• WhatsApp Channel : One Day One Hadith

    Bergabunglah bersama Saluran WhatsApp One Day One Hadith

  • Penerimaan Santri Baru 2026/2027

    Monggo nderek-nderek Nyethak Sholihin Sholihat dengan mendaftarkan putra putri jenengan ke PPW An-Nur 2 Al Murtadlo

  • Tadarus Akbar

    Tadarus Akbar oleh ribuan santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

  • Sholat Tarawih Akbar

    Sekitar 3.000 santri putra melaksanakan Tarawih Akbar di Lapangan Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Sabtu malam, 21 Februari 2026, lapangan center An-Nur II penuh dengan 24 saf santri berbaju putih

  • Bersama KAPOLRI

    Bersama Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo - KAPOLRI dan Majelis Keluarga An-Nur 2

DUNIA ITU SEBENTAR

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Said RA, Rasul SAW bersabda :

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ

Sesungguhnya dunia adalah manis dan hijau. [HR Muslim]

 

Catatan Alvers

 

Dunia itu sering membuat manusia tertipu. Dengan penampilan indahnya membuat banyak orang memperebutkannya tanpa disadari bahwa ia tidaklah awet, cepat rusak. Imam Nawawi memaknai hadits di atas “dunia itu manis dan hijau” dengan dua makna. Pertama, Dunia itu dari sisi keindahan, kesegarannya, dan kenikmatannya, seperti buah yang masih hijau lagi manis yang membuat manusia sangat tertarik. Kedua: dari itu dari sisi cepatnya rusak, seperti sesuatu (buah) yang hijau. [Al-Minhaj Syarah Muslim]

 

Allah SWT memberi peringatan dalam hal ini dalam firman-Nya :

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ

Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar. Maka, janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kalian.  [QS Fathir : 5]

 

Ada ilustrasi yang lain mengenati hakikat kehidupan dunia. Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tafsir Ad-Durrul Mantsur mengutip hadits dari Dala’ilun Nubuwwah, yang mengisahkan ketika Nabi dalam perjanan Isra’ menaiki buruaq, Beliau melihat seorang nenek-nenek di seberang jalan. Beliau bertanya siapakah gerangan? … Lalu Jibril menjawab :

أَمَّا الْعَجُوزُ الَّتِي رَأَيْتُهَا عَلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ، فَلَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا بَقِيَ مِنْ عُمُرِ تِلْكَ الْعَجُوزِ

“Adapun wanita tua yang aku lihat di pinggir jalan itu, maka tidak tersisa dari dunia ini kecuali seperti sisa umur wanita tua tersebut.” [HR Baihaqi]

 

Al-Ghazali berkata : Ketahuilah bahwa dunia itu indah pada penampilannya, tetapi buruk pada hakikat batinnya. Ia seperti seorang wanita tua yang berhias, yang menipu manusia dengan penampilan luarnya. Namun ketika mereka mengetahui hakikat batinnya dan tersingkaplah tabir dari wajahnya, tampaklah bagi mereka keburukan-keburukannya. Maka mereka pun menyesal karena telah mengikutinya, dan merasa malu atas lemahnya akal mereka karena tertipu oleh penampilan luarnya.” [Ihya Ulumiddin]

 

Dan Ibnu ‘Abbās berkata :

يُؤْتَى بِالدُّنْيَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي صُورَةِ عَجُوزٍ شَمْطَاءَ زَرْقَاءَ، أَنْيَابُهَا بَادِيَةٌ، مُشَوَّهًا خَلْقُهَا

“Dunia akan didatangkan pada hari kiamat dalam bentuk seorang wanita tua yang beruban, bermata kebiruan, giginya tampak menonjol, dan rupanya buruk.

Lalu ia ditampakkan kepada seluruh makhluk, kemudian dikatakan kepada mereka: ‘Apakah kalian mengenal ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami berlindung kepada Allah dari mengenal orang seperti ini.”

 

Maka dikatakan: ‘Inilah dunia yang dahulu kalian saling bermusuhan karenanya, memutuskan hubungan kekerabatan karenanya, saling dengki karenanya, saling membenci, dan tertipu olehnya.’ Kemudian dunia itu dilemparkan ke dalam neraka Jahannam. Lalu ia berseru: ‘Wahai Tuhanku, di mana para pengikutku dan golonganku?’ Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Susulkan kepadanya para pengikutnya dan golongannya.’” [Ihya Ulumiddin]

 

Sebentarnya masa hidup di dunia juga digambarkan oleh Nabi dengan bayang-bayang. Satu ketika Rasul SAW tidur di atas tikar, lalu beliau bangun dan bekas tikar itu terlihat pada lambung beliau. Maka kami (Abdullah Ibnu Mas’ud RA) berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami buatkan alas (yang empuk) untukmu.’ Maka Beliau bersabda,

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

‘Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah bayang-bayang sebuah pohon, lalu ia pergi dan meninggalkannya.’ [HR Tirmidzi]

 

Dikisahkan juga bahwa seorang Arab Badui singgah pada suatu kaum. Mereka menyuguhkan makanan kepadanya, lalu ia makan. Setelah itu ia pergi ke naungan sebuah kemah milik mereka dan tidur di sana. Kemudian mereka membongkar kemah itu sehingga ia terkena sinar matahari. Maka sang badui pun terbangun lalu berkata :

أَلَا إِنَّمَا الدُّنْيَا كَظِلٍّ بَنَيْتَهُ :: وَلَا بُدَّ يَوْمًا أَنَّ ظِلَّكَ زَائِلٌ

“Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu seperti bayangan yang engkau bangun, dan pasti suatu hari bayanganmu akan hilang.” [Ihya Ulumiddin]

 

Maka janganlah kita tertipu dengan kehidupan dunia yang durasinya seperti bayang-bayang. Al-Hasan bin Ali berkata :

يَا أَهْلَ لَذَّاتِ دُنْيَا لَا بَقَاءَ لَهَا :: إِنَّ اغْتِرَارًا بِظِلٍّ زَائِلٍ حُمْقٌ

“Wahai para pencari kenikmatan dunia yang tidak kekal, sesungguhnya tertipu oleh bayangan yang akan hilang adalah suatu kebodohan.”

 

Ada perumpamaan yang lebih cepat dari itu, dunia itu seperti mimpi. Suatu ketika Hasan al-Bashri menulis surat nasehat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz :

إِنَّمَا الدُّنْيَا حُلْمٌ وَالْآخِرَةُ يَقَظَةٌ وَالْمَوْتُ مُتَوَسِّطٌ وَنَحْنُ فِي أَضْغَاثِ أَحْلَامٍ

“Sesungguhnya dunia itu adalah mimpi, sedangkan akhirat adalah keadaan terjaga. Kematian adalah tengah-tengah (di antara keduanya); dan kita ini sekarang berada dalam mimpi-mimpi yang tak nyata.” [Al-Iqdul Farid]

 

Maka setiap kita yang hidup di dunia ini tak ubahnya seperti orang yang sedang tidur. Ali bin Abi Thalib RA berkata :

النَّاسُ نِيَامٌ فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا

Manusia itu tidur jika mereka mati maka mereka terbangun. [Al-Maqashid Al-Hasanah]

 

Dan Yunus bin ‘Ubaid berkata: ‘Aku tidak menyerupakan diriku di dunia ini kecuali seperti seseorang yang tidur, lalu melihat dalam mimpinya sesuatu yang ia benci dan sesuatu yang ia sukai. Ketika ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ia terbangun. Demikian pula manusia: mereka itu tidur, dan apabila mereka mati, mereka terbangun. Maka ketika itu, tidak ada lagi kenikmatan yang dahulu mereka senangi.’ [Ihya Ulumiddin]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita tidak tertipu dengan kehidupan di dunia yang fana dan singkat ini sehingga tidak melalaikan kehidupan kekal di akhirat nanti.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

DETIK DETIK NABI TERSENYUM

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Ia berkata :

ضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ

Nabi SAW tertawa hingga tampak gigi geraham beliau. [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Rasul SAW merupakan pribadi yang sedikit tertawa. Beliau menyebutkan alasannya. Beliau bersabda :

لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

“Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” [HR Bukhari]

 

Al-Qurtubi berkata : “Maksudnya sesuatu yang beliau ketahui adalah perkara-perkara akhirat, hiruk pikuknya, serta azab dan berbagai siksaan yang telah disiapkan di neraka ... Itulah yang menjadikan nabi banyak bersedih, sedikit tertawa dan kebanyakan tertawanya hanyalah berupa senyuman”. [Al-Mufhim Fima Asykala min Talkhish Kitab Muslim]

 

Inilah kiranya yang membuat Abu bakar RA, sahabat yang sudah digaransi dengan surga saja masih merasa takut dan tentunya orang yang takut tidak banyak tertawa. ia berkata :

لَوْ كَانَتْ إِحْدَى قَدَمَيَّ دَاخِلَ الْجَنَّةِ وَالْأُخْرَى خَارِجَهَا، مَا أَمِنْتُ مَكْرَ اللَّهِ.

“Seandainya satu kakiku sudah di surga dan satu lagi di luar, aku belum merasa aman dari makar Allah." [Ad-Dar al-Akhirah]

 

Namun perlu di ketahui bahwa ini adalah satu sisi di mana Islam adalah agama yang memperhatikan dua sisi sekaligus karena Nabi SAW diutus sebagai “Basyira“ (pembawa kabar gembira) dan juga sebagai “Nadzira”  (pemberi peringatan). Mengingatkan dua hal ini, Allah SWT berfirman:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ. وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih” [QS Al-Hijr : 49–50].

 

Dalam ayat ini, Allah SWT menggabungkan antara sifat kasih sayang dan ancaman, agar hamba-Nya hidup antara “Raja” harapan dan “Khauf” takut. Rasul SAW bersabda :

لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ

“Seandainya seorang mukmin mengetahui betapa dahsyatnya azab Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang mengharap surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui betapa luasnya rahmat Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berputus asa dari rahmat-Nya.” [HR Muslim].

 

Dengan demikian, meskipun Nabi SAW bersabda dalam hadits utama : “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” [HR Bukhari] namun dalam beberapa momen beliau juga ditemukan tertawa dengan tersenyum lebar hingga terlihat gigi geraham beliau. Simak bin Harb pernah bertanya : “Apakah engkau pernah duduk bersama Rasul SAW?” Jabir bin Samurah RA menjawab : “Ya.

فَكَانَ طَوِيلَ الصَّمْتِ قَلِيلَ الضَّحِكِ وَكَانَ أَصْحَابُهُ يَذْكُرُونَ عِنْدَهُ الشِّعْرَ وَأَشْيَاءَ مِنْ أُمُورِهِمْ فَيَضْحَكُونَ وَرُبَّمَا تَبَسَّمَ

Beliau itu banyak diam dan sedikit tertawa. Para sahabat membacakan di hadapan beliau syair-syair dan hal-hal dari urusan mereka, lalu mereka tertawa, dan terkadang beliau ikut tersenyum.” [HR Ahmad]

 

Suatu ketika, Nabi melihat koleksi boneka milik Aisyah yang di antaranya terdapat seekor kuda yang memiliki dua sayap dari kain, lalu beliau bertanya: “Akankah kuda punya dua sayap?” Aisyah menjawab:

أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلًا لَهَا أَجْنِحَةٌ

Bukankah engkau mendengar bahwa Nabi Sulaiman memiliki kuda yang bersayap!
Maka Rasul
SAW tertawa hingga terlihat gigi geraham beliau. [HR Abu Dawud]

 

Diriwayatkan dari Abdullah bin Masud RA bahwa satu ketika Nabi SAW menceritakan tentang orang terakhir yang keluar dari neraka, ia keluar dengan merangkak lalu ia diperintahkan untuk masuk ke dalam surga. Ketika ia hendak masuk ke dalam surga, ia melihat surga seakan-akan sudah penuh sehingga ia tidak jadi masuk surga. Iapun diperintahkan hingga tiga kali untuk masuk surga namun ia tetap melihat surga seakan-akan sudah penuh. Dan saat itu Allah berfirman : Masuklah kamu ke dalam surga karena (masih ada tempat) bagimu seluas sepuluh kali lipatnya dunia. Lelaki itu berkata :

تَسْخَرُ مِنِّي أَوْ تَضْحَكُ مِنِّي وَأَنْتَ الْمَلِكُ

Apakah Engkau mengejekku atau menertawakanku, padahal Engkau adalah Raja?

 

Abdullah bin Masud RA yang menyaksikan hal ini berkata : “Sungguh aku melihat Nabi SAW saat itu tertawa hingga tampak gigi geraham beliau”. [HR Bukhari]

 

Pada suatu hari, Salma pembantu nabi mengadukan suaminya kepada Nabi karena telah memukulnya. Salma bercerita bahwa ketika suami sedang melaksanakan shalat maka sauminya kentut. Mengetahui hal ini salma memerintahkan suaminya keluar dari shalat untuk berwudlu. Suami marah lalu memukul salma. Nabipun tertawa mengetahui hal kecil yang menjadi penyebabnya. Rasul SAW bersabda :

يَا أَبَا رَافِعٍ إِنَّهَا لَمْ تَأْمُرْكَ إِلَّا بِخَيْرٍ

 “Wahai Abu Rafi, dia tidak memerintahkanmu kecuali kepada kebaikan.” [HR Ahmad]

 

Nabi juga pernah tersenyum selepas bangun tidur. Menjelaskan alasannya, Beliau bersabda :

نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَرْكَبُونَ ثَبَجَ هَذَا الْبَحْرِ مُلُوكًا عَلَى الْأَسِرَّةِ

Diperlihatkan kepadaku (dalam mimpi) sekelompok orang yang berjihad dari umatku, mereka sedang mengarungi gelombang lautan (dengan gagahnya seperti layaknya) raja-raja di atas singgasananya.” [HR Bukhari]

 

Rasul SAW juga tertawa ketika Umar masuk ke rumah beliau. Ada apakah gerangan? Rasul SAW bersabda :

عَجِبْتُ مِنْ هَؤُلَاءِ اللَّاتِي كُنَّ عِنْدِي فَلَمَّا سَمِعْنَ صَوْتَكَ ابْتَدَرْنَ الْحِجَابَ

“Aku heran terhadap wanita-wanita yang tadi bersamaku. Ketika mereka mendengar suaramu, mereka segera bersembunyi (takut kepadamu).” [HR Bukhari]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk terus menyelaraskan kehidupan kita dengan ajaran Rasul SAW, baik perbuatan maupun ucapan bahkan sekedar tawa dan senyuman.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

TAWA NABI

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abdillah Ibnu Harits RA Iaberkata :

مَا كَانَ ضَحِكُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا تَبَسُّمًا

Tidaklah Rasul SAW tertawa melainkan dengan seyuman. [HR Tirmidzi]

 

Catatan Alvers

 

Menurut medis, tertawa itu menyehatkan bahkan bermanfaat untuk kesehatan mental maupun kesehatan fisik. Dalam berbagai penelitian ditemukan manfaatnya diantaranya dapat mengurangi stres, mengurangi gejala depresi, mengurangi risiko serangan jantung. memperkuat imunitas tubuh, mengurangi nyeri dll. [alodokter com] Meskipun demikian, tidak serta merta tertawa itu dianjurkan dalam Islam karena Islam tidak bersumber dari logika namun dari dogma wahyu Allah SWT. Maka dari itu mari kita cek bagaimana Islam menilai tertawa!

 

Tertawa itu ada beberapa macam. Ibnu Hajar Al-Asqalany berkata : Para ahli bahasa berkata: “Tersenyum (Tabassum) adalah permulaan dari tertawa. Sedangkan tertawa (Dlahik) adalah mengembangnya wajah hingga tampak gigi karena rasa senang. Jika disertai suara, dan suaranya dapat terdengar dari kejauhan, maka itu disebut qahqahah (tertawa terbahak-bahak). Jika tidak sampai demikian, maka itu adalah tertawa biasa. Jika tanpa suara, maka itu adalah tersenyum. Gigi-gigi yang berada di bagian depan mulut disebut dawahik (gigi yang tampak saat tertawa), yaitu: gigi seri, gigi taring dan yang berada setelahnya disebut dengan nawajidz (gigi geraham). [Fathul Bari] Dan dari sisi hukum, senyum dan tertawa itu berbeda. Dalam hadits disebutkan :

اَلْكَشْرُ لَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ، وَلَكِنْ يَقْطَعُهَا الْقَرْقَرَةُ

Senyum itu tidak membatalkan shalat akan tetapi yang membatalkan adalah tertawa dengan suara. [HR Al-Khatib]

 

Lantas bagaimana dengan tertawanya Rasul SAW sendiri? Di satu sisi, Siti Aisyah RA berkata :

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ

“Aku tidak pernah melihat Rasul SAW tertawa (lebar) sampai aku melihat bagian dalam tenggorokannya, sesungguhnya beliau hanyalah tersenyum.” [HR Bukhari]

 

Namun di sisi lain banyak ditemukan hadits yang menyatakan :

ضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ
Nabi SAW tertawa hingga tampak gigi geraham beliau. [HR Bukhari]

 

Maka Ibnu Hajar Al-Asqalany berkata : (kedua hadits itu tidaklah bertentangan) karena tampaknya gigi geraham — yaitu gigi yang berada di bagian depan mulut atau taring — tidak mengharuskan terlihatnya lahawat (bagian dalam tenggorokan/langit-langit mulut). [Fathul Bari]

 

Dengan demikian tertawanya beliau berupa  tersenyum lebar dan bukan berupa tertawa hingga terbahak-bahak sebagaimana hadits utama diatas. Dan Abdillah Ibnu Harits RA berkata :

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Nabi SAW. [HR Tirmidzi]

 

Dan demikian pula dalam syariat terdahulu. Suatu ketika Nabi Musa pernah berkata kepada Nabi Khidir: “Berilah aku wasiat.” Maka Nabi Khidir berkata :

كُنْ بَسَّامًا وَلَا تَكُنْ غَضَّابًا

“Jadilah engkau orang yang banyak tersenyum, jangan menjadi orang yang mudah marah. [Faidlul Qadir]

 

Tertawa dengan suara lepas tidaklah dianjurkan bahkan sebaliknya, kita dianjurkan untuk sedikit tertawa. Hal itu dikarenakan Rasul SAW bersabda :

لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

“Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” [HR Bukhari]

 

Alasan lain adalah karena banyak tertawa akan menimbulkan efek negatif. Apa itu? Rasul SAW bersabda :

وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah engkau banyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati.” [HR Ahmad]

 

Menjelaskan hal ini, As-Sindy berkata :

أَيْ تَجْعَلُهُ قَاسِيًا لَا يَتَأَثَّرُ بِالْمَوَاعِظِ كَالْمَيِّتِ

Banyak tertawa menyebabkan hati menjadi keras, tidak mempan dinasehati layaknya seperti orang mati. [Hasyiyah As-Sindy]

 

Alasan lainnya adalah dikarenakan tawa akan dihisab pada hari kiamat. Pada suatu hari Al-Awza’i menasehati khalifah Al-Manshur : “Wahai Amirul Mukminin, tahukah engkau akan penafsiran yang datang dari ayat berikut dari kakekmu :

مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا

‘Mengapa kitab ini tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’

Ia melanjutkan : ‘Yang kecil itu adalah senyuman, dan yang besar adalah tertawa.’

Lantas bagaimana dengan apa yang dilakukan oleh tangan-tangan dan yang diucapkan oleh lisan-lisan, wahai Amirul Mukminin!’”  [Syu’abul Iman]

 

Tidak banyak tertawa bukan berarti tidak tertawa sama sekali, sehingga hadits utama di atas dipahami sebagai pembatasan secara relatif atau bentuk mubalaghah. Al-Mubarakfury berkata : “Dan pembatasan (dalam hadits) ini bersifat relatif (idlafy), yaitu jika dibandingkan dengan yang lebih dominan (kebiasaan beliau). Karena telah nyata bahwa Nabi SAW terkadang tertawa hingga tampak gigi gerahamnya, kecuali jika ini dipahami sebagai bentuk mubalaghah (ungkapan yang berlebih-lebihan).” [Tuhfatul Ahwadzi]

 

Nabi SAW sendiri sesekali ditemukan tertawa hingga terlihat gigi geraham beliau. Diantaranya ketika seorang alim dari kalangan Yahudi berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya kami mendapati (dalam kitab kami) bahwa Allah menjadikan langit di atas satu jari, bumi di atas satu jari, pepohonan di atas satu jari, air dan tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk lainnya di atas satu jari, kemudian Dia berfirman: ‘Akulah Raja. Maka Nabi SAW tertawa hingga tampak gigi geraham beliau, sebagai pembenaran terhadap perkataan orang alim tersebut. Kemudian membaca QS. Az-Zumar: 67. [HR Bukhari]

Dalam kesempatan lain, ada seorang laki-laki datang kepada Nabi mengaku telah menggauli istri di siang hari bulan Ramadhan. Ketika ia disuruh untuk memerdekakan seorang budak, maka ia tidak mampu. ketika disuruh berpuasa dua bulan berturut-turut, ia juga tidak mampu. Disuruh beri makan enam puluh orang miskin, ia juga tidak mampu. Akhirnya Nabi memberikan sebuah keranjang berisi kurma kepadanya untuk diberikan kepada fakir miskin. Dan lelaki itu berkata “ Demi Allah, di Madinah ini tidak ada keluarga yang lebih miskin daripada kami.” Maka Nabi SAW tertawa hingga tampak gigi geraham beliau, lalu bersabda: “Kalau begitu, berikanlah kepada keluargamu.” [HR Bukhari]

Demikian pula Nabi Sulaiman. Allah SWT berfirman : “hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.”

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا

Maka Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu... [QS An-Naml : 19]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk terus menyelaraskan kehidupan kita dengan ajaran Rasul SAW, baik perbuatan maupun ucapan bahkan sekedar tawa dan senyuman.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts