• WhatsApp Channel : One Day One Hadith

    Bergabunglah bersama Saluran WhatsApp One Day One Hadith

  • Penerimaan Santri Baru 2026/2027

    Monggo nderek-nderek Nyethak Sholihin Sholihat dengan mendaftarkan putra putri jenengan ke PPW An-Nur 2 Al Murtadlo

  • Tadarus Akbar

    Tadarus Akbar oleh ribuan santri putra Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo

  • Sholat Tarawih Akbar

    Sekitar 3.000 santri putra melaksanakan Tarawih Akbar di Lapangan Utama Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al-Murtadlo. Sabtu malam, 21 Februari 2026, lapangan center An-Nur II penuh dengan 24 saf santri berbaju putih

  • Bersama KAPOLRI

    Bersama Bapak Jenderal Listyo Sigit Prabowo - KAPOLRI dan Majelis Keluarga An-Nur 2

WALLAHU A’LAM

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ

"Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya." [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Wallahu A’lam adalah kata yang sering kita dengar saat seorang penceramah mengakhiri pengajiannya atau saat penulis mengakhiri tulisannya. Namun demikian, kata tersebut bukanlah kata yang digunakan untuk menandakan akhir sebuah ceramah atau tulisan akan tetapi kata “Wallahu A’lam” yang artinya Allah lebih mengetahui, adalah kata yang dapat menjauhkan orang yang mengucapkannya dari perasaan “sok paling tahu”, merasa paling alim dan paling banyak ilmu.

 

Wallahu A’lam itu artinya adalah Allah lebih tahu dari setiap orang yang tahu. Kata pepatah “di atas langit masih ada langit” dan di atas langit yang diatasnya itu masih ada langit lagi dan seterusnya hingga yang ter-atas dan yang tertinggi serta puncak dari ilmu pengetahuan itulah Allah SWT. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an :

وَفَوْقَ كُلِّ ذِى عِلْمٍ عَلِيمٌ

Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui. [QS Yusuf : 76]

 

Abdullah Ibnu Abbas RA menjelaskan :

يَكُونُ هَذَا أَعْلَمَ مِنْ هَذَا، وَهَذَا أَعْلَمَ مِنْ هَذَا، وَاللَّهُ فَوْقَ كُلِّ عَالِمٍ

"Orang ini lebih berilmu daripada orang itu, dan orang itu lebih berilmu daripada yang lain, sedangkan Allah berada di atas daripada setiap orang yang berilmu." [Tafsir At-Thabari]

 

Dari Muhammad ibn Ka'b al-Quradhi ia berkata : "Seorang laki-laki bertanya kepada Ali ibn Abi Thalib tentang suatu masalah. Maka Ali menjawabnya. Lalu orang itu berkata, 'Tidak demikian, tetapi yang benar adalah begini dan begini.' Maka Ali berkata,

أَصَبْتَ وَأَخْطَأْتُ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“Engkau benar, dan aku keliru.Dan di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui."[Tafsir At-Thabari]

 

Maka saat seorang guru mengakhiri kajiannya dengan kata “Wallahu A’lam” itu artinya ia hendak melepaskan diri dari pengakuan menjadi orang yang paling alim dan ia memasrahkan kebenaran dari ilmu yang disampaikannya kepada Allah SWT sebagai puncak dari pengetahuan. Dan inilah yang dikatakan oleh Syeikh Al-Bayjuri sebagai “Ghayatut Tafwidl Al-Mathlub” (Tingkat tertinggi dari penyerahan diri yang semestinya). [Hasyiyah Al-Bayjuri] As-Shaymari berkata :

وَلَا يَدَعْ خَتْمَ جَوَابِهِ بِقَوْلِهِ: وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ، أَوِ اللَّهُ أَعْلَمُ، أَوِ اللَّهُ الْمُوَفِّقُ

