ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Tsauban
RA, Rasul SAW bersabda :
لَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ
“Tidaklah menambah umur kecuali kebaikan
(berbakti).” [HR Ibnu Majah]
Catatan Alvers
Ada seorang milyuner
berusia sekitar 60 tahun, ia berandai-andai bisa kembali muda meskipun dengan me-reset
kekayaannya. Ia rela kehilangan semua hartanya asalkan ia bisa kembali muda. Penyair
berkata :
أَلَا لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُودُ يَوْمًا * فَأُخْبِرَهُ بِمَا
فَعَلَ الْمَشِيبُ
andaikata masa
muda itu berulang satu hari saja akan kuberitahukan kepadanya apa yang telah
diperbuat oleh masa tua (penyesalan). [Jami’ud Durus]
Demikianlah, setiap
orang menginginkan umur yang panjang. Nabi SAW bersabda :
يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ
الْعُمُرِ
Anak Adam semakin
tua, dan dua perkara semakin besar juga bersamanya: cinta harta dan panjang
umur. [HR Bukhari]
Bahkan di antara manusia
ingin panjang umur tak terkira. Allah SWT berfirman :
يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ
Masing-masing
mereka ingin agar diberi umur seribu tahun. [QS Al-Baqarah : 96]
Namun apalah daya,
usia telah ditentukan. Allah SWT berfirman :
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
Setiap umat
mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta
penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan. [QS Al-A'raf :
34]
Suatu ketika Ummu Habibah
berdoa : "Ya Allah, berilah aku kenikmatan dengan (panjang umur bersama)
suamiku, Rasulullah SAW, ayahku Abu Sufyan, dan saudaraku Mu‘awiyah." Maka
Nabi SAW bersabda kepadanya: "Sesungguhnya
engkau telah meminta kepada Allah tentang ajal-ajal yang sudah ditentukan,
jejak-jejak (kehidupan) yang sudah ditetapkan, dan rezeki yang telah dibagi”.
لَا يُعَجِّلُ شَيْئًا مِنْهَا قَبْلَ حِلِّهِ وَلَا يُؤَخِّرُ مِنْهَا
شَيْئًا بَعْدَ حِلِّهِ
“Tidaklah Allah menyegerakan sesuatu darinya sebelum
waktunya, dan tidak pula menundanya setelah waktunya”.
Seandainya engkau
meminta kepada Allah agar Dia melindungimu dari adzab
neraka dan adzab kubur, itu
lebih baik bagimu." [HR Muslim]
Namun demikian di
sisi lain, Rasul SAW menyatakan bahwa umur itu bisa ditambah. Pertama, sebagaimana dinyatakan dalam hadits utama : “Tidaklah
menambah umur kecuali al-birr (kebaikan atau berbakti).” [HR Ibnu Majah] al-Kalabadzi
berkata : Yang dimaksud dengan Al-Birr adalah ketaatan kepada Allah Ta‘ala
dalam apa yang Dia perintahkan, menjauhi apa yang Dia larang, serta ridha
terhadap apa yang Dia tetapkan dan takdirkan…
وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِالْبِرِّ بِرَّ الْوَلَدِ
بِوَالِدَيْهِ
“Dan boleh jadi
yang dimaksud dengan al-Birr adalah berbaktinya seorang anak kepada kedua orang
tuanya”,
serta kebaikan
seseorang kepada anaknya, kerabatnya, tetangganya, dan orang-orang yang bergaul
dengannya. [Bahrul Fawa’id al-Musamma bi Ma'anil Akhyar]
Kedua, Rasul SAW bersabda :
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ
فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Barang siapa yang ingin diluaskan
rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi."
[HR Bukhari]
Ketiga, Rasul SAW bersabda
:
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّ مُتَابَعَةً بَيْنَهُمَا
تَزِيدُ فِي الْعُمُرِ وَالرِّزْقِ
"Dekatkanlah
antara (pelaksanaan) haji dan umrah, karena sesungguhnya melakukan hal itu
dapat menambah umur dan rezeki." [HR Bukhari]
Keempat, Rasul SAW bersabda :
إِنَّ صَدَقَةَ الْمُسْلِمِ تَزِيدُ فِي الْعُمُرِ
"Sesungguhnya sedekah seorang Muslim
menambah umur." [HR Thabrani]
Kelima, Rasul SAW bersabda :
صِلَةُ الرَّحِمِ، وَحُسْنُ الْخُلُقُ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَيَزِدْنَ
فِي الْأَعْمَارِ
"Menyambung silaturahmi dan akhlak
yang baik dapat memakmurkan negeri (rumah-rumah) dan menambah umur." [HR
Baihaqi]
Ternyata usia seseorang
bisa di perpanjang dengan beberapa usaha di atas. Lantas pertanyaannya akankah
usia akan bertambah sementara soal usia adalah takdir yang telah di tetapkan
Allah SWT? Memahami hal tersebut terdapat dua kemungkinan makna, pertama
penambahan usia secara kwalitas dan kedua penambahan usia secara kwantitas. As-Sindy
berkata : Pertama, karena orang yang berbakti (al-barr) meskipun umurnya pendek
namun ia akan memperoleh manfaat yang lebih
besar dibandingkan orang lain yang (umurnya) panjang tetapi
tidak berbakti. [Hasyiyah As-Sindy] Hal ini sebagaimana Syekh Ibnu Athaillah berkata :
رُبَّ عُمُرٍ اتَّسَعَتْ آمادُهُ وَقَلَّتْ
أمْدادُهُ، وَرُبَّ عُمُرٍ قَليلَةٌ آمادُهُ كَثيرَةٌ أمْدادُهُ.
"Betapa
banyak umur yang panjang namun sedikit manfaatnya
sementara betapa banyak umur yang pendek namun banyak
manfaatnya." [al-Hikam]
Pada pengertian
ini, umur manusia itu tetap, tidak bertambah dan sebaliknya tidak berkurang. Maka
dengan demikian, suatu pembunuhan tidak
mengurangi jatah umur orang yang
terbunuh. Imam Nawawi berkata :
وَاعْلَمْ أَنَّ مَذْهَبَ أَهْلِ الْحَقّ أَنَّ الْمَقْتُولَ مَاتَ بِأَجَلِهِ
وَقَالَتْ الْمُعْتَزِلَةُ قُطِعَ أَجَلُهُ
"Ketahuilah
bahwa mazhab Ahlul Haq (Ahlus Sunnah) berpendapat bahwa orang yang dibunuh itu
mati sebab ajalnya (yang telah ditentukan telah tiba). Sedangkan Mu‘tazilah
berkata: ajal dari orang yang dibunuh
itu terpotong (dari masa usia yang telah ditentukan)." [Al-Minhaj Syarah Muslim]
As-Sindy berkata :
“Kedua, umurnya benar-benar ditambah secara hakiki,
dalam artian seandainya ia tidak berbakti, niscaya umurnya akan lebih pendek
daripada kadar yang telah ditetapkan baginya ketika ia berbakti. Bukan berarti
ia menjadi lebih panjang umur dibandingkan orang yang tidak berbakti secara
mutlak. Kemudian, perbedaan ini hanya tampak pada takdir yang bersifat mu‘allaq
(tergantung/bersyarat), bukan pada apa yang telah diketahui oleh Allah SWT sebagai
ketetapan akhir, karena yang demikian itu tidak menerima perubahan sebagaimana Allah
SWT berfirman : “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa
yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.” Demikian pula
sabda: “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa.” [Hasyiyah As-Sindy]
Imam Ghazali
berkata : “Lantas Apa faedah doa, jika ketetapan (qadla’) tidak dapat ditolak? Maka
ketahuilah bahwa
أَنَّ مِنْ جُمْلَةِ الْقَضَاءِ رَدَّ الْبَلَاءِ بِالدُّعَاءِ
“Termasuk bagian
dari ketetapan itu sendiri adalah ditolaknya bala dengan doa”.
Sesungguhnya doa itu
menjadi sebab dari terhindarnya bala’ dan datangnya rahmat, sebagaimana benih
menjadi sebab tumbuhnya tanaman dari bumi, dan sebagaimana perisai menjadi
sebab dari selamatnya seseorang dari anak panah.” [Hasyiyah As-Sindy]
Wallahu A’lam.
Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk ikhtiyar dengan berdoa dan melakukan berbagai amal
baik diatas sehingga kita menjadi insan terbaik yang berumur panjang dan banyak
beramal kebaikan,
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul
Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren
Wisata
AN-NUR 2 Malang
Jatim
Ngaji dan Belajar
Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok
Itu Keren!
NB.
Jangan pelit
berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka
ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan
(3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]














