ONE DAY ONE HADITH
Sayyidah Aisyah RA berkata :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى فِي الْأُولَى سَبْعَ
تَكْبِيرَاتٍ وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا
“Sesungguhnya Rasul SAW bertakbir ketika shalat Idul fitri dan Idul adha, pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali takbir, dan pada rakaat kedua lima kali takbir.” [HR Abu Dawud]
Catatan Alvers
Pada momen hari raya takbir berkumandang mulai
dari maghrib hingga Shalat Id dimulai. Takbir ini menjadikan hari raya semarak
dan dipenuhi dengan syiarnya. Takbir dianjurkan untuk dikumandangkan
dengan suara lantang tidak hanya di masjid tapi juga rumah-rumah, di jalan raya
bahkan di pasar, baik ketika duduk, berjalan, menyetir kendaraan ataupun ketika
posisi tiduran.
Tahukah anda asal usul takbir itu? Syeikh Akmaluddin
Al-Hanafi berkata: Ketika Malaikat Jibril datang dengan membawa domba fida’
(tebusan pengganti isma’il) malaikat khawatir Nabi Ibrahim tergesa-gesa maka
Malaikat Jibril mengumandangkan :
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ
“Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar”.
Ketika Nabi Ibrahim AS melihatnya, Maka beliau
menyahutinya :
لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ
وَاَللَّهُ أَكْبَرُ
“Tiada tuhan selain Allah dan Allah maha besar”.
Setelah Nabi Ismail AS mengetahui perihal domba fida’ (tebusan)
maka iapun turut bertakbir :
اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ
الْحَمْدُ
“Allah maha besar dan hanya milik Allah-lah segala pujian”.
[Hasyiyah Al-Jamal]
Sehubungan dengan itu, takbir juga disunnahkan pada 10
hari pertama bulan dzulhijjah tepatnya ketika seseorang melihat binatang ternak
atau mendengar suaranya. Allah SWT berfirman :
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي
أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
dan supaya manusia menyebut nama Allah pada hari-hari
yang diketahui (10 hari pertama Dzulhijah) atas rezki yang Allah telah
karuniakan kepada mereka berupa binatang ternak [QS Al-Hajj : 28]
Imam Ramli berkata : “Takbir ini mengingatkan kepada binatang
kurban sehingga seseorang termotivasi untuk berkurban. Dan untuk mengingatkan
bahwa menyembelih binatang ternak semisal yang dilihatnya merupakan syi’ar pada
hari-hari kurban dan untuk mengagungkan Allah ta’ala”. [Nihayatul Muhtaj]
Takbir juga disunnahkan ketika melaksanakan shalat id sebagaimana hadits utama di atas. Syeikh Zainuddin
Al-Malibari berkata : “Disunnahkan bertakbir pada rakaat pertama dari shalat hari
raya (idul adha dan idul fitri) sebanyak tujuh kali, dan pada rakaat kedua
sebanyak lima kali, sebelum membaca ta‘awwudz pada keduanya, sambil mengangkat
kedua tangan pada setiap takbir selama belum mulai membaca bacaan (Surat Fatihah)”.
[Fathul Mu’in] Dan
Syeikh Abu Bakar Syatha menjelaskan : Jika ia
sudah terlanjur membaca fatihah (dan lupa belum bertakbir) maka tidak lagi
disunnahkan untuk kembali bertakbir.
فَإِنْ عَادَ إِلَيْهَا قَبْلَ
الرُّكُوعِ عَامِدًا عَالِمًا لَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ، أَوْ بَعْدَ الرُّكُوعِ
بِأَنْ ارْتَفَعَ لِيَأْتِيَ بِهَا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ
Jika ia bertakbir (sesudah terlanjur masuk membaca
fatihah) sebelum ruku’ secara sengaja dan tahu maka tidak batal shalatnya.
Namun jika ia bertakbir setelah terlanjur ruku’ sehingga ia kembali
ke posisi berdiri untuk melakukan takbir, maka shalatnya batal… Takbir tersebut hukumnya bukanlah fardlu dan bukan pula sunnah ab’adl.
وَإِنَّمَا هُوَ هَيْئَةٌ كَالتَّعَوُّذِ
وَدُعَاءِ الِافْتِتَاحِ، فَلَا يَسْجُدُ لِتَرْكِهِ
Takbir tersebut hanyalah sunnah hay’ah seperti
ta‘awwudz dan doa iftitah sehingga tidak dilakukan sujud sahwi karena
meninggalkannya.” [I’anatut Thalibin]
وَلَا يَتَدَارَكُ فِي
الثَّانِيَةِ إِنْ تَرَكَهُ فِي الْأُولَى.
Dan takbir yang tertinggal pada rakaat pertama tidak diganti
pada rakaat kedua.” [Fathul Mu’in]
Dan takbir juga disunnahkan
ketika khutbah. Al-Malibari berkata : “Dan khatib membuka khutbah
pertama pada dua hari raya … dengan sembilan kali takbir, dan
khutbah kedua dengan tujuh kali takbir secara berturut-turut. Dan sebaiknya antara dua khutbah dipisah
dengan takbir, serta memperbanyak takbir pada bagian-bagian khutbah.” [Fathul Mu’in] Takbir-takbir dalam shalat id atau khutbah id
itu di dalam kitab-kitab fikih seperti al-Majmu disebut dengan “At-Takbiraat
Az-Zawa’id” atau “At-Takbiraat Az-Za’idah” (Takbir tambahan).
Ada juga syariat takbir
di luar shalat id. Syeikh Zakaria al-Anshari berkata : “Disunnahkan
… untuk bertakbir dengan mengeraskan suara sejak awal malam hari raya idul adha dan idul fitri
sampai imam melakukan takbiratul ihram (memulai shalat id).”
وَعَقِبَ كُلِّ صَلَاةٍ مِنْ
صُبْحِ عَرَفَةَ إِلَى عَقِبِ عَصْرِ آخِرِ تَشْرِيقٍ
“Dan (disunnahkan bertakbir pula) setelah setiap shalat, mulai dari Subuh hari Arafah (tanggal 9
Dzulhijjah) sampai setelah Ashar hari terakhir Tasyriq.” [Fathul Wahhab]
Dan takbir ini didahulukan dari dzikir bakda shalat.
[Nihayatul Muhtaj]
Dan takbir hari raya selain ketika shalat dikatakan Syeikh Zakaria al-Anshari :
وَالتَّكْبِيرُ عَقِبَ الصَّلَوَاتِ يُسَمَّى مُقَيَّدًا وَمَا قَبْلَهُ مُرْسَلًا
وَمُطْلَقًا
Takbir yang dibaca setelah melaksanakan shalat-shalat disebut dengan takbir muqayyad (terikat),
sedangkan takbir sebelumnya disebut takbir mursal dan mutlaq.” [Fathul
Wahhab]
Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk mengangungkan Allah SWT dengan bertakbir sesuai tuntunan Rasul SAW dan para ulama.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!
NB.
Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang
siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1)
lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]