"Janganlah seseorang (mufti) meninggalkan untuk menutup jawaban dengan ucapan: 'Wa billahit tawfiq (dan dengan pertolongan Allah-lah taufik itu)', atau 'Allahu a‘lam (Allah lebih mengetahui)', atau 'Allahul Muwaffiq (Allah-lah Yang memberikan taufik)'." [Al-Majmu’]

 

Mulla Ali Al-Qari lebih jelas berkata :  “Apabila seorang mufti telah memberikan jawaban, maka dianjurkan baginya untuk menulis di akhir jawabannya: "Wallahu A‘lam (Allah lebih mengetahui)" dan yang  semisalnya. Dan ada yang berpendapat bahwa dalam masalah-masalah agama yang telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah, dianjurkan baginya untuk menulis: "Wallahul Muwaffiq (Allah-lah Yang memberi taufik)", "Wabillahil ‘Ishmah (dengan pertolongan Allah terjagalah seseorang dari kesalahan), dan yang semisal dengannya. [Syammul Awaridl fi Dzammir Rawafidl]

 

Dahulu gara-gara tidak mengatakan “Allahu A’lam”, Nabi Musa diperintahkan untuk belajar kepada Nabi Khidlir. Rasul SAW bersabda : Pada suatu hari Musa berkhutbah di hadapan Bani Isra’il. Maka ada di antara mereka yang bertanya; ‘Siapakah orang yang paling berilmu?. Musa menjawab : “Ana A’lam” (Aku yang paling alim). Maka Allah menegurnya, karena ia tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Lalu Allah memberi wahyu kepadanya, yaitu :

أَنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي بِمَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ

“Sesungguhnya ada seseorang dari hamba-hambaku yang ada di pertemuan dua samudera, dia lebih alim darimu.” [HR Bukhari]

 

Singkat cerita, setelah pencarian panjang Nabi Musa berhasil menemukannya. Dan saat itu, Nabi khidlir menjelaskan bahwa ia memiliki ilmu yang tidak diketahui oleh Musa. Namun demikian hal itu tidak menjadikannya merasa paling alim, Khidlir juga mengakui bahwa Musa memiliki ilmu yang tidak diketahuinya. Nabi khidlir berkata :

يَا مُوسَى إِنِّي عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ لَا تَعْلَمُهُ أَنْتَ وَأَنْتَ عَلَى عِلْمٍ عَلَّمَكَهُ لَا أَعْلَمُهُ

"Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki suatu ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang tidak engkau ketahui. Dan engkau pun memiliki suatu ilmu yang Allah telah ajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui." [HR Bukhari]

 

Kejadian ini memberikan pelajaran bahwa setinggi apapun ilmu manusia pastilah ada ilmu yang belum diketahuinya karena ilmu manusia itu sangatlah terbatas. Allah SWT berfiman :

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“ … dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit saja“ [QS Al-Isra: 85]

 

Jangankan Nabi Musa, Nabi Muhammad SAW juga dalam beberapa hadits diriwayatkan bersabda : “La Adri” (Aku tidak tahu). Bahkan Malaikat Jibril sekalipun. Abdullah ibn Umar RA berkata : Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, tempat manakah yang paling baik?" Beliau menjawab: “La Adri” (Aku tidak tahu).” Orang itu bertanya lagi: "Tempat manakah yang paling buruk?" Beliau menjawab: “La Adri” (Aku tidak tahu)." Orang itu berkata: "Tanyakanlah kepada Tuhanmu." Ketika Jibril turun, Rasul SAW bersabda: "Sesungguhnya aku ditanya: 'Tempat manakah yang paling baik dan tempat manakah yang paling buruk?' Maka aku menjawab: 'Aku tidak tahu.'" Lalu Jibril berkata:

وَأَنَا لَا أَدْرِي حَتَّى أَسْأَلَ رَبِّي

"Aku pun tidak tahu sampai aku bertanya kepada Tuhanku."

Singkat cerita, Allah memberitahu : “Ketahuilah, sesungguhnya sebaik-baik tempat adalah masjid-masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar-pasar." [HR Al-Hakim]

 

Dalam hadits utama di atas, ketika ditanya malaikat jibril mengenai kapan kiamat maka beliau bersabda : "Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya." Lalu beliau menyebutkan tanda-tanda kiamat. [HR Bukhari] Demikianlah para sahabat ketika ditanya sesuatu yang mereka tidak tahu maka mereka mengatakan “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Hal ini sebagaimana kejadian selepas shalat subuh di Hudaibiyah. Rasul SAW bertanya kepada para sahabat. “Tahukah kalian apa yang Allah firmankan?” Para Sahabat menjawab :

اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. [HR Bukhari]

 

Hal yang sama ketika Rasul SAW berkhutbah pada Hari raya kurban dan bertanya kepada para sahabat “Apakah kalian tahu hari apa ini?”, “Bulan Apakah ini?”, “Tanah apa ini?”. Para sahabat menjawab dengan “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu” lalu diam sembari mendengar penjelasan dari Rasul SAW. Para sahabat mengira bahwa Rasul SAW akan memberi jawaban lain dari apa yang diketahui. [HR Bukhari]

Demikian pula ketika Muadz bin Jabal RA ditanya Rasul SAW : Wahai Muadz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba-Nya atas Allah?  Muadz menjawab : “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu” [HR Bukhari]

 

Demikianlah seharusnya, Abdullah bin Mas'ud RA berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ عَلِمَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلْ اللَّهُ أَعْلَمُ

"Wahai manusia, barang siapa mengetahui sesuatu maka hendaklah ia mengatakannya. Dan barang siapa tidak mengetahui, maka hendaklah ia mengatakan: 'Allah lebih mengetahui.' Karena sesungguhnya termasuk ilmu adalah seseorang mengatakan terhadap perkara yang tidak diketahuinya: 'Allah lebih mengetahui.' Allah 'Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi-Nya SAW : "Katakanlah: Aku tidak meminta kepada kalian suatu imbalan pun atas (dakwah) ini,

وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-adakan (sesuatu yang tidak aku ketahui)." [QS Shad : 86]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita menyadari betapa terbatasnya ilmu kita sehingga tidak menjadi sombong dengan sebanyak apapun ilmu yang dimiliki dan menyadari bahwa masih ada orang yang lebih alim dari kita dan seterusnya hingga Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

SITI MARYAM AKHIR ZAMAN

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA, Rasul SAW bersabda :

خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ

“Wanita terbaik dari penduduk dunia adalah Maryam putri Imran.” [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Viral di media sosial pada akhir mei 2026 ini, kasus wanita hamil dan melahirkan tanpa suami. Wanita berusia 22 tahun yang berasal dari Kecamatan Karangdadap Pekalongan Jawa Tengah itu disebut hamil dan melahirkan meski tidak memiliki pacar ataupun riwayat hubungan dengan laki-laki. [Kompas com] kejadian yang mirip juga terjadi saat seorang dokter melakukan pemeriksaan USG kepada pasien seorang ibu-ibu (janda) dan dokter memvonis pasien hamil 3 bulan. Namun menariknya pasien menyatakan ia hamil tanpa berhubungan dan dia mengaku aktif ke gereja. Dokterpun menasehatinya agar mengakui siapa ayah kandung dari janin tersebut. Dokter berkata : “Kalau zaman dahulu memang ada bunda maria tapi kalau sekarang apa ibu ini mengaku seperti bunda maria yang hamil pakai roh kudus. Gak boleh begitu!”. [ig/sahlani1979]

 

Mengapa banyak wanita sekarang tidak merasa malu mengaku mengalami kejadian seperti yang menimpa pada siti maryam atau bunda maria, padahal dahulu siti maryam tidak ingin hal itu terjadi menimpa dirinya. Bahkan peristiwa itu membuat siti maryam malu dan ingin mati. Allah SWT berfirman :

قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا

Maryam berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum (kejadian) ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan". [QS Maryam: 23]

 

As-Suddy berkata : Ketika ia sedang kesakitan mau melahirkan, Maryam mengatakan hal itu karena ia malu kepada orang-orang… Maksudnya, Maryam berkata: 'Alangkah baiknya aku telah meninggal sebelum musibah dan kesusahan yang sedang aku hadapi ini, serta kesedihan karena melahirkan seorang anak tanpa suami. Dan aku menjadi sesuatu yang terlupakan dan ditinggalkan seperti kain pembalut haid yang sudah usang, yang apabila telah dibuang dan dilemparkan, maka tidak lagi dicari dan tidak pula diingat-ingat." [Tafsir At-Thabari]

 

Kejadian hamil tanpa suami tentu akan menjadikan orang-orang menuduh seorang wanita berzina karena mustahil seorang wanita hamil tanpa peran laki-laki. Dan itu juga yang menjadi kekhawatiran Maryam meskipun ia adalah orang yang suci sehingga ia kebingungan dan iapun bertanya-tanya. Allah SWT berfirman :

قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا

Maryam berkata: "Bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun dan aku bukan seorang pelacur?". [QS Maryam : 20]

 

Lahirnya Nabi Isa tanpa ayah itu menjadi tanda kebesaran Allah SWT. Dalam Al-Qur’an dinyatakan :

وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ آيَةً

Dan Kami jadikan (Isa) putera Maryam beserta ibunya sebagai suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami)... [QS Al-Mu’minun: 50]

 

Dan lebih jelas mengenai sisi kebesarannya, dalam Al-Quran dinyatakan :

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. [QS Ali Imran: 59]

 

Ibnu Katsir berkata : (Sesungguhnya perumpamaan penciptaan Isa di sisi Allah), yaitu dalam hal kuasanya Allah Ta’ala dalam menciptakan Isa tanpa ayah (adalah seperti penciptaan Adam).

فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى خَلَقَهُ مِنْ غَيْرِ أَبٍ وَلَا أُمٍّ

“Karena Allah Ta’ala menciptakan Adam tanpa ayah dan ibu”.

Allah hendak memperlihatkan kekuasaan-Nya kepada makhluk dengan menciptakan Adam tanpa laki (bapak) dan tanpa perempuan (ibu), menciptakan Siti Hawa tanpa perempuan (ibu), dan menciptakan Isa tanpa laki (bapak) sebagaimana manusia lainnya yang tercipta dari laki (bapak) dan perempuan (ibu). [Tafsir Ibnu Katsir]

 

Saat itu, jangankan orang-orang awam mengingkarinya, orang terdekatnya siti Maryam yang bahkan ia mengetahui kesuciannya iapun sempat mengingkarinya. Ibnu Katsir berkata : Seorang laki-laki shalih dari kerabat Maryam yang turut mengabdi di tempat ibadah Baitul Maqdis, yang bernama Yusuf an-Najjar, ketika melihat Maryam hamil maka ia keheranan.  Meskipun ia tahu tentang kesucian Maryam namun ia bertanya dengan sindiran : "Apakah mungkin ada pohon tanpa biji? Apakah mungkin ada tanaman tanpa benih? Dan apakah mungkin ada anak tanpa ayah?" Maryam menjawab : "Ya." Ada pohon tanpa biji dan tanaman tanpa benih.

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ خَلَقَ الشَّجَرَ وَالزَّرْعَ أَوَّلَ مَا خَلَقَهُمَا مِنْ غَيْرِ حَبٍّ وَلَا بَذْرٍ

Karena sesungguhnya Allah menciptakan pohon dan tanaman ketika pertama kali menciptakannya tanpa biji dan tanpa benih”.

Dan ada anak tanpa ayah' karena sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam tanpa ayah dan tanpa ibu. Mendengar jawaban tersebut maka Yusuf tersadar dan membenarkan perkataannya. [Tafsir Ibni Katsir]

 

Maryam bukanlah wanita biasa. Dalam hadits utama, Rasul SAW bersabda : “Wanita terbaik dari penduduk dunia adalah Maryam putri Imran.” [HR Bukhari] maka bagaimana bisa wanita zaman sekarang mendakwakan dirinya seperti maryam yang namanya dibersihkan langsung oleh Malaikat (Jibril). Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa Malaikat berkata :

يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

"Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikanmu dan melebihkanmu atas segala wanita di dunia. [QS Ali Imran : 42]

 

Selain kasus wanita hamil mengaku seperti Maryam, ada pula wanita hamil diluar nikah yang mengaku dihamili oleh suaminya yang berupa jin. Maka mengenai hukum pernikahan antara manusia dan jin, Imam Suyuthi dalam Al-Asybah Wan Nadza’ir berkata : “Pendapat yang aku yakini adalah haram, karena beberapa alasan”. Beliau menyebutkan diantaranya adalah ayat :

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا

“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untuk kalian dari (jenis) diri kalian sendiri …” [QS Ar-Rum : 21]

 

Dalam ayat tersebut dinyatakan “min anfusikum” bahwa pasangan nikah itu adalah berasal dari diri kalian sendiri (sejenis), yakni manusia dengan manusia sedangkan jin berbeda jenis dengan manusia. Dan pernikahan itu disyariatkan untuk mewujudkan sakinah mawaddah wa rahmah sedangkan semua tujuan tersebut tidak terwujud dengan menikahi jin. Dan mufti negara Qatar berkata : "Selain itu, larangan pernikahan antara jin dan manusia itu beralasan :

لِئَلَّا تَقُولَ الْمَرْأَةُ إِذَا وُجِدَتْ حَامِلًا إِنَّهَا حَامِلٌ مِنْ زَوْجِهَا الْجِنِّيِّ فَيَكْثُرَ الْفَسَادُ

Agar wanita hamil (tanpa pasangan sah) ia tidak berkata bahwa ia hamil dari suaminya yang berasal dari bangsa jin, sehingga hal itu akan mendatangkan banyak kerusakan."[islamweb net]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk berpegang teguh kepada ajaran Islam dan tidak termakan hasutan aliran-aliran sesat dan menyesatkan.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

Kata Sambutan Buku Thariqul Mubtadi'in



كَلِمَةٌ مِنْ مُدِيرِ مَعْهَدِ النُّورِ الثَّانِي الْمُرْتَضَى الْإِسْلَامِيِّ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي تَلَطَّفَ بِعِبَادِهِ فَتَعَبَّدَهُمْ بِالطَّهَارَةِ وَالنَّظَافَةِ، وَأَعَدَّ لِظَوَاهِرِهِمْ تَطْهِيرًا لَهَا الْمَاءَ الْمَخْصُوصَ بِالرِّقَّةِ وَاللَّطَافَةِ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ الْمُسْتَغْرِقِ بِنُورِ الْهُدَى أَطْرَافَ الْعَالَمِ وَأَكْنَافَهُ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ صَلَاةً تُنْجِينَا بَرَكَاتُهَا يَوْمَ الْمَخَافَةِ، وَتَنْتَصِبُ جُنَّةً بَيْنَنَا وَبَيْنَ كُلِّ آفَةٍ. أَمَّا بَعْدُ.

فَيَسُرُّنِي وَيُسْعِدُنِي أَنْ أُقَدِّمَ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ بِمُنَاسَبَةِ صُدُورِ هَذَا الْكِتَابِ الْمُبَارَكِ الْمَوْسُومِ بِـ "طَرِيقُ الْمُبْتَدِئِينَ: السُّؤَالُ وَالْجَوَابُ فِي كِتَابِ الطَّهَارَةِ مِنْ أَلْفَاظِ مُخْتَصَرِ أَبِي شُجَاعٍ" الَّذِي قَامَ بِإِعْدَادِهِ وَتَأْلِيفِهِ الطَّالِبُ الْمُجْتَهِدُ: أَبُو رَيْحَانَ أَفَنْدِي، أَحَدُ طُلَّابِ مَعْهَدِ النُّورِ الثَّانِي الْمُرْتَضَى بِبُلُولَاوَانْج مَالَانْج.

وَقَدْ جَاءَتْ فِكْرَةُ هَذَا الْكِتَابِ مِنْ إِعَادَةِ تَرْتِيبِ مَادَّةِ «كِتَابِ الطَّهَارَةِ» مِنْ مَتْنِ الْإِمَامِ أَبِي شُجَاعٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى، وَصِيَاغَتِهَا بِأُسْلُوبِ السُّؤَالِ وَالْجَوَابِ، مَعَ الِاسْتِعَانَةِ بِالْمُخَطَّطَاتِ وَالرُّسُومِ التَّوْضِيحِيَّةِ؛ تَيْسِيرًا لِلْفَهْمِ وَتَقْرِيبًا لِلْمَسَائِلِ الْفِقْهِيَّةِ إِلَى أَذْهَانِ الْمُبْتَدِئِينَ، حَتَّى يَكُونَ الْكِتَابُ عَوْنًا لَهُمْ عَلَى دِرَاسَةِ الْفِقْهِ وَضَبْطِ مَسَائِلِهِ بِطَرِيقَةٍ سَهْلَةٍ وَمُنَظَّمَةٍ.

وَإِنِّي لَأَتَقَدَّمُ بِخَالِصِ الشُّكْرِ وَالتَّقْدِيرِ عَلَى هَذَا الْجُهْدِ الْعِلْمِيِّ الْمُبَارَكِ، وَأَعُدُّهُ خُطْوَةً طَيِّبَةً فِي سَبِيلِ خِدْمَةِ التُّرَاثِ الْفِقْهِيِّ الشَّافِعِيِّ، وَإِحْيَاءِ عَادَةِ التَّأْلِيفِ وَالتَّصْنِيفِ بَيْنَ طُلَّابِ الْعِلْمِ فِي الْمَعَاهِدِ الْإِسْلَامِيَّةِ، سَائِلًا اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَجْعَلَ ذَلِكَ فِي مِيزَانِ حَسَنَاتِهِ.

وَإِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَسُرُّ الْمُرَبِّينَ أَنْ يَرَوْا ثِمَارَ الْعِلْمِ وَالِاجْتِهَادِ تَظْهَرُ فِي طُلَّابِهِمْ، وَهَذَا الْكِتَابُ شَاهِدٌ عَلَى ذَلِكَ. وَنَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَجْعَلَهُ نَافِعًا لِلطُّلَّابِ وَالدَّارِسِينَ، وَأَنْ يُبَارِكَ فِي مُؤَلِّفِهِ وَ كُلِّ مَنْ سَاعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يَكُونَ ذِكْرَى جَمِيلَةً خَالِدَةً لِمَعْهَدِ النُّورِ الثَّانِي الْمُرْتَضَى وَأَهْلِهِ.

وَفِي الْخِتَامِ، أَسْأَلُ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَنْفَعَ بِهَذَا الْعَمَلِ، وَأَنْ يَرْزُقَنَا جَمِيعًا الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَأَنْ يَجْعَلَ الْعِلْمَ حُجَّةً لَنَا لَا عَلَيْنَا.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ.

الْمُدِيرُ

 

الدُّكْتُورُ الْحَاجُّ فَتْحُ الْبَارِي


Share:

PERSAINGAN USAHA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit RA, Rasul SAW bersabda :

انَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

“Sesungguhnya sesuatu (rizki atau musibah) yang menimpamu tidak mungkin meleset darimu, dan sesuatu yang meleset darimu tidak mungkin akan menimpamu.” [HR Ahmad]

 

Catatan Alvers

 

Malang Berdarah, Pedagang Ayam di Madyopuro Tega Bacok Sesama Penjual, Bermula dari Sakit Hati. Begitulah judul berita mass media. Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (23/5/2026). Pelaku sempat mengobrak-abrik kios milik korban yang berujung pada pembacokan hingga menimbulkan dua korban luka. Pelaku dan korban ini sama-sama pedagang ayam potong. Karena persaingan bisnis, pelaku kemudian membacok korban dengan sebilah pisau sepanjang 34,5cm. [TribunJatim com]

 

Percekcokan yang demikian pada dasarnya tidak perlu terjadi jika masing-masing pelaku usaha berpegang teguh kepada prinsip “Rezeki sudah ditakar dan tidak akan tertukar” dan “Usaha bisa dicopy namun rezeki tidak bisa dipaste”. Lihatlah pada pesaingan toko retail modern yang begitu ketat hingga dikatakan “dimana ada ind*maret pasti disebelahnya ada alf*mart”. Lihat pula pada pedagang buah di pinggir jalan yang berderet panjang dengan dagangan yang sama namun tetap berdampingan bertahun-tahun. Pernah satu ketika saya pergi ke Mall khusus penjualan HP yang terdiri dari beberapa lantai. Sengaja saya pergi ke lantai paling atas dan paling pojok yang menurut asumsi saya tempat itu sangat tidak strategis. Saya bertanya : “Pak, anda berjualan di sini apa laku?”. Penjual itu menjawab : “kalau gak laku ya sudah gulung tidak dari dulu. Kalau sudah rezeki, ada saja pembeli”.

 

Prinsip di atas selaras dengan ajaran agama islam, di antaranya yang terdapat dalam hadits utama di atas, yaitu “Sesungguhnya sesuatu (rizki atau musibah) yang menimpamu tidak mungkin meleset darimu, dan sesuatu yang meleset darimu tidak mungkin akan menimpamu.” [HR Ahmad] Syeikh Adzim Abadi berkata : Sesuatu yang menimpa itu maksudnya seperti nikmat atau bencana, ta’at atau maksiat dari segala sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah, berupa bermanfaat untukmu ataupun yang merugikanmu. [Aunul Ma’bud] Hadits ini memerintahkan setiap pengusaha agar meyakini bahwa rizki yang telah menjadi jatahnya tidak akan lepas darinya dan apa yang bukan merupakan jatah rizkinya maka tidak akan ia dapatkan dengan cara apapun.

 

Dan hal ini menjadi prinsip keyakinan yang harus dimiliki setiap orang beriman, bahkan Al-Munawi menjelaskan bahwa hadits tersebut menjadi pengejawantahan dari rukun iman yang ke enam yaitu iman kepada takdir, “khayrihi wa sarrihi” (Takdir yang baik atapun yang buruk). Hadits utama di atas tidak hanya diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit, namun juga diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Mas’ud dan Hudzaifah ibnul Yaman. Lebih lengkap, Ibnud Daylami berkata : “Terbetik dalam diriku sesuatu keraguan tentang takdir. Lalu aku mendatangi Zaid ibn Tsabit dan bertanya kepadanya. Maka ia berkata: Aku mendengar Rasul SAW bersabda :  … Seandainya engkau memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu engkau infakkan di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya darimu sampai engkau beriman kepada takdir, dan mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak mungkin meleset darimu, dan apa yang meleset darimu tidak mungkin akan menimpamu. Lalu Nabi SAW bersabda lagi :

وَأَنَّكَ إِنْ مِتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ

 

Dan sesungguhnya jika engkau mati bukan di atas keyakinan ini, engkau akan masuk neraka.’” [HR Ahmad]

 

Setiap pelaku usaha hendaknya juga merenungkan apa yang disabdakan oleh Rasul SAW :

لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، وَلَا يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعَاصِي اللَّهِ، فَإِنَّهُ لَا يُدْرَكُ مَا عِنْدَ اللَّهِ إِلَّا بِطَاعَتِهِ.

“Tidaklah seseorang akan mati hingga ia mendapatkan jatah rezekinya dengan sempurna. Maka bertakwalah kepada Allah dan tempuhlah cara yang baik dalam mencari rezeki. Janganlah lambatnya rezeki mendorong kalian bekerja dengan maksiat kepada Allah, karena apa yang ada di sisi Allah tidak dapat diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.” [HR Baihaqi]

 

“Tempuhlah cara yang baik dalam mencari rezeki. Hadits ini mengingatkan penulis akan sebuah kisah. Ada dua toko bersebelahan, yang satu jual madu dan satunya lagi jual cuka. Menariknya toko yang menjual cuka itu laris berbanding terbalik dengan yang jual madu. Penjual madu menuduh penjual cuka menggunakan guna-guna dalam melariskan dagangannya. Penjual cuka menjawab : “Cuka yang aku jual memang rasanya kecut namun aku melayani pembeli dengan muka yang manis, sementara madu yang kamu jual memang rasanya manis namun kamu melayani pembeli dengan muka yang kecut. Pantesan saja pelangganmu pada kabur”.

 

Jika seseorang sudah tahu bahwa rizki itu sudah dijatah oleh Allah maka buat apa ia bekerja over time, bukankah hal itu tidak akan menambah rizkinya. Orang bijak berkata :  “Dunia itu bagaikan obat. Cara minumnya harus sesuai dengan resep dokter. Jika tidak sesuai maka bisa over dosis dan akan membahayakan keselamatan jiwanya”. Ibnu Athaillah As-sakandari berkata:

   إِجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَى إِنْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ مِنْكَ  

“Kerja kerasmu dalam mencari rizki yang telah dijamin Allah dan kelalaianmu dalam ibadah yang diperintahkan oleh-Nya adalah tanda kebutaan mata hatimu”.[Al-Hikam]

 

Maka bekerjalah sewajarnya dan beribadahlah dengan sungguh-sungguh karena usaha hanyalah ikhtiyar sementara rezeki itu hakikatnya berasal dari Allah SWT. Jangan halalkan segala cara, jangan main dukun dan pesugihan. Dalam lanjutan hadits utama, Rasul SAW bersabda : “Maka apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. [HR Ahmad]

 

Jika sudah bekerja dengan baik serta beribadah dengan sungguh-sungguh maka tunggulah waktunya. Orang bijak mengatakan :

كُلُّ شَيْءٍ يَنْتَظِرُ وَقْتَهُ، لَا وَرْدَةٌ تَتَفَتَّحُ قَبْلَ وَقْتِهَا وَلَا شَمْسٌ تُشْرِقُ قَبْلَ وَقْتِهَا اِنْتَظِرْ. الَّذِي لَكَ سَيَأْتِيكَ.

“Segala sesuatu menunggu waktunya. Bunga tidaklah mekar sebelum waktunya, dan matahari tidak pernah terbit sebelum waktunya. Maka bersabarlah menunggu. Apa yang menjadi bagian takdirmu pasti akan datang kepadamu.” [Tanpa Sumber]

 

Dan Nabi SAW pada akhir dari hadits utama bersabda :

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama dengan kesabaran, dan kelapangan itu bersama dengan kesempitan, dan sesungguhnya di dalam kesulitan ada kemudahan.” [HR Thabrani]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menyikapi persaingan usaha dengan positif dan senantiasa bekerja dengan cara yang baik serta beribadah dengan sungguh-sungguh.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

Share:

POSTINGAN

Powered by Blogger.

Pengunjung Ke-

Translate

ANNUR 2 YOUTUBE

YOUTUBE ODOH

Recent Posts