَّى أُغْرِقَهُمْ.

Janganlah kalian membunuh kelewar karena sesungguhnya ketika Baitul Maqdis hancur ia berdo’a: “Wahai Tuhanku, berilah aku kekuasaan terhadap lautan agar aku bisa menenggelamkan mereka!”.[As-Sunan Al-Kubra]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk tidak menilai pemberian seseorang hanya dengan nominal namun dengan ketulusan hati dan kecintaannya kepada kita.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

 


Share:

FILTER KAMERA DUNIA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Mahmud bin Labid RA, Rasul SAW bersabda :

اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ الْمَوْتُ وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنْ الْفِتْنَةِ وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ

“Dua perkara yang dibenci anak Adam, (pertama) kematian, padahal kematian itu lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah (kesesatan di dalam agama). (Kedua) dia membenci sedikit harta, padahal sedikit harta itu lebih ringan hisabnya. [HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Catatan Alvers

 

“Ketemuan tidak sesuai dengan foto. Sumpah ilfeel banget!” Tulis satu akun di medsos. Tidak sedikit orang yang mencari pasangan melalui media sosial. Setelah menjalin komunikasi yang intensif, mereka akan bertemu. Beredar video dimana lelaki dan perempuan sudah menentukan tempat bertemu. Saat berada di lokasi, pria yang berada di dalam mobil melihat seorang perempuan di depannya. Namun dia kesal karena wajah perempuan itu berbeda dengan foto di media sosial.Boleh jadi si perempuan selalu pakai filter di medsos sehingga sang pria kecewa sampai menulis status tersebut. [okzone com]

 

Ternyata kita seringkali menjadi korban tipuan dunia karena dunia itu seperti wanita tadi, selalu memakai filter sehingga tidak terlihat wajah aslinya. Banyak dari kita mati-matian mempertahankan sesuatu yang tidak dibawa mati, yakni harta dunia.  Dunia sangatlah menyilaukan sehingga mereka buta dan tidak bisa melihat hakikatnya secara nyata. Itu semua karena filter kamera dunia.

Kekeliruan inilah yang ingin diluruskan oleh Nabi SAW dalam hadits utama di atas, Ada dua perkara yang dibenci anak Adam, (pertama) kematian, padahal kematian itu lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah (kesesatan di dalam agama). (Kedua) dia membenci sedikit harta, padahal sedikit harta itu lebih ringan hisabnya. [HR Ahmad]

 

Setiap manusia menginginkan harta yang banyak, bahkan mereka berambisi yang menyebabkan mereka memakan harta dengan cara yang bathil. Rasul SAW mengajak kita untuk merenungi hakikat harta, beliau bersabda :

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي قَالَ وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

‘Anak Adam berkata: hartaku, hartaku! Padahal tidaklah harta milikmu wahai anak Adam, kecuali:  apa yang engkau makan lalu habis, atau yang engkau pakai lalu usang, atau yang engkau sedekahkan lalu menjadi bekal (yang engkau kirim ke akhirat).’” [HR Muslim]

 

Ali bin Abi Thalib RA juga mengajak kita berfikir secara jernih mengenai hakikat harta yang kita kejar selama ini. Harta yang kita muliakan selama ini ternyata adalah barang yang kita hinakan. Beliau berkata:

إِنَّمَا الدُّنْيَا سِتَّةُ أَشْيَاءَ: مَطْعُومٌ وَمَشْرُوبٌ وَمَلْبُوسٌ وَمَرْكُوبٌ وَمَنْكُوحٌ وَمَشْمُومٌ

“Sesungguhnya dunia itu hanya enam perkara: makanan, minuman, pakaian, kendaraan, pasangan (yang dinikahi), dan sesuatu yang dicium (aroma)”.

Maka yang paling mulia dari makanan adalah madu, padahal ia hanyalah liurnya lebah. Yang paling mulia dari minuman adalah air, dan sama saja dalam hal itu orang baik maupun orang jahat. Yang paling mulia dari pakaian adalah sutra, padahal ia adalah hasil tenunan ulat. Yang paling mulia dari kendaraan adalah kuda, dan di atasnya lelaki dibunuh (ketika perang). Yang paling utama dari yang dinikahi adalah wanita, padahal ia adalah tempat keluarnya kotoran ke tempat keluarnya kotoran. Bahkan seorang wanita menghias bagian terbaik dari dirinya, padahal yang diinginkan darinya adalah bagian yang paling buruk. Dan yang paling mulia dari wewangian adalah misik, padahal ia adalah darah.” [Ihya Ulumiddin]

 

Harta yang paling kita butuhkan setiap harinya adalah apa yang kita makan, karena tanpa makanan kita akan mati. Dan Allah menyuruh kita untuk memperhatikan makakan. Allah SWT berfirman:

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ

Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya.” [QS Abasa : 24]

 

Maksudnya, kata Abdullah bin Abbas RA :

إِلَى رَجِيعِهِ

(hendaklah manusia memperhatikan) kepada apa yang keluar darinya (yakni kotorannya). ” [Ihya Ulumiddin]

 

Hal ini senada dengan ucapan Sahabat Abdullah bin Umar RA : “Sesungguhnya malaikat berkata kepada orang (yang melihat kotorannya sendiri) : Lihatlah apa yang dahulu engkau kikir terhadapnya (enggan mengeluarkannya), lihatlah menjadi apa ia sekarang.’” [Ihya]

 

Para ulama setelahnya, mereka juga mengajak kita merenungi hakikat dunia. Ibrahim ibn Adham (w. 166 H) ingin menggugah pikiran dan ia bertanya : “Apakah satu dirham (uang perak) dalam mimpi lebih engkau sukai, atau satu dinar (Uang Emas) dalam keadaan terjaga?” Seseorang menjawab: “Dinar dalam keadaan terjaga.” Beliau berkata: “Engkau berdusta. Karena sesungguhnya apa yang engkau cintai di dunia, seakan-akan engkau mencintainya dalam mimpi; dan apa yang tidak engkau cintai di akhirat, seakan-akan engkau tidak mencintainya dalam keadaan terjaga.” [Ihya]

 

Demikian pula, Fudlayl ibn Iyadl (w. 187 H) berkata : “Seandainya dunia itu terbuat dari emas yang fana, dan akhirat dari tanah liat yang kekal, niscaya seharusnya kita memilih tanah liat yang kekal daripada emas yang fana. Lalu bagaimana (keadaan kita sekarang), kita justru memilih tanah liat yang fana daripada emas yang kekal?” [Ihya]

 

Boleh jadi Kita tertipu karena selama ini kita hanya melihat nikmatnya dunia dan kita memang merasakan nikmat itu nyata sekarang ini. Namun jika kenikmatan dunia kita bandingkan dengan kenikmatan akhirat barulah kita akan tersadar bahwa kenikmatan yang kita rasakan di dunia ini ternyata tidak ada apa-apanya. Rasul SAW bersabda :

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ  فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” [HR  Muslim]

 

Selama ini dalam urusan dunia, kita merasa kurang dan kurang. Dan ini wajar terjadi karena Nabi Isa AS berkata :

مَثَلُ طَالِبِ الدُّنْيَا مِثْلُ شَارِبِ مَاءِ الْبَحْرِ، كُلَّمَا ازْدَادَ شُرْبًا ازْدَادَ عَطَشًا حَتَّى يَقْتُلَهُ.

Perumpamaan pencari dunia itu seperti orang yang minum air laut; setiap kali ia bertambah minum, semakin bertambah pula rasa hausnya, hingga akhirnya membinasakannya.” [Ihya]

 

Dengan tersingkapnya hakikat dunia maka manusia akan tersadar betapa meruginya selama ini. Jikapun manusia sekarang ini tidak tersadar juga, maka ketika mati ia baru tersadar akan hal tersebut. Hasan al-Bashri (w. 110 H) berkata :

لَا تَخْرُجُ نَفْسُ ابْنِ آدَمَ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا بِحَسَرَاتٍ ثَلَاثٍ

“Tidaklah jiwa anak Adam keluar dari dunia kecuali dengan tiga penyesalan: (1) ia tidak pernah merasa cukup dari apa yang ia kumpulkan, (2) ia tidak mencapai apa yang ia angan-angankan, (3) dan ia tidak memperbaiki bekal untuk apa yang akan ia hadapi (akhirat).” [Ihya]

 

Tidak sadarnya kita selama ini karena kita terus-terusan ditipu oleh dunia. Dunia terlihat indah dan menarik namun hakikatnya bertolak belakang. Suatu ketika diperlihatkanlah kepada Isa AS tentang hakikat dunia.

فَرَآهَا فِي صُورَةِ عَجُوزٍ هَتْمَاءَ عَلَيْهَا مِنْ كُلِّ زِينَةٍ

Beliau melihatnya dalam bentuk seorang wanita tua yang ompong, namun dihiasi dengan berbagai macam perhiasan.

Maka beliau bertanya kepadanya : ‘Berapa kali engkau menikah?’ Ia menjawab: ‘Aku tidak dapat menghitung mereka.’ Beliau bertanuya lagi : ‘Apakah semuanya meninggal darimu, atau semuanya menceraikanmu?’ Ia menjawab : ‘Bahkan, semuanya aku bunuh.’ Maka Nabi Isa AS berkata : ‘Celaka para suamimu yang masih tersisa! Mengapa mereka tidak mengambil pelajaran dari suami-suami terdahulu? Bagaimana engkau membinasakan mereka satu per satu, sementara mereka tidak waspada terhadapmu?”. [Ihya]

 

Maka berhati-hatilah dalam urusan dunia. Ali bin Abi Thalib RA berkata:

مَثَلُ الدُّنْيَا مَثَلُ الْحَيَّةِ لَيِّنٌ مَسُّهَا وَيَقْتُلُ سُمُّهَا

“Perumpamaan dunia itu seperti ular : sentuhannya lembut, tetapi racunnya mematikan”. [Ihya]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk tidak tertipu dengan wujud dunia yang terlihat cantik dengan filter kamera namun hakikatnya ia berwajah buruk dan membahayakan.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]


 

Share:

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts