ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari
Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :
سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ
Satu dirham dapat
mengalahkan seratus ribu dirham. [HR An-Nasai]
Catatan Alvers
Seringkali kita
menilai pemberian, bantuan ataupun hadiah dari harga atau nominalnya, padahal
barang yang sama dari orang yang berbeda kondisinya tentu itu effortnya
tidaklah sama. Orang yang kaya ia memberikannya dengan mudah sementara orang
miskin memberi dengan effort dan susah payah. Kata Effort yang sering kita
temui dalam bahasa gaul ataupun di media sosial, berasal dari bahasa Inggris
yang berarti usaha, upaya, atau kerja keras yang dilakukan dengan
sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam Islam,
effort sangatlah berharga sehingga dalam kaidah dikatakan “ Al-Ajru biqadrit Ta’ab”
(pahala itu sesuai dengan kadar effortnya). Contohnya adalah berjalan kaki
menuju masjid untuk melaksanan sholat jumat itu pahalanya lebih besar daripada
yang naik kendaraan. Ubay bIn Ka'b berkata: ‘Ada
seorang lelaki yang menurut pengetahuanku tidak ada seorang pun yang rumahnya
lebih jauh dari masjid daripada dirinya, namun ia tidak pernah tertinggal shalat berjamaah. Lalu dikatakan kepadanya:
“Kenapa engkau tidak membeli seekor
keledai untuk kendaraan ketika malam
gelap dan saat panas terik.” Ia menjawab: “Aku tidak ingin rumahku berada di samping masjid karena aku ingin
agar langkahku menuju masjid dan kepulanganku kepada keluargaku dicatat sebagai
pahala.” Maka Rasul SAW bersabda:
قَدْ جَمَعَ اللَّهُ لَكَ ذَلِكَ كُلَّهُ
“Allah telah
mengumpulkan untukmu semua pahala itu.”[HR Muslim]
Effort itu lebih
berharga daripada nominal. Dalam hadits utama, Rasul SAW bersabda : “Satu dirham
dapat mengalahkan seratus ribu dirham”. [HR An-Nasai] Pada lanjutan hadits, Para
sahabat bertanya : “Kok bisa?” Beliau menjawab: “Ada seseorang yang hanya
memiliki dua dirham, lalu ia menyedekahkan salah satunya. Sedangkan orang yang lainnya
mengambil secuil dari hartanya banyak, ia mengambil seratus ribu dirham untuk sedekahnya.”
As-Sindy menjelaskan
: “Lahiriah hadits tersebut menunjukkan bahwa :
أَنَّ الْأَجْرَ عَلَى قَدْرِ حَالِ الْمُعْطِي، لَا عَلَى قَدْرِ
الْمَالِ الْمُعْطَى
“Pahala itu
tergantung pada keadaan orang yang memberi, bukan pada banyaknya harta yang
diberikan”.
Beliau melanjtkan : “Maka pemilik dua dirham itu,
ketika ia memberikan setengah hartanya dalam keadaan yang biasanya orang tidak
mau memberi kecuali orang-orang yang sangat kuat jiwanya, pahala yang ia
peroleh sesuai dengan besarnya semangat dan pengorbanannya. Berbeda dengan
orang yang kaya, ia tidak memberikan setengah hartanya, dan juga tidak memberi
dalam keadaan yang pada umumnya orang enggan memberi padanya.” [Hasyiyah
As-Sindy]
Bukan hanya effort,
pemberian juga dinilai dari ketulusan niat. Bukankah “Innamal A’malu Bin Niyat”
(Amal itu tergantung pada niat)? Hal ini tercermin dalam kisah hadiah semut kepada
Nabi Sulaiman. Dalam Kita Tafsir As-Shawi dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman berkata kepada semut :
‘Mengapa engkau memperingatkan para semut? Apakah engkau takut terhadap kedzalimanku? Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah
nabi yang adil? Mengapa engkau berkata: “Jangan sampai Sulaiman dan bala
tentaranya menghancurkan kalian.” Maka semut itu menjawab : ‘Tidakkah engkau
mendengar ucapanku: “Wahum La Yasy’urun” (Sedangkan mereka tidak menyadarinya). Dan aku tidak bermaksud kehancuran jasad, tetapi
kehancuran hati ; karena khawatir para semut akan berangan-angan
seperti apa yang telah diberikan kepadamu, lalu mereka tergoda oleh dunia dan
sibuk memandang kerajaanmu hingga lalai dari tasbih dan zikir.’
Ketika semut itu
selesai berbicara dengan Nabi Sulaiman, ia segera kembali kepada kaumnya lalu
berkata : ‘Apakah kalian memiliki sesuatu untuk kita hadiahkan kepada Nabi
Allah?’ Mereka menjawab : ‘Apa yang pantas kita hadiahkan kepadanya? Demi
Allah, kami tidak punya apapun selain satu biji
buah nabq (bidara kecil).’ Semut itu berkata: ‘Baik, bawakan kepadaku.’ Mereka
pun membawakannya. Lalu semut itu membawanya dengan mulutnya sambil
menyeretnya. Maka Allah memerintahkan angin untuk mengangkatnya. Semut itu pun
datang membelah barisan jin, manusia, ulama, dan para nabi di atas hamparan
karpet kerajaan, hingga berhenti di hadapan Sulaiman. Kemudian ia meletakkan
buah nabq itu dari mulutnya ke mulut Sulaiman sambil melantunkan syair: “Tidakkah
engkau lihat, kami menghadiahkan kepada Allah milik-Nya sendiri, meskipun Dia
Maha kaya, tetapi Dia tetap menerimanya. Seandainya
hadiah diberikan kepada Yang Maha mulia sesuai kadar keagungan-Nya, niscaya
lautan dan tepinya pun tak akan cukup baginya. Akan tetapi kami memberi kepada
yang kami cintai, lalu ia ridha kepada kami dan mensyukuri pemberinya. Semua
itu hanyalah karena kemuliaan akhlaknya, sebab di kerajaan kami tiada seorang
pun yang menyerupainya”. Maka Nabi Sulaiman berkata: “Semoga Allah memberkahi
kalian.” [Hasyiyah As-Shawy ala Tafsir Jalalain]
Kisah tersebut bersumber
dari bani Isra’il (Israiliyyat) dan
menceritakannya boleh saja asal bukan yang nyata-nyata dusta ataupun bertentangan
dengan syariat. Rasul SAW bersabda :
حَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ
“Ceritakanlah dari Bani Israil dan tidaklah
mengapa” [HR Abu Dawud]
Lihat pula apa
yang dilakukan olek katak. Ia memadamkan api yang mengelilingi Nabi Ibrahim
dengan setetes air yang dibawa pada lidahnya. Bukankah itu sangatlah
kecil bantuannya akan tetapi di sisi
lain sangatlah besar niat baiknya yaitu membantu menyelamatkan kekasih Allah sesuai
kemampuannya. Nabi SAW bersabda :
كاَنَتْ الضِّفْدَعُ تُطْفِئُ النَّارَ
“Dahulu katak memadamkan api dari nabi Ibrahim (ketika dibakar)”
Dalam lanjutan
hadits : Sedangkan cicak meniup-niupnya (menghidupkan bara
apinya), maka dilarang membunuh ini (katak) dan diperintahkan membunuh ini
(cicak)” [Mushannaf Abdur razzaq]
Jangan hanya lihat nominalnya saja. Bantuan walaupun hanya berupa doa itu sangatlah berharga. Abdullah bin ‘Amr berkata :
لَا تَقْتُلُوا الْخُفَّاشَ فَإِنَّهُ
لَمَّا خَرِبَ بَيْتُ الْمَقْدِسِ قَالَ: يَا رَبِّ سَلِّطْنِي عَلَى الْبَحْرِ
حَتَّى أُغْرِقَهُمْ.
Janganlah kalian membunuh kelewar karena sesungguhnya ketika Baitul Maqdis
hancur ia berdo’a: “Wahai Tuhanku, berilah aku kekuasaan terhadap lautan agar
aku bisa menenggelamkan mereka!”.[As-Sunan Al-Kubra]
Wallahu A’lam.
Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk tidak menilai pemberian seseorang hanya dengan nominal namun
dengan ketulusan hati dan kecintaannya kepada kita.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul
Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren
Wisata
AN-NUR 2 Malang
Jatim
Ngaji dan Belajar
Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok
Itu Keren!
NB.
Jangan pelit
berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka
ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan
(3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]














