• WhatsApp Channel : One Day One Hadith

    Bergabunglah bersama Saluran WhatsApp One Day One Hadith

  • Penerimaan Santri Baru 2026/2027

    Monggo nderek-nderek Nyethak Sholihin Sholihat dengan mendaftarkan putra putri jenengan ke PPW An-Nur 2 Al Murtadlo

  • Tadarus Akbar

    Tadarus Akbar oleh ribuan santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

  • Sholat Tarawih Akbar

    Sekitar 3.000 santri putra melaksanakan Tarawih Akbar di Lapangan Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Sabtu malam, 21 Februari 2026, lapangan center An-Nur II penuh dengan 24 saf santri berbaju putih

  • Bersama KAPOLRI

    Bersama Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo - KAPOLRI dan Majelis Keluarga An-Nur 2

TEKS DOA HARI ARAFAH


الدُّعَاءُ الْمَأْثُورُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
وَعَنِ السَّلَفِ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ

DOA YANG DIRIWAYATKAN DARI RASUL SAW
DAN DARI PARA SALAF PADA HARI ARAFAH

Diambil dari Kitab Ihya Ulumiddin Imam Ghazali
Bisa dibaca untuk yang di rumah maupun yang sedang di Arafah
(Dengan terdapat tanda khusus yang membedakan)

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
Artinya
“Tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Hidup dan tidak akan mati. Di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
________________________________________
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي سَمْعِي نُورًا، وَفِي بَصَرِي نُورًا، وَفِي لِسَانِي نُورًا.
Artinya
“Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, pada pendengaranku, pada penglihatanku, dan pada lisanku.”
________________________________________
اللَّهُمَّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي.
Artinya
“Ya Allah, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku.”

اللَّهُمَّ رَبَّ الْحَمْدِ، لَكَ الْحَمْدُ كَمَا تَقُولُ، وَخَيْرًا مِمَّا نَقُولُ، لَكَ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي، وَإِلَيْكَ مَآبِي وَإِلَيْكَ ثَوَابِي.
Artinya
Ya Allah, wahai Tuhan segala pujian, bagi-Mu segala pujian sebagaimana Engkau memuji diri-Mu, bahkan lebih baik daripada apa yang kami ucapkan. Untuk-Mu shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku. Kepada-Mu tempat kembaliku, dan kepada-Mu pahalaku.”

________________________________________
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الصَّدْرِ، وَشَتَّاتِ الْأَمْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ.
Artinya
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan hati, kekacauan urusan, dan azab kubur.”
________________________________________
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا يَلِجُ فِي اللَّيْلِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَلِجُ فِي النَّهَارِ، وَمِنْ شَرِّ مَا تَهُبُّ بِهِ الرِّيَاحُ، وَمِنْ شَرِّ بَوَائِقِ الدَّهْرِ.
Artinya
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang masuk pada malam hari, dari keburukan yang masuk pada siang hari, dari keburukan yang dibawa angin, dan dari berbagai bencana zaman.”
________________________________________
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ تَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ.
Artinya
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berubahnya nikmat keselamatan-Mu, datangnya siksa-Mu secara tiba-tiba, dan dari seluruh kemurkaan-Mu.”

اللَّهُمَّ اهْدِنِي بِالْهُدَى، وَاغْفِرْ لِي فِي الْآخِرَةِ وَالْأُولَى، يَا خَيْرَ مَقْصُودٍ، وَأَسْنَى مَنْزُولٍ بِهِ، وَأَكْرَمَ مَسْئُولٍ مَا لَدَيْهِ، أَعْطِنِي الْعَشِيَّةَ أَفْضَلَ مَا أَعْطَيْتَ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ وَحُجَّاجِ بَيْتِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Artinya
“Ya Allah, berilah aku petunjuk-Mu, dan ampunilah aku di akhirat dan di dunia. Wahai sebaik-baik tujuan, tempat berlindung paling mulia, dan Zat paling dermawan yang diminta karunia-Nya, berilah aku pada petang ini sesuatu yang paling utama yang pernah Engkau berikan kepada salah seorang dari makhluk-Mu dan para jamaah haji-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.”
________________________________________
اللَّهُمَّ يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ، وَمُنْزِلَ الْبَرَكَاتِ، وَ يَا فَاطِرَ الْأَرَضِينَ وَالسَّمَاوَاتِ، ضَجَّتْ إِلَيْكَ الْأَصْوَاتُ بِصُنُوفِ اللُّغَاتِ يَسْأَلُونَكَ الْحَاجَاتِ، وَحَاجَتِي إِلَيْكَ أَنْ لَا تَنْسَانِي فِي دَارِ الْبَلَاءِ إِذَا نَسِيَنِي أَهْلُ الدُّنْيَا.
Artinya
“Ya Allah, wahai Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang menurunkan keberkahan, wahai Pencipta bumi dan langit, suara-suara telah berseru kepada-Mu dengan berbagai bahasa memohon hajat mereka. Dan hajatku kepada-Mu adalah agar Engkau tidak melupakan aku di negeri ujian ketika semua penduduk dunia melupakanku.”
________________________________________

اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَسْمَعُ كَلَامِي، وَتَرَى مَكَانِي، وَتَعْلَمُ سِرِّي وَعَلَانِيَتِي، وَلَا يَخْفَى عَلَيْكَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِي، أَنَا الْبَائِسُ الْفَقِيرُ، الْمُسْتَغِيثُ الْمُسْتَجِيرُ، الْوَجِلُ الْمُشْفِقُ، الْمُعْتَرِفُ بِذَنْبِهِ، أَسْأَلُكَ مَسْأَلَةَ الْمِسْكِينِ، وَأَبْتَهِلُ إِلَيْكَ ابْتِهَالَ الْمُذْنِبِ الذَّلِيلِ، وَأَدْعُوكَ دُعَاءَ الْخَائِفِ الضَّرِيرِ، دُعَاءَ مَنْ خَضَعَتْ لَكَ رَقَبَتُهُ، وَفَاضَتْ لَكَ عَبْرَتُهُ، وَذَلَّ لَكَ جَسَدُهُ، وَرَغِمَ لَكَ أَنْفُهُ.
Artinya
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mendengar perkataanku, melihat tempatku, mengetahui rahasia dan apa yang tampak dariku, dan tidak tersembunyi bagi-Mu sedikit pun urusanku. Aku adalah orang sengsara lagi fakir, yang memohon pertolongan dan perlindungan, yang takut dan cemas, yang mengakui dosanya. Aku memohon kepada-Mu seperti permohonan orang miskin, dan aku merendahkan diri kepada-Mu seperti kerendahan orang berdosa yang hina. Aku berdoa kepada-Mu dengan doa orang yang takut lagi buta, doa orang yang bertekuk lutut kepada-Mu, bercucuran air matanya karena-Mu, hina jasad dan dirinya di hadapan-Mu.”
________________________________________


اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا، وَكُنْ بِي رَءُوفًا رَحِيمًا، يَا خَيْرَ الْمَسْئُولِينَ وَأَكْرَمَ الْمُعْطِينَ. إِلٰهِي مَنْ مَدَحَ لَكَ نَفْسَهُ فَإِنِّي لَائِمُ نَفْسِي. إِلٰهِي أَخْرَسَتِ الْمَعَاصِي لِسَانِي، فَمَا لِي وَسِيلَةٌ مِنْ عَمَلٍ وَلَا شَفِيعٌ سِوَى الْأَمَلِ. إِلٰهِي إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّ ذُنُوبِي لَمْ تُبْقِ لِي عِنْدَكَ جَاهًا وَلَا لِلِاعْتِذَارِ وَجْهًا، وَلٰكِنَّكَ أَكْرَمُ الْأَكْرَمِينَ.
Artinya
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku celaka karena berdoa kepada-Mu wahai Tuhanku. Jadilah Engkau kepadaku Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, wahai sebaik-baik tempat meminta dan semulia-mulia pemberi. Tuhanku, jika orang-orang yang memuji dirinya (dengan amal baiknya) di hadapan-Mu, maka aku justru mencela diriku sendiri (dengan banyaknya maksiatku). Tuhanku, kemaksiatan telah membungkam lisanku, sehingga aku tidak memiliki perantara berupa amal dan tidak pula pemberi syafaat selain harapan. Tuhanku, aku tahu dosa-dosaku tidak lagi menyisakan kedudukan bagiku di sisi-Mu dan tidak pula alasan untuk meminta maaf, akan tetapi Engkau adalah Yang Maha mulia dari segala yang mulia.”

إِلٰهِي إِنْ لَمْ أَكُنْ أَهْلًا أَنْ أَبْلُغَ رَحْمَتَكَ فَإِنَّ رَحْمَتَكَ أَهْلٌ أَنْ تَبْلُغَنِي، وَرَحْمَتُكَ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ وَأَنَا شَيْءٌ. إِلٰهِي إِنَّ ذُنُوبِي وَإِنْ كَانَتْ عِظَامًا وَلٰكِنَّهَا صِغَارٌ فِي جَنْبِ عَفْوِكَ، فَاغْفِرْهَا لِي يَا كَرِيمُ. 
Artinya
“Tuhanku, jika aku tidak pantas mencapai rahmat-Mu, maka rahmat-Mu pantas untuk mencapai diriku. Karena Rahmat-Mu meliputi segala sesuatu, dan aku adalah sesuatu itu. Tuhanku, sesungguhnya dosa-dosaku walaupun besar, namun kecil dibanding ampunan-Mu. Maka ampunilah aku wahai Yang Maha mulia.
________________________________________
إِلٰهِي أَنْتَ أَنْتَ وَأَنَا أَنَا، أَنَا الْعَوَّادُ إِلَى الذُّنُوبِ وَأَنْتَ الْعَوَّادُ إِلَى الْمَغْفِرَةِ. إِلٰهِي إِنْ كُنْتَ لَا تَرْحَمُ إِلَّا أَهْلَ طَاعَتِكَ فَإِلَى مَنْ يَفْزَعُ الْمُذْنِبُونَ؟
Tuhanku, Engkau tetaplah Engkau dan aku tetaplah aku; aku adalah orang yang terus kembali kepada dosa, sedangkan Engkau adalah Dzat yang terus kembali dengan ampunan. Tuhanku, jika Engkau tidak merahmati kecuali orang-orang yang taat kepada-Mu, maka kepada siapa lagi orang-orang berdosa berlindung?”
________________________________________
إِلٰهِي تَجَنَّبْتُ عَنْ طَاعَتِكَ عَمْدًا، وَتَوَجَّهْتُ إِلَى مَعْصِيَتِكَ قَصْدًا، فَسُبْحَانَكَ مَا أَعْظَمَ حُجَّتَكَ عَلَيَّ وَأَكْرَمَ عَفْوَكَ عَنِّي. فَبِوُجُوبِ حُجَّتِكَ عَلَيَّ، وَانْقِطَاعِ حُجَّتِي عَنْكَ، وَفَقْرِي إِلَيْكَ، وَغِنَاكَ عَنِّي، إِلَّا غَفَرْتَ لِي يَا خَيْرَ مَنْ دَعَاهُ دَاعٍ، وَأَفْضَلَ مَنْ رَجَاهُ رَاجٍ. 
Artinya
“Tuhanku, aku menjauhi ketaatan kepada-Mu dengan sengaja dan menuju kemaksiatan kepada-Mu dengan sadar. Maha Suci Engkau, betapa kuat hujah-Mu atasku dan betapa mulia ampunan-Mu kepadaku. Maka dengan tegaknya hujjah-Mu atasku, terputusnya alasanku di hadapan-Mu, kefakiranku kepada-Mu, dan ketidakbutuhan-Mu kepadaku, ampunilah aku wahai sebaik-baik Dzat yang dimintai dan seutama-utama Dzat yang diharapkan.

بِحُرْمَةِ الْإِسْلَامِ، وَبِذِمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ، أَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ، فَاغْفِرْ لِي جَمِيعَ ذُنُوبِي، وَاصْرِفْنِي مِنْ مَوْقِفِي هٰذَا مَقْضِيَّ الْحَوَائِجِ، وَهَبْ لِي مَا سَأَلْتُ، وَحَقِّقْ رَجَائِي فِيمَا تَمَنَّيْتُ.
Artinya
Dengan kemuliaan Islam dan kehormatan Nabi Muhammad SAW aku bertawassul kepada-Mu. Maka ampunilah seluruh dosaku, kembalikan aku dari tempat ini dengan terkabulnya kebutuhan-kebutuhanku, anugerahkan kepadaku apa yang kuminta, dan wujudkan harapanku atas apa yang kuinginkan.”
________________________________________

إِلٰهِي دَعَوْتُكَ بِالدُّعَاءِ الَّذِي عَلَّمْتَنِيهِ، فَلَا تَحْرِمْنِي الرَّجَاءَ الَّذِي عَرَّفْتَنِيهِ. إِلٰهِي مَا أَنْتَ صَانِعٌ الْعَشِيَّةَ بِعَبْدٍ مُقِرٍّ لَكَ بِذَنْبِهِ، خَاشِعٍ لَكَ بِذِلَّتِهِ، مُسْتَكِينٍ بِجُرْمِهِ، مُتَضَرِّعٍ إِلَيْكَ مِنْ عَمَلِهِ، تَائِبٍ إِلَيْكَ مِنِ اقْتِرَافِهِ، مُسْتَغْفِرٍ لَكَ مِنْ ظُلْمِهِ، مُبْتَهِلٍ إِلَيْكَ فِي الْعَفْوِ عَنْهُ، طَالِبٍ إِلَيْكَ نَجَاحَ حَوَائِجِهِ، رَاجٍ إِلَيْكَ فِي مَوْقِفِهِ مَعَ كَثْرَةِ ذُنُوبِهِ. 
Artinya
“Tuhanku, aku berdoa kepada-Mu dengan doa yang Engkau ajarkan kepadaku, maka janganlah Engkau halangi aku dari harapan yang telah Engkau ajarkan kepadaku. Tuhanku, apakah kiranya yang akan Engkau lakukan pada petang ini terhadap seorang hamba yang mengakui dosanya kepada-Mu, tunduk karena kehinaannya di hadapan-Mu, merasa hina karena kejahatannya, merendahkan diri kepada-Mu karena amalnya, bertobat kepada-Mu dari perbuatannya, memohon ampun kepada-Mu atas kezalimannya, bersungguh-sungguh memohon maaf kepada-Mu, meminta kepada-Mu keberhasilan hajat-hajatnya, dan berharap kepada-Mu di tempat berdirinya ini meskipun dosanya banyak?


فَيَا مَلْجَأَ كُلِّ حَيٍّ، وَوَلِيَّ كُلِّ مُؤْمِنٍ، مَنْ أَحْسَنَ فَبِرَحْمَتِكَ يَفُوزُ، وَمَنْ أَخْطَأَ فَبِخَطِيئَتِهِ يَهْلِكُ.
Artinya
Wahai tempat berlindung setiap makhluk hidup dan pelindung setiap mukmin, siapa yang berbuat baik maka dengan rahmat-Mu ia beruntung, dan siapa yang bersalah maka karena kesalahannya ia binasa.”
________________________________________


Satu paragraf berikut ini
Khusus dibaca orang yang sedang wukuf
Bagi yang tidak berhaji, doa ini bisa di skip



اللَّهُمَّ إِلَيْكَ خَرَجْنَا، وَبِفِنَائِكَ أَنَخْنَا، وَإِيَّاكَ أَمَلْنَا، وَمَا عِنْدَكَ طَلَبْنَا، وَلِإِحْسَانِكَ تَعَرَّضْنَا، وَرَحْمَتَكَ رَجَوْنَا، وَمِنْ عَذَابِكَ أَشْفَقْنَا، وَإِلَيْكَ بِأَثْقَالِ الذُّنُوبِ هَرَبْنَا، وَلِبَيْتِكَ الْحَرَامِ حَجَجْنَا، يَا مَنْ يَمْلِكُ حَوَائِجَ السَّائِلِينَ، وَيَعْلَمُ ضَمَائِرَ الصَّامِتِينَ.
Artinya
“Ya Allah, kepada-Mu kami keluar, di pelataran-Mu kami singgah, kepada-Mu kami berharap, dan apa yang ada di sisi-Mu kami cari. Kepada kebaikan-Mu kami menghadapkan diri, rahmat-Mu kami harapkan, dari azab-Mu kami takut, dan kepada-Mu kami lari dengan membawa beban dosa-dosa kami. Kepada rumah-Mu yang mulia kami berhaji. Wahai Dzat yang memiliki kebutuhan para peminta dan mengetahui isi hati orang-orang yang diam.”
________________________________________
يَا مَنْ لَيْسَ مَعَهُ رَبٌّ يُدْعَى، وَيَا مَنْ لَيْسَ فَوْقَهُ خَالِقٌ يُخْشَى، وَيَا مَنْ لَيْسَ لَهُ وَزِيرٌ يُؤْتَى، وَلَا حَاجِبٌ يُرْشَى، يَا مَنْ لَا يَزْدَادُ عَلَى كَثْرَةِ السُّؤَالِ إِلَّا جُودًا وَكَرَمًا، وَعَلَى كَثْرَةِ الْحَوَائِجِ إِلَّا تَفَضُّلًا وَإِحْسَانًا.

Artinya
“Wahai Dzat yang tidak ada tuhan lain bersama-Nya untuk diseru, tidak ada pencipta di atas-Nya untuk ditakuti, tidak memiliki menteri tempat menghadap, dan tidak memiliki penjaga pintu yang dapat disuap. Wahai Dzat yang tidak bertambah dengan banyaknya permintaan kecuali kemurahan dan kemuliaan, dan tidak bertambah dengan banyaknya kebutuhan kecuali karunia dan kebaikan.”

________________________________________

________________________________________

Satu paragraf berikut ini
Khusus dibaca orang yang sedang wukuf
Bagi yang tidak berhaji, doa ini bisa di skip

اللَّهُمَّ إِنَّكَ جَعَلْتَ لِكُلِّ ضَيْفٍ قِرًى، وَنَحْنُ أَضْيَافُكَ، فَاجْعَلْ قِرَانَا مِنْكَ الْجَنَّةَ. اللَّهُمَّ إِنَّ لِكُلِّ وَفْدٍ جَائِزَةً، وَلِكُلِّ زَائِرٍ كَرَامَةً، وَلِكُلِّ سَائِلٍ عَطِيَّةً، وَلِكُلِّ رَاجٍ ثَوَابًا، وَلِكُلِّ مُلْتَمِسٍ لِمَا عِنْدَكَ جَزَاءً، وَلِكُلِّ مُسْتَرْحِمٍ عِنْدَكَ رَحْمَةً، وَلِكُلِّ رَاغِبٍ إِلَيْكَ زُلْفَى، وَلِكُلِّ مُتَوَسِّلٍ إِلَيْكَ عَفْوًا، وَقَدْ وَفَدْنَا إِلَى بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَوَقَفْنَا بِهٰذِهِ الْمَشَاعِرِ الْعِظَامِ، وَشَهِدْنَا هٰذِهِ الْمَشَاهِدَ الْكِرَامَ، رَجَاءً لِمَا عِنْدَكَ، فَلَا تُخَيِّبْ رَجَاءَنَا.


Artinya
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau menjadikan bagi setiap tamu suatu jamuan, dan kami adalah tamu-tamu-Mu. Maka jadikanlah jamuan kami dari-Mu berupa surga.” “Ya Allah, sesungguhnya bagi setiap rombongan ada hadiah, bagi setiap tamu ada kemuliaan, bagi setiap peminta ada pemberian, bagi setiap orang yang berharap ada pahala, bagi setiap pencari apa yang ada di sisi-Mu ada balasan, bagi setiap orang yang memohon kasih sayang ada rahmat di sisi-Mu, bagi setiap orang yang mengharap kepada-Mu ada kedekatan, dan bagi setiap orang yang bertawassul kepada-Mu ada ampunan. Dan sungguh kami telah datang ke rumah-Mu yang mulia, berdiri di tempat-tempat syi’ar yang agung ini, dan menyaksikan tempat-tempat mulia ini dengan mengharap apa yang ada di sisi-Mu. Maka janganlah Engkau kecewakan harapan kami.”
________________________________________

إِلٰهَنَا تَتَابَعَتِ النِّعَمُ حَتَّى اطْمَأَنَّتِ الْأَنْفُسُ بِتَتَابُعِ نِعَمِكَ، وَأَظْهَرْتَ الْعِبَرَ حَتَّى نَطَقَتِ الصَّوَامِتُ بِحُجَّتِكَ، وَظَاهَرْتَ الْمِنَنَ حَتَّى اعْتَرَفَ أَوْلِيَاؤُكَ بِالتَّقْصِيرِ عَنْ حَقِّكَ، وَأَظْهَرْتَ الْآيَاتِ حَتَّى أَفْصَحَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرَضُونَ بِأَدِلَّتِكَ، وَقَهَرْتَ بِقُدْرَتِكَ حَتَّى خَضَعَ كُلُّ شَيْءٍ لِعِزَّتِكَ، وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِعَظَمَتِكَ. 
Artinya
“Wahai Tuhan kami, nikmat-nikmat-Mu terus datang silih berganti hingga hati menjadi tenteram dengan bertubi-tubinya nikmat-Mu. Engkau tampakkan pelajaran-pelajaran hingga benda-benda yang diam pun berbicara dengan hujjah-Mu. Engkau limpahkan karunia-karunia hingga para wali-Mu mengakui kekurangan mereka dalam menunaikan hak-Mu. Engkau tampakkan tanda-tanda kebesaran hingga langit dan bumi menjelaskan dalil-dalil tentang keberdaan-Mu. Engkau menundukkan dengan kekuasaan-Mu hingga segala sesuatu tunduk kepada kemuliaan-Mu dan wajah-wajah merendah di hadapan keagungan-Mu.


إِذَا أَسَاءَ عِبَادُكَ حَلُمْتَ وَأَمْهَلْتَ، وَإِنْ أَحْسَنُوا تَفَضَّلْتَ وَقَبِلْتَ، وَإِنْ عَصَوْا سَتَرْتَ، وَإِنْ أَذْنَبُوا عَفَوْتَ وَغَفَرْتَ، وَإِذَا دَعَوْنَا أَجَبْتَ، وَإِذَا نَادَيْنَا سَمِعْتَ، وَإِذَا أَقْبَلْنَا إِلَيْكَ قَرَّبْتَ، وَإِذَا وَلَّيْنَا عَنْكَ دَعَوْتَ.
Apabila hamba-hamba-Mu berbuat buruk, Engkau bersikap lembut dan menangguhkan hukuman. Jika mereka berbuat baik, Engkau berkenan menerima dan memberi karunia. Jika mereka bermaksiat, Engkau menutupi aib mereka. Jika mereka berdosa, Engkau memaafkan dan mengampuni. Jika kami berdoa, Engkau mengabulkan. Jika kami memanggil, Engkau mendengar. Jika kami mendekat kepada-Mu, Engkau mendekatkan kami. Dan jika kami berpaling dari-Mu, Engkau tetap memanggil kami.”
________________________________________

إِلٰهَنَا إِنَّكَ قُلْتَ فِي كِتَابِكَ الْمُبِينِ لِمُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ: ﴿قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ﴾، فَأَرْضَاكَ عَنْهُمُ الْإِقْرَارُ بِكَلِمَةِ التَّوْحِيدِ بَعْدَ الْجُحُودِ، وَإِنَّا نَشْهَدُ لَكَ بِالتَّوْحِيدِ مُخْبِتِينَ، وَلِمُحَمَّدٍ بِالرِّسَالَةِ مُخْلِصِينَ، فَاغْفِرْ لَنَا بِهٰذِهِ الشَّهَادَةِ سَوَالِفَ الْإِجْرَامِ، وَلَا تَجْعَلْ حَظَّنَا فِيهِ أَنْقَصَ مِنْ حَظِّ مَنْ دَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ.
Artinya
“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah berfirman dalam kitab-Mu yang nyata kepada Muhammad penutup para nabi: Katakanlah kepada orang-orang kafir: jika mereka berhenti, niscaya akan diampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu. Maka Engkau meridhai dari mereka pengakuan kalimat tauhid setelah sebelumnya ingkar. Dan kami pun bersaksi kepada-Mu dengan tauhid dalam keadaan tunduk, dan kepada Muhammad dengan kerasulan dalam keadaan ikhlas. Maka ampunilah bagi kami dengan kesaksian ini dosa-dosa kami yang telah lalu, dan janganlah bagian kami dalam hal ini lebih sedikit daripada bagian orang yang baru masuk Islam.”

إِلٰهَنَا إِنَّكَ أَحْبَبْتَ التَّقَرُّبَ إِلَيْكَ بِعِتْقِ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُنَا، وَنَحْنُ عَبِيدُكَ، وَأَنْتَ أَوْلَى بِالتَّفَضُّلِ، فَأَعْتِقْنَا. وَإِنَّكَ أَمَرْتَنَا أَنْ نَتَصَدَّقَ عَلَى فُقَرَائِنَا، وَنَحْنُ فُقَرَاؤُكَ، وَأَنْتَ أَحَقُّ بِالتَّطَوُّلِ، فَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا. وَوَصَّيْتَنَا بِالْعَفْوِ عَمَّنْ ظَلَمَنَا، وَقَدْ ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَأَنْتَ أَحَقُّ بِالْكَرَمِ، فَاعْفُ عَنَّا.
Artinya
“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau menyukai pendekatan diri kepada-Mu dengan memerdekakan budak-budak yang kami miliki. Sedangkan kami adalah hamba-hamba-Mu, dan Engkau lebih berhak untuk memberi karunia, maka merdekakanlah kami. Engkau memerintahkan kami untuk bersedekah kepada orang-orang fakir kami, sedangkan kami adalah orang-orang fakir-Mu, dan Engkau lebih berhak memberi kemurahan, maka bersedekahlah kepada kami. Dan Engkau mewasiatkan kepada kami untuk memaafkan orang yang menzalimi kami, sementara kami telah menzalimi diri kami sendiri, dan Engkau lebih berhak dengan kemuliaan, maka maafkanlah kami.”
________________________________________

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ النَّارِ.
Artinya
“Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dengan rahmat-Mu dari azab neraka.”

________________________________________

“LALU PERBANYAK MEMBACA DOA NABI KHIDIR AS, YAITU :

يَا مَنْ لَا يَشْغَلُهُ شَأْنٌ عَنْ شَأْنٍ، وَلَا سَمْعٌ عَنْ سَمْعٍ، وَلَا تَشْتَبِهُ عَلَيْهِ الْأَصْوَاتُ، يَا مَنْ لَا تُغْلِطُهُ الْمَسَائِلُ، وَلَا تَخْتَلِفُ عَلَيْهِ اللُّغَاتُ، يَا مَنْ لَا يُبْرِمُهُ إِلْحَاحُ الْمُلِحِّينَ، وَلَا تُضْجِرُهُ مَسْأَلَةُ السَّائِلِينَ، أَذِقْنَا بَرْدَ عَفْوِكَ وَحَلَاوَةَ مُنَاجَاتِكَ
Artinya
‘Wahai Dzat yang tidak disibukkan oleh satu urusan dari urusan yang lain, tidak pula satu pendengaran dari pendengaran yang lain, dan tidak samar bagi-Nya berbagai suara. Wahai Dzat yang tidak dibuat bingung oleh berbagai permintaan dan tidak berbeda bagi-Nya berbagai bahasa. Wahai Dzat yang tidak merasa jemu oleh desakan orang-orang yang terus meminta dan tidak merasa bosan oleh permohonan para pemohon. Angugerahkan kepada kami kesejukan maaf-Mu dan manisnya bermunajat kepada-Mu.’
________________________________________


LALU LANJUTKANLAH BERDOA DENGAN DOA-DOA KEBAIKAN LAINNYA,
 


LALU MOHONKANLAH AMPUNAN UNTUK DIRI SENDIRI, KEDUA ORANG TUA, SERTA SELURUH KAUM MU’MININ DAN MU’MINAT.
 
Seperti lazimnya dzikir sehabis shalat berikut ini :

اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ، وَلِاَصْحَابِ الْحُقُوْقِ الْوَاجِبَةِ عَلَيَّ، وَلِمَشَايِخِنَا وَلِاِخْوَانِنَا، وَلِجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ

________________________________________

DAN BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH DALAM BERDOA DAN MINTALAH PERKARA-PERKARA YANG BESAR, KARENA TIDAK ADA SESUATU PUN YANG BESAR DI HADAPAN ALLAH SWT.”


________________________________________


Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk senantiasa memanfaatkan waktu khususnya waktu mustajab di hari Arafah ini dengan dzikir dan doa-doa untuk kebaikan duni akhirat bagi kita, keluarga dan kaum muslimin.
 
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag
 
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!
 
NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada teman dan keluarga. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Dan jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

TAKBIR SHALAT HARI RAYA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Sayyidah Aisyah RA berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى فِي الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا

“Sesungguhnya Rasul SAW bertakbir ketika shalat Idul fitri dan Idul adha, pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali takbir, dan pada rakaat kedua lima kali takbir.” [HR Abu Dawud]

 

Catatan Alvers

 

Pada momen hari raya takbir berkumandang mulai dari maghrib hingga Shalat Id dimulai. Takbir ini menjadikan hari raya semarak dan dipenuhi dengan syiarnya. Takbir dianjurkan untuk dikumandangkan dengan suara lantang tidak hanya di masjid tapi juga rumah-rumah, di jalan raya bahkan di pasar, baik ketika duduk, berjalan, menyetir kendaraan ataupun ketika posisi tiduran.

 

Tahukah anda asal usul takbir itu? Syeikh Akmaluddin Al-Hanafi berkata: Ketika Malaikat Jibril datang dengan membawa domba fida’ (tebusan pengganti isma’il) malaikat khawatir Nabi Ibrahim tergesa-gesa maka Malaikat Jibril mengumandangkan :

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

“Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar”.

Ketika Nabi Ibrahim AS melihatnya, Maka beliau menyahutinya :

لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

“Tiada tuhan selain Allah dan Allah maha besar”.

Setelah Nabi Ismail AS mengetahui perihal domba fida’ (tebusan) maka iapun turut bertakbir :

اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

“Allah maha besar dan hanya milik Allah-lah segala pujian”. [Hasyiyah Al-Jamal] 

 

Sehubungan dengan itu, takbir juga disunnahkan pada 10 hari pertama bulan dzulhijjah tepatnya ketika seseorang melihat binatang ternak atau mendengar suaranya. Allah SWT berfirman :

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

dan supaya manusia menyebut nama Allah pada hari-hari yang diketahui (10 hari pertama Dzulhijah) atas rezki yang Allah telah karuniakan kepada mereka berupa binatang ternak [QS Al-Hajj : 28]

 

Imam Ramli berkata : “Takbir ini mengingatkan kepada binatang kurban sehingga seseorang termotivasi untuk berkurban. Dan untuk mengingatkan bahwa menyembelih binatang ternak semisal yang dilihatnya merupakan syi’ar pada hari-hari kurban dan untuk mengagungkan Allah ta’ala”. [Nihayatul Muhtaj]

 

Takbir juga disunnahkan ketika melaksanakan shalat id sebagaimana hadits utama di atas. Syeikh Zainuddin Al-Malibari berkata : “Disunnahkan bertakbir pada rakaat pertama dari shalat hari raya (idul adha dan idul fitri) sebanyak tujuh kali, dan pada rakaat kedua sebanyak lima kali, sebelum membaca ta‘awwudz pada keduanya, sambil mengangkat kedua tangan pada setiap takbir selama belum mulai membaca bacaan (Surat Fatihah)”. [Fathul Mu’in] Dan Syeikh Abu Bakar Syatha menjelaskan : Jika ia sudah terlanjur membaca fatihah (dan lupa belum bertakbir) maka tidak lagi disunnahkan untuk kembali bertakbir.

فَإِنْ عَادَ إِلَيْهَا قَبْلَ الرُّكُوعِ عَامِدًا عَالِمًا لَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ، أَوْ بَعْدَ الرُّكُوعِ بِأَنْ ارْتَفَعَ لِيَأْتِيَ بِهَا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ

Jika ia bertakbir (sesudah terlanjur masuk membaca fatihah) sebelum ruku’ secara sengaja dan tahu maka tidak batal shalatnya. Namun jika ia bertakbir setelah terlanjur ruku’ sehingga ia kembali ke posisi berdiri untuk melakukan takbir, maka shalatnya batal… Takbir tersebut hukumnya bukanlah fardlu dan bukan pula sunnah ab’adl.  

وَإِنَّمَا هُوَ هَيْئَةٌ كَالتَّعَوُّذِ وَدُعَاءِ الِافْتِتَاحِ، فَلَا يَسْجُدُ لِتَرْكِهِ

Takbir tersebut hanyalah sunnah hay’ah seperti ta‘awwudz dan doa iftitah sehingga tidak dilakukan sujud sahwi karena meninggalkannya.” [I’anatut Thalibin]

وَلَا يَتَدَارَكُ فِي الثَّانِيَةِ إِنْ تَرَكَهُ فِي الْأُولَى.

Dan takbir yang tertinggal pada rakaat pertama tidak diganti pada rakaat kedua.” [Fathul Mu’in]

 

Dan takbir juga disunnahkan ketika khutbah. Al-Malibari berkata : “Dan khatib membuka khutbah pertama pada dua hari raya dengan sembilan kali takbir, dan khutbah kedua dengan tujuh kali takbir secara berturut-turut. Dan sebaiknya antara dua khutbah dipisah dengan takbir, serta memperbanyak takbir pada bagian-bagian khutbah.” [Fathul Mu’in] Takbir-takbir dalam shalat id atau khutbah id itu di dalam kitab-kitab fikih seperti al-Majmu disebut dengan “At-Takbiraat Az-Zawa’id” atau “At-Takbiraat Az-Za’idah” (Takbir tambahan).  

 

Ada juga syariat takbir di luar shalat id. Syeikh Zakaria al-Anshari berkata : “Disunnahkan … untuk bertakbir dengan mengeraskan suara sejak awal malam hari raya idul adha dan idul fitri sampai imam melakukan takbiratul ihram (memulai shalat id).”  

وَعَقِبَ كُلِّ صَلَاةٍ مِنْ صُبْحِ عَرَفَةَ إِلَى عَقِبِ عَصْرِ آخِرِ تَشْرِيقٍ

“Dan (disunnahkan bertakbir pula) setelah setiap shalat, mulai dari Subuh hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) sampai setelah Ashar hari terakhir Tasyriq.” [Fathul Wahhab]

Dan takbir ini didahulukan dari dzikir bakda shalat. [Nihayatul Muhtaj]

 

Dan takbir hari raya selain ketika shalat dikatakan Syeikh Zakaria al-Anshari :

وَالتَّكْبِيرُ عَقِبَ الصَّلَوَاتِ يُسَمَّى مُقَيَّدًا وَمَا قَبْلَهُ مُرْسَلًا وَمُطْلَقًا

Takbir yang dibaca setelah melaksanakan shalat-shalat disebut dengan takbir muqayyad (terikat), sedangkan takbir sebelumnya disebut takbir mursal dan mutlaq.” [Fathul Wahhab]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk mengangungkan Allah SWT dengan bertakbir sesuai tuntunan Rasul SAW dan para ulama.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

PUASA DI HARI RAYA IDUL ADHA

ONE DAY ONE HADITH

 

Abu hurairah RA berkata :

أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ

“Sesungguhnya Rasul SAW melarang berpuasa pada dua hari, yaitu hari Idul adha dan hari Idul fitri.” [HR Muslim]

 

Catatan Alvers

 

Suatu ketika ada tamu yang ia meminta maaf karena saya suguhi makanan namun ia menolak dengan alasan sedang berpuasa. Karena penasaran saya tanya tentang puasanya, apakah puasa senin kamis ataupun puasa dawud. Ia menjawab bahwa ia berpuasa setiap hari secara terus menerus. Saya bermaksud untuk basa-basi dengan tamu tersebut dan saya katakan : “Oh iya luar biasa, namun tentunya anda tidak berpuasa ketika hari raya idul adha nanti”. Ternyata jawabannya cukup mengagetkan saya, Ia berkata : “Saya tetap berpuasa di hari raya”. Karena kepo, saya tanya alasannya. Ia menjawab karena ia menjalankan titah gurunya.

 

Di dalam ajaran Islam, berpuasa pada hari raya adalah hal yang diharamkan. Dalam hadits utama, Abu hurairah RA berkata : “Sesungguhnya Rasul SAW melarang berpuasa pada dua hari, yaitu hari Idul adha dan hari Idul fitri.” [HR Muslim] Dan Imam Nawawi berkata : “Para ulama telah berijmak (sepakat) atas haramnya berpuasa pada dua hari raya: Idul fitri dan Idul adha, berdasarkan hadits-hadits ini. Maka apabila seseorang berpuasa pada kedua hari tersebut, puasanya tidak sah. Dan apabila ia bernadzar untuk berpuasa pada keduanya, maka nadzarnyapun tidak sah.” [Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab] Umar bin Khatthab RA menjelaskan alasannya :

 يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ وَالْآخَرُ يَوْمٌ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ

(Idul fitri) adalah hari dimana kalian berbukanya dari puasa, dan hari lainnya (Idul adha) adalah hari dimana kalian makan dari hewan kurban.” [Shahih Bukhari]

 

Dengan demikian, tidaklah dibenarkan tindakan orang yang tetap berpuasa di hari raya karena puasa “ad-dahr” (puasa abadi) itu berlaku pada selain hari-hari yang diharamkan berpuasa. Dan dalam hal ini tidak ada hukum khilaf mengenai keharamannya. Adapun alasan ketaatan kepada sang guru juga tidak dibenarkan karena Rasul SAW bersabda :

لا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta, Allah SWT. [HR Thabrani]

 

Namun demikian, memang ada hadits yang bisa disalahpahami bahwa Rasul SAW itu berpuasa pada hari 10 Dzulhijjah atau hari raya idul Adha yaitu tepatnya adalah perkataan Sayyidah Hafshah RA :

أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَالْعَشْرَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَالرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ

Empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan Nabi SAW yaitu berpuasa Asyura, 10 Hari Awal Dzulhijjah, tiga hari setiap bulannya dan Dua rekaat sebelum Subuh. [HR Ahmad]

 

Dalam hadits tersebut dinyatakan bahwa Rasul SAW melakukan puasa pada 10 Hari di Awal bulan Dzulhijjah sehingga itu mencakup puasa pada tanggal 10 Dzulhijjah yang mana hari itu adalah hari raya Idul Adha. Sepintas hadits ini bertentangan dengan larangan puasa pada hari raya pada hadits utama di atas? Namun ternyata tidak, karena istilah puasa 10 hari Dzulhijjah pada hadits dari Sayyidah Hafshah RA itu pada dasarnya adalah berpuasa pada 9 hari saja. Mengapa demikian? Syeikh Mulla Al-Qari berkata :

وَالْمُرَادُ مِنَ الْعَشْرِ تِسْعَةُ أَيَّامٍ مَجَازًا

Yang dimaksud dengan ‘sepuluh’ di sini adalah sembilan hari, sebagai bentuk majaz (kata kiasan dan bukan makna sebenarnya).”

 

Beliau melanjutkan : Majaz ini berlaku sebagaimana dalam firman Allah pada surat al-Baqarah “Al-Hajju Asyhurum Ma’lumat” (Haji itu dilaksanakan pada bulan-bulan yang telah diketahui, yaitu Syawal, DzulQa’dah, 10 hari awal bulan dzulhijjah dan bukan sebulan dzulhijjah penuh) Demikian pula orang berkata : ‘Ia beri‘tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan,’ padahal jumlah bulan ramadhan terkadang kurang dari tiga puluh hari. Atau (alasan kedua) dikatakan 10 hari karena hari raya (‘Idul Adha tanggal 10 nya) dikecualikan berdasarkan ketetapan syariat, sebagaimana pengecualian secara akal. [Mirqatul Mafatih]

 

Atau boleh jadi (alasan ketiga) bepuasa di hari tanggal 10 Dzulhijjah itu merujuk kepada puasa “luhgawy” (secara bahasa) yang bermakna “imsak” (mencegah) seperti perkataan Maryam : “Aku bernadzar karena Allah Ar-Rahman untuk “Shauma” (puasa, yaitu mencegah berbicara)”.  Dan bukan pula dimaksudkan dengan puasa secara istilah syariat karena memang puasa saat hari raya itu diharamkan dan dikarenakan pada hari itu disunnahkan untuk tidak makan dan minum sehingga selesai pelaksanaan shalat id. Buraidah berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ

Nabi SAW pada hari Idulfitri tidak keluar (menuju shalat Idul fitri) hingga beliau makan terlebih dahulu. Dan pada hari Iduladha beliau tidak makan hingga selesai shalat (id).” [HR Tirmidzi]

 

Berdasarkan pada hadits ini maka Imam Tirmidzi berkata :

وَقَدْ اسْتَحَبَّ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنْ لَا يَخْرُجَ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ شَيْئًا ... وَلَا يَطْعَمَ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ

Sebagian ulama menganjurkan agar seseorang pada hari Idulfitri tidak keluar (menuju shalat Id) sampai ia memakan sesuatu terlebih dahulu… Sedangkan pada hari Idul adha, hendaknya ia tidak makan sampai pulang.” [Sunan At-Tirmidzi]

Mengapa kedua hari raya dibedakan? Al-Muhallab ibn Abi Sufrah berkata : (1) “Sesungguhnya seseorang makan pada hari Idulfitri sebelum berangkat menuju shalat Id agar jangan sampai ada orang yang mengira bahwa puasa pada hari Idul fitri masih wajib dilakukan sampai selesai shalat Id. Makna ini tidak ada pada hari Iduladha.” [Tuhfatul Ahwadzi] Dan Ibnu Qudamah berkata : (2) “karena puasa pada hari Idulfitri itu diharamkan setelah sebelumnya diwajibkan (ramadhan). Maka dianjurkan untuk segera berbuka sebagai bentuk menampakkan sikap bersegera dalam mentaati Allah dan melaksanakan perintah-Nya untuk berbuka, yang berbeda dari kebiasaan saat Ramadan. Sedangkan Iduladha tidak demikian, di samping adanya anjuran sarapan dengan sebagian daging kurbannya.” [Tuhfatul Ahwadzi.] (3) Juga agar diketahui bahwa dahulu pada awal Islam, makan sebelum shalat Idul fitri itu diharamkan dan kemudian larangan makan itu telah di-naskh (dihapus). Berbeda halnya dengan sebelum shalat Iduladha. [Nihayatul Muhtaj]

Imam Nawawi berkata : (4) Keduanya dibedakan karena sunnahnya bersedekah (zakat) pada Idulfitri adalah sebelum shalat Id. Maka dianjurkan makan terlebih dahulu agar ia ikut merasakan bersama orang-orang miskin dalam hal itu. Sedangkan sedekah (qurban) pada Idul adha itu dilakukan setelah shalat Id. Maka dianjurkan makan saat itu agar menyesuaikan dengan mereka (orang-orang miskin). .. (5) Dan alasan lain karena waktu sebelum Idulfitri diharamkan makan (yakni saat Ramadhan), maka dianjurkan makan sebelum shalat Id agar berbeda dengan hari sebelumnya. Sedangkan pada Idul adha tidak diharamkan makan sebelumnya, maka makan diakhirkan agar ada perbedaan (dengan hari-hari biasa).” [Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab]

 

Dalam Madzhab Hanbali, Ibnu Qudamah : Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Pada hari Idul adha, seseorang tidak makan sampai ia pulang jika ia memiliki hewan kurban karena Nabi SAW makan dari hewan sembelihannya… sehingga apabila seseorang tidak memiliki hewan kurban, maka tidak mengapa ia makan (sebelum shalat Id). [As-Syarh Al-Kabir]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk tidak mudah tertipu dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai waliyullah yang suka berbuat maksiat dan memerintahkan pengikutnya untuk melakukan maksiat kepada Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts